MengunjungiAnak
Sementara itu, salah seorang yang berlibur untuk mendapat vaksin adalah Suli Asifatami Razak. Dia terbang ke Amerika Serikat hingga mendapatkan dua dosis vaksin Pfizer di negeri paman Sam itu. “Anak saya kuliah di sini (AS). Kami memang sudah berencana mengunjungi mereka, dan di AS juga ada vaksin gratis. Jadi saya pikir, kenapa enggak sekalian saja?” katanya seperti dikutip dari detik.com Rabu 21 Juli 2021.
Seperti dikutip dari ABC Indonesia, Suli adalah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang divaksinasi sambil liburan. Salah satu perusahaan tur yang mempromosikan paket liburan ini menyebutnya “AirV&V”. Suli menganggap tidak ada yang salah vaksin di luar negeri. “Enggak ada yang salah kalau mau divaksinasi di luar negeri. Semuanya kembali ke pilihan masing-masing, menurut saya,” katanya.
Dia menjawab anggapan vaksinasi di luar negeri adalah hak istimewa orang kaya. Sebab, di Indonesia vaksinasi memakai vaksin Sinovac yang sempat diragukan kemanjurannya melawan Covid-19. Sekarang pemerintah menggencarkan vaksinasi termasuk dengan vaksin Sinovac tersebut.
“Bukan berarti kita tidak mau divaksinasi di Indonesia. Saya cuma mau yang terbaik untuk keluarga,” katanya.
Program vaksinasi ini sempat simpang siur sebab ada orang yang sudah divaksin dua kali pun masih bisa positif Covid-19. Hal itu diperparah dengan sistem kesehatan Indonesia yang rapuh hingga kondisinya terus memburuk akibat varian Delta. Akibatnya Indonesia menjadi episentrum baru pandemi Covid-19. Pada 18 Juli 2021, misalnya Indonesia melaporkan 44.721 kasus baru dan 1.093 kematian akibat COVID-19.
Jumlah kematian sudah meningkat 10 kali sejak awal Juni, namun data nasional melaporkan jumlah yang jauh di bawah sebenarnya karena rendahnya tes dan lemahnya sistem pelacakan kontak. Dari awal vaksinasi di Indonesia dimulai, pemerintah sangat bergantung pada vaksin Sinovac yang dibuat di China. Vaksin tersebut diberikan untuk tenaga kesehatan, yang semakin banyak di antaranya terinfeksi COVID-19 kembali lalu meninggal dunia.










