ISTANBUL| DutaIndonesia.com – Para aktivis Global Sumud Flotilla akhirnya dipulangkan ke nagaranya masing-masing termasuk 9 warga negara Indonesia. Namun Panitia Global Sumud Flotilla mengungkap dugaan mereka mengalami kekerasan berat setelah ditahan aparat Israel. Selain penghinaan dan kekerasan fisik, dilaporkan terjadi kasus pelecehan seksual hingga pemerkosaan.
Jurnalis Republika Bambang Noroyono yang ikut diculik mengungkapkan, ada sekitar 20 peserta yang dimintai keterangan di Istanbul soal terjadinya pemerkosaan terhadap para aktivis. “Perempuan dan laki-laki korbannya,” kata dia melaporkan dari Istanbul, semalam.
Ia menuturkan, seluruh peserta mengalami penggeledahan tanpa busana oleh pasukan Israel setelah dibawa ke Pelabuhan Ashdod kemudian ke Penjara Ketziot di wilayah yang diduduki Israel. Pada saat itu terjadi banyak pelecehan seksual oleh aparat Israel.
Menurutnya, korban pelecehan tersebut tak sedikit dari negara-negara Eropa yang selama ini menjadi sekutu Israel. Sementara kekerasan verbal selama prosesi ini dialami kebanyakan peserta yang diculik Israel.
Bambang Noroyono mengalami kekerasan verbal tersebut namun tak sampai kekerasan seksual secara fisik.
Seorang ekonom Italia yang ditahan di armada tersebut, mengatakan kesaksian serupa kepada kantor berita Reuters. “Kami ditelanjangi, dilempar ke tanah, ditendang. Banyak dari kami disetrum, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa tidak diberi akses ke pengacara.”
Jaksa Italia sedang menyelidiki kemungkinan kejahatan, termasuk penculikan, penyiksaan dan kekerasan seksual.
Dalam pernyataannya, panitia Global Sumud Flotilla menyebut sedikitnya terjadi 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, terhadap peserta flotilla.
Selain itu, sejumlah peserta dilaporkan ditembak menggunakan peluru karet dari jarak dekat. Panitia juga menyebut puluhan orang mengalami patah tulang akibat tindakan kekerasan yang dilakukan aparat Israel.
Menurut panitia, penderitaan yang dialami peserta Global Sumud Flotilla hanyalah gambaran kecil dari kekerasan yang setiap hari dialami warga Palestina di wilayah pendudukan.
“Ketika perhatian dunia tertuju pada penderitaan para peserta kami, kami ingin menegaskan bahwa ini hanyalah secuil dari brutalitas yang setiap hari dipaksakan Israel terhadap tahanan Palestina,” demikian pernyataan panitia.
Panitia juga menyerukan masyarakat internasional untuk tidak berhenti pada sekadar pernyataan kecaman. Mereka meminta tekanan global terus ditingkatkan guna menghentikan kekerasan kolonial yang disebut terus berlangsung di Palestina.
Seruan itu mencakup desakan kepada pejabat publik, penguatan gerakan boikot dan divestasi, hingga aksi langsung sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina.
“Jika momen ini dapat menjadi titik kebangkitan, maka bergabunglah bersama kami di manapun Anda berada dan bangkitlah agar kita bisa mengakhiri pendudukan, kolonialisme, dan kekerasan ini,” ujar panitia.
Mereka menutup pernyataannya dengan seruan pembebasan Palestina dan penghentian segera agresi Israel di wilayah tersebut.
Sebelumnya, media AS, The New York Times (NYT) menerbitkan laporan mengenai maraknya pemerkosaan warga Palestina dalam tahanan Israel. Laporan yang ditaruh di kolom opini itu merupakan hasil penelusuran jurnalis perang kawakan Nicholas Kristof.
Laporan serupa sebelumnya juga diungkap Middle East Eye bulan lalu melalui dokumen berjudul “Sexual Violence and Forcible Transfer in the West Bank: How the Exploitation of Gender Dynamics Drives Displacement” yang diterbitkan West Bank Protection Consortium.
Kelompok tersebut mendokumentasikan sedikitnya 16 kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan pemukim dan tentara Israel.
Kristof menyoroti bahwa dehumanisasi terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun dinilai menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kekerasan itu terjadi.
Ia menilai jumlah kasus sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar karena korban kekerasan seksual di masyarakat Palestina yang konservatif sering enggan berbicara secara terbuka akibat stigma sosial.
Sebagian besar korban yang diwawancarai Kristof menolak identitas mereka dipublikasikan. Namun menurutnya, pola kesaksian yang muncul menunjukkan adanya persoalan sistematis.
Kristof turut mengutip berbagai laporan organisasi nonpemerintah yang mendokumentasikan dugaan kekerasan seksual oleh aparat Israel, di antaranya Euro-Med Monitor, Save the Children, Committee to Protect Journalists, dan B’Tselem.
Ia juga mewawancarai pengacara Israel yang mengakui bahwa praktik kekerasan seksual terhadap warga Palestina terjadi secara luas.
Sementara itu Kedutaan Besar Besar Republik Turki di Indonesia dengan senang hati menyampaikan, pemerintah Republik Turki memfasilitasi pembebasan dan kepulangan aktivis Indonesia dengan selamat. Sembilan warga negara Indonesia (WNI), yang ditahan setelah serangan terhadap Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 oleh pasukan militer Israel pada 18 Mei 2026, telah tiba di Istanbul dengan selamat pada 21 Mei 2026.
Duta Besar (Dubes) Turki untuk Indonesia, Talip Kucukcan mengatakan, menyikapi penahanan WNI tersebut, pemerintah Republik Turki dan Republik Indonesia (RI) bekerja sama dan berkoordinasi untuk pembebasan para tahanan. “Negara Turki sepenuhnya mendukung proses repatriasi warga negara Indonesia dan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan,” kata Talip dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Menurut dia, Turki telah mengirimkan tiga pesawat yang disediakan oleh Turkish Airlines ke Israel untuk mengangkut kepulangan yang aman bagi seluruh anggota organisasi nonpemerintah dari 41 negara yang berpartisipasi dalam GSF 2.0. Talip menyatakan, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Turki menyatakan, 422 relawan bantuan kemanusiaan telah dipulangkan dengan selamat dan cepat.
“Sembilan warga negara Indonesia termasuk di antara mereka telah kembali ke Turki. Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Istanbul bertemu dengan warga negara Indonesia tersebut saat kedatangan mereka dengan selamat,” ucap Talip. (rpk)













