HONGKONG|DutaIndonesia.com – Pandemi Covid-19 belum berakhir di Hongkong. Bahkan melonjak lagi. Gelombang ke-4 ini membuat Pemerintah Hongkong mengisolasi banyak warganya yang terkena Covid-19.
“Banyak lagi yang kena dan tempat karantina penuh. Nggak tahu kenapa kok meledak lagi,” kata Ketua PCI Muslimat NU Hongkong Macao, Hj. Fatimah Angelia, Sabtu (3/12/2022). Fatimah juga bekerja sebagai staf di salah satu pusat karantina Covid-19 di Hongkong.
Fatimah lalu menceritakan kunjungan anggota DPR RI Dr Hj Kurniasih Mufidayati MSi ke markas Muslimat NU Hongkong Macao. Prosesnya cukup rumit sebab Pemerintah Hongkong sangat ketat mengawasi pergerakan orang.
“Beliau tiba di Hongkong Sabtu, 26 November 2022 Subuh. Dan Ahad, kembali ke Jakarta. Kunjungan yang singkat dan padat. Ya untuk tombo kangen kepada para PMI di Hongkong katanya. Beliau juga mengunjungi Masjid TST, Masjid Wan Chai, markas MUSLIMAT NU , Victoria Park dan lainnya,” kata Hj Fatimah.
Fatimah sempat terkejut saat tahu anggota DPR RI tersebut hendak ke Hongkong. Pasalnya kondisi Hongkong masih belum membaik dari Covid-19.
“MasyaAllah Ibu Kurniasih mau ke Hongkong padahal situasi di Hongkong masih ruwet. Perjuangan banget beliau saat ke Hongkong kemarin. Bayangkan saja, baru mendarat dicolok dulu PCR, setiap hari Antigen, hari ke 3 PCR, ga boleh makan di resto dan dibatasi kumpul kumpul 12 orang. Beliau mampir ke Markas Muslimat katanya sich kangen dan pingin mengetahui kendala apa yang dialami PMI. Kunjungan itu sudah direncanakan Januari 2020 tapi tertunda sampai kemarin karena adanya Covid,” katanya.
Kurniasih Mufidayati merupakan politisi PKS lahir di Pekalongan 19 Februari 1970 dan anggota DPR dari Dapil DKI Jakarta. Kurniasih juga Dosen MIA Fisip Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Seperti dilaporkan Bloomber, epidemi Hongkong telah menunjukkan kemunduran yang cepat, namun para ahli mengatakan gelombang keempat kali ini tidak dapat dihindari,.
Sekretaris Pangan dan Kesehatan, Sophia Chan, mengatakan, “Kami telah melakukan serangkaian tindakan untuk memperkuat kontrol kami, tetapi kami masih melihat situasi ini semakin buruk,” tambahnya.
Keadaan menjadi lebih buruk terjadi dua hari sebelum kota bekas koloni Inggris itu hendak meluncurkan Travel Bubble udara dengan orang kementerian keuangan Singapura. Acara itu akhirnya ditunda
Gelembung ini akan memudahkan penduduk yang tinggal di dalamnya melakukan perjalanan secara bebas, dan menghindari kewajiban karantina mandiri dan terbuka untuk semua penduduk.
Travel Bubble tersebut akan ditangguhkan sementara, selama dua minggu setelah rata-rata pergerakan tujuh hari kasus lokal yang tidak dapat dilacak di kota tersebut naik di atas angka lima. (gas)














