Derita Sri Lestari, PMI Hongkong Kena Kanker Parah: Dibantu Majikan, Ketua Muslimat NU Hongkong, Hingga Gubernur Jatim

oleh
dua PMI hongkong sakit
Sri Mulyani dan Sri Lestari saat dijenguk pengurus Muslimat NU Hongkong.

 

Sri Lestari, pekerja migran Indonesia (PMI) di Hongkong, menderita kanker rahang parah di bagian wajahnya. Setelah beberapa kali operasi di Hongkong, Sri Lestari sekarang harus menjalani serangkaian operasi di RSUD Dr Soetomo Surabaya dengan biaya ditanggung BPJS Kesehatan.

Oleh Gatot Susanto

SAAT dihubungi DutaIndonesia.com dan Global News di rumah singgah YKI (Yayasan Kanker Indonesia) di Surabaya, Sri Lestari baru saja menjalani operasi penutupan lubang di pipinya sebelah kanan. Sebagian wajahnya itu ditutup perban. Selang infus masih terpasang melalui lubang hidungnya. Kondisinya sungguh memprihatinkan. Namun dia bisa bicara. Bahkan bermain gawai.

“Kemarin dioperasi ditambal flap-nya tapi jahitan di bawah telinga jebol, plat penyangga-nya kelihatan. Dokter bilang kalau kankernya sudah menyebar ke mana-mana. Dokter dan pihak rumah sakit tidak melakukan kemoterapi. Saya masih menunggu yang selanjutnya apa. Belum tahu bagaimana selanjutnya. Sebagian jahitan belum dilepas. Saya pasrah saja nasib saya,” katanya.

Meski biaya rumah sakit ditanggung BPJS Kesehatan, kata dia, kadang Sri Lestari tetap harus mengeluarkan uang transportasi dan uang sewa penginapan. Dia membenarkan sering kali untuk transportasi dibantu oleh Dinas Sosial, tapi kadang harus mengeluarkan biaya sendiri saat petugas Dinsos sibuk sehingga tidak bisa mengantarnya ke Surabaya.

“Untuk rumah sakit sudah ada BPJS, tapi transportasi kadang menyewa sendiri kalau Dinsos yang biasa nganterin sibuk. Dan rumah singgah juga bayar,” kata Sri Lestari.

Namun dia bersyukur banyak orang sudah membantunya. Saat dalam perawatan di rumah sakit Hongkong, dia dibantu majikannya yang baik. PMI di Hongkong juga memberi support. Khususnya Ketua PCI Muslimat NU Hongkong-Macau Hj Siti Fatimah Angelia yang memberi tahu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa soal penyakitnya hingga Dinas Sosial turun tangan membantu.

“Beliau menyuruh Dinsos membantu transportasi dari Trenggalek ke Surabaya dan pernah sekali beliau memberi sembako untuk keluarga saya, kami sangat berterimakasih kepada beliau. Ummi Fatimah di Hongkong yang memintakan bantuan ke Ibu Gubernur Khofifah untuk saya. Ummi Fatimah sendiri kadang juga memberi bantuan uang, Alhamdulillah untuk beli susu dan obat. Saya hanya makan susu saja,” ujarnya.

Sri Lestari berharap Pemerintah lebih peduli kepada penderita kanker. Sebab meski ditanggung BPJS Kesehatan, masih banyak keperluan lain yang membutuhkan biaya besar.

“Semoga pemerintah lebih peduli kepada kami para penderita kanker, karena di rumah singgah banyak yang mengeluhkan biaya transportasi mahal. Dan saya pun mengalaminya sampai harus jual ayam mentok untuk membayar biaya antar jemput. Saya sendiri sangat beruntung bertemu Ummi Fatimah sehingga beliau menyampaikan kepada Ibu Khofifah tentang keadaan saya dan akhirnya dari pihak Dinsos kadang ada yang antar jemput gratis kalau mereka tidak sibuk. Tapi bagaimana dengan yang lain yang tak kenal siapa-siapa? Kasihan kan…!” katanya.

Sri sudah mengalami hidup susah sejak jadi PMI di Hongkong. Dia menyarankan agar para PMI lain menjaga kesehatan dan menabung hasil jerih payahnya bekerja di negeri orang untuk menghadapi kondisi darurat, seperti keperluan untuk berobat atau menyekolahkan anak.

“Operasi di sini sama di Hongkong sudah 8 kali. Sekarang kalau ke depannya saya belum tahu bagaimana. Entah mau diapakan lagi, saya sudah pasrah dengan nasib,” katannya berlinang air mata.

Belajar dari pengalamannya, Sri tak henti menasihati sesama PMI. Bukan hanya di Hongkong tapi juga PMI yang bekerja di negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi.

“Para saudara seperjuanganku, bolehlah membantu keluarga menjadi PMI di luar negeri. Jangan habiskan semua uang untuk keluarga. Tabung sedikit untuk diri sendiri , sebab di kala kita jatuh, kita masih punya pegangan misal saat sakit, masih ada uang untuk membeli obat,” katanya.

Saat dihubungi DutaIndonesia.com dan Global News, Ketua PCI Muslimat NU Hongkong Macau Hj Siti Fatimah Angelia mengaku senang bisa membantu para PMI yang menghadapi kesulitan di negeri bekas koloni Inggris itu.

Bersama ibu-ibu Muslimat Hongkong lain, dia berusaha membantu saudara sesama WNI di Hongkong, termasuk bila ada yang meninggal dunia. Fatimah merupakan satu-satunya petugas pemulasaran jenazah asal Indonesia di Happy Valley Muslim Cemetery Hongkong.

Sebagai bagian dari Islamic Union dan Women Muslim Association Of Hongkong, dia bertugas memandikan jenazah setiap perempuan asal Indonesia yang meninggal di Hongkong. Selain itu juga mengunjungi WNI yang menghadapi masalah hukum di negeri tersebut.

“Saat tahu kondisi Sri Lestari, saya kontak Ibu Ketum (Muslimat NU). Beliau langsung membantu Sri, warganya yang asal Trenggalek itu. Tanpa liputan media, tanpa membuat konten, dan sejenisnya. Ibu Khofifah membantu Sri langsung begitu tahu Sri akan pulang ke Indonesia dalam kondisi sakit parah kena kanker,” katanya sambil menyebut salah satu gubernur di Jawa yang rajin membuat konten media sosial untuk mengangkat pamornya.

“Saya sempat sedih, Ibu Khofifah dibandingkan dengan gubernur konten itu,” ujarnya lagi.

Fatimah bersama ibu-ibu Muslimat NU sempat menjenguk Sri Lestari di RS Hongkong. Saat itu Sri Lestari baru saja menjalani operasi kanker yang ke-6. Saat dikunjungi ibu-ibu Muslimat Hongkong, Sri juga terbaring lemah di ranjang RS.

Dia sudah menjalani perawatan di RS selama 5 bulan. Kala itu dia mengaku ingin sekali dijenguk oleh keluarganya dari Trenggalek. Namun, banyak kendala sehingga tidak kunjung terlaksana.

“Penginnya ada keluarga yang bisa datang menjenguk. Saya coba minta bantuan ke Ibu KIP (Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Red.). Satu badan sudah ditempel-tempel (dioperasi).

Yang paling sakit bahu sebelah kiri atas katanya. Karena habis diambil kulitnya untuk nempel yang di rahang,” katanya.
Fatimah juga menjenguk Sri Mulyani asal Ponorogo yang menjalani perawatan di Queen Elizabeth Hospital. “Saat itu dia nggak pernah sadar,” katanya. (*)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.