Dampak Demo Penembakan Nahel Merzouk, Prancis Masih Alami Resesi

oleh

PARIS| DutaIndonesia.com – Aksi demonstrasi besar-besaran di Prancis memukul sektor bisnis. Selain dampak kerugian secara langsung akibat penjarahan yang dilakukan para demonstran, kerusuhan di Paris yang dipicu oleh penembakan fatal yang dialami seorang remaja 17 tahun bernama Nahel Merzouk oleh seorang polisi saat melakukan razia pada 27 Juni 2023 lalu itu menyebabkan orang khawatir keluar rumah.
 
Sektor pariwisata termasuk yang terpukul akibat kejadian tersebut. Ekonomi Prancis mengalami kerugian mencapai Rp 16 triliun lebih. Hingga sekarang sektor bisnis di negeri itu belum pulih.

“Kerusuhan saat ini sudah mereda. Tapi dampaknya masih terasa. Kami merasakan sedikit resesi setelah aksi demonstrasi kemarin,” kata Agus “Pego” Kurniawan, pengusaha ekspor impor asal Indonesia,  yang membuka toko di Villeneuve-lès-Maguelone, sebuah kota di Prancis Selatan, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (12/7/2023). Dua toko milik Agus, Escale à Java dan Escale a Bali, saat ini agak berkurang pembelinya
.
“Penurunannya sekitar 20-30%. Tapi itu sudah tiga bulan terakhir. Dan diperparah oleh terjadinya kerusuhan kemarin,” katanya.

Agus mengatakan, kerusuhan tidak sampai merembet ke kota tempatnya tinggalnya, Montpellier. Sebab, aksi massa terkonsentrasi di kota-kota besar saja.

“Ya, saya di Montpellier, tapi kita tinggal sedikit jauh sekitar 15 menitan di luar Montpellier. Tempat kita nggak ada kerusuhan karena terkonsentrasi di kota besar kerusuhannya,” katanya.

Sementara itu, asosiasi bisnis Prancis, MEDEF, menyatakan, kerusuhan itu telah menyebabkan kerusakan senilai lebih dari 1 miliar euro atau setara Rp 16,3 triliun. Juru bicara MEDEF mengungkapkan bahwa para pengunjuk rasa telah menjarah sekitar 200 toko dan menghancurkan 300 cabang bank dan 250 pertokoan kecil lain.

Pemerintah Prancis juga sedang mempertimbangkan cara-cara untuk membantu bisnis yang paling terkena dampak kerusuhan. Kabar itu sesuai laporan BFMTV mengutip Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire.

Selain itu, pemerintah negara itu juga mempertimbangkan untuk membatalkan atau menunda kontribusi jaminan sosial dan pajak, serta bisnis akan diberikan waktu sekitar 30 hari untuk mengajukan klaim asuransi.

Namun, klaim tersebut diprediksi berjumlah kurang dari 1 miliar euro yang menjadi perkiraan angka kerugian, menurut DBRS Morningstar, sebuah lembaga pemeringkat kredit.  DBRS menyebutkan banyak perusahaan tidak akan sepenuhnya dikompensasi atas kerugian mereka.

“Kami percaya total kerugian yang diasuransikan untuk industri asuransi Prancis akan tetap jauh di bawah angka 1 miliar euro,” kata DBRS Morningstar, mencatat bahwa pemerintah Prancis menanggung sebagian tanggung jawab atas sebagian kerugian.

“Kerugian dan gangguan pada bisnis akibat vandalisme, penjarahan, dan potensi jam malam tidak mungkin ditanggung oleh pemerintah Prancis,” sebut lembaga itu.

Gelombang kerusuhan meletus setelah Nahel Merzouk yang berusia 17 tahun ditembak mati saat berhenti di jalan pinggiran kota Paris. Para pengunjuk rasa di kota-kota di seluruh Prancis turun ke jalan pada hari-hari berikutnya untuk mengungkapkan kemarahan mereka atas bagaimana komunitas yang terpinggirkan di negara itu diawasi ketat. Mereka mempertanyakan apakah ras merupakan faktor dalam kematian Merzouk.

Banyak kalangan menilai, isu ras (SARA) sangat mahal. Karena itu, jangan sampai negara lain mengalami kasus yang sama dengan Prancis.   Negara yang dipimpin Emmanuel Macron itu harus berusaha keras memulihkan dampak kerusuhan yang diduga bermuatan rasis tersebut. Merzouk merupakan remaja keturunan Aljazair. (gas/wis) 

No More Posts Available.

No more pages to load.