Korea termasuk negara nomor 7 sebagai importer produk-produk kulit, sedangkan Indonesia menduduki urutan ke-12 sebagai eksporter produk kulit ke Korea. Jauh di bawah negara tetangga kita di ASEAN yakni Vietnam yang menduduki posisi ke-4 ekporter terbesar produk kulit ke Korea Selatan.
“Melihat hal ini, saya berharap guberbur (Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Red.) atau bupati serta pelaku usaha bisa bersama-sama berkolaborasi agar produk-produk Indonesia bisa bersaing memasuki pasar Korea dan dunia. Hal ini bisa berupa pendampingan peningkatan kualitas produk, administrasi berkas, dan menjagakeseimbangan harga,” kata Dimas.
Program Kementerian Perdagangan yang akan mencetak 500 ribu ekporter UMKM di tahun 2030 dan juga perjanjian antara Indonesia dan Korea, kata Dimas, juga akan membuka jalan bagi para UMKM yang ingin memasuki pasar internasional khususnya di Korea Selatan. Peluang besar ini harus segera dimanfaatkan oleh UMKM di tanah air.
“Kendala yang sering ditemui saat ingin melakukan ekspor, adalah, keunggulan produk yang masih perlu ditingkatkan, kurangnya informasi tentang peraturan negara destinasi ekspor, informasi pasar, legalitas usaha, branding dan packaging produk. Namun hal ini bisa diatasi dengan mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya seperti lembaga perwakilan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia atau yang dikenal dengan ITPC. Saat ini sudah ada 19 ITPC di berbagai negara, salah satunya di Korea Selatan,” katanya.
Salah satu peluang bisnis itu di bidang kuliner. Banyak warung makan Indonesia di Korea, kata dia, menjadi salah satu bentuk pengenalan kuliner Indonesia ke warga Korea. “Bahkan beberapa warung Indonesia yang ada di negeri ini dimiliki oleh orang Korea yang memang senang dengan makanan Indonesia,” ujarnya.
Untuk itu, para eksporter, kata Dimas, bisa mendapatkan informasi melalui ITPC Busan sehingga dapat meningkatkan peluang memasuki pasar di Korea. “Kami di Perpika (Persatuan Pelajar Indonesia di Korea) juga turut berpartisipasi mendorong para UMKM bisa menembus pasar Korea. Caranya, dengan mengadakan seminar dan diskusi dengan para praktisi serta pembuat kebijakan,” katanya.














