Camping Ground Glagah Wangi: Berkemah Dulu di Sini Sebelum Mendaki Gunung Arjuno

oleh

Efendi menjelaskan, para tamu yang menginap akan diajak untuk berinteraksi dan mengenali setiap vegetasi yang ditanam di area Glagah Wangi. Beberapa tanaman yang tumbuh di area itu meliputi senggani, tumbuhan pakis, dan ciplukan. “Tanaman liar itu dibiarkan tumbuh alami. Seperti ciplukan dan senggani sendiri juga jarang ditemui. Senggani ini tanaman liar yang memiliki manfaat sebagai tanaman obat,” terang Efendi sembari menunjuk tumbuhan senggani yang dipenuhi bunga berwarna ungu yang berada di area camping ground.

Selain itu, ada pula tanaman keras yang sengaja ditanam di lokasi itu. Seperti bibit pohon matoa dan klengkeng. Tanaman keras ini sebagai upaya konservasi sumber air dengan tanaman buah bernilai ekonomis.

Tanaman lainnya yang dibudidayakan yakni kopi arabika Arjuno. Kopi-kopi itu dibudidayakan oleh warga setempat. Proses hulu hingga hilir termasuk pemasaran dikerjakan secara berkolaborasi oleh anggota-anggota Komunitas Jaguar.

Efendi menuturkan, pengembangan wisata alam Camping Ground Glagah Wangi bukan hanya memikirkan orientasi ekonomi. Lebih dari itu ada upaya melestarikan kawasan sebagai basis menggerakkan sumber-sumber ekonomi alternatif, terutama bagi warga setempat. Apalagi mata pencaharian mereka sangat lekat dengan lingkungan hutan. Kerusakan hutan sama saja dengan ancaman bagi sumber penghidupan mereka.

Dulunya, sebelum tanah lapang itu dikelola sebagai lokasi perkemahan sangat marak perburuan satwa liar. Karena di lokasi itu menjadi habitat beberapa satwa seperti ayam hutan, rajawali, burung prenjak, jalak kebo hingga landak.

Sejak dibukanya camping ground di area itu, aktivitas perburuan satwa tak lagi ditemui. Dan jika pun ada, pengelola akan memberikan teguran untuk menghentikan. Namun jika masih saja nekat, personel dari Komunitas Jaguar merampas peralatan pemburu dan melaporkan kepada pihak Perhutani.

“Sangat disayangkan kalau satwa-satwa itu punah. Karena itu warisan bagi anak cucu. Lenyapnya satu satwa merusak keseimbangan ekosistem,” seru Efendi. (ndc)