Pasien Rewel, Mengapa?
Selain itu, ketidaksepakatan antara pasien atau keluarganya dengan dokter dalam hal diagnosis, pemeriksaan, dan terapinya.
Gatot mengakui, masih banyak pasien kita yang bersikap rewel terhadap dokter lokal, tapi terhadap dokter luar negeri manut saja.
Amang mengatakan, di masa pandemi ini orang sangat care terhadap kesehatan. Saatnya yang ke luar negeri ini kita stop. Teknologi yang dikembangkan di sini tidak ecek-ecek lo. Sudah waktunya kita bisa menarik pasien dari Malaysia, Brunei dan sekitarnya, tandasnya.
Senada dengan Amang, CEO Medicaltourism.id, dr Niko Azhari Hidayat SpBTKV, menyebut, pandemi ini menjadi momen untuk meningkatkan nasionalisme dengan berobat di dalam negeri saja. Ketika ke mana-mana kita jadi dibatasi karena adanya pandemi, ini merupakan saat yang tepat.
Sejak sekarang harus disiapkan, sehingga tahun depan ketika situasi sudah benar-benar terbuka kita semua sudah siap, ujarnya.
Mengutip International Medical Tourism Journal (IMTJ), Niko menyebut setiap tahun lebih kurang 3 juta orang Indonesia berobat ke luar negeri dan mengeluarkan biaya sekitar Rp 100 triliun.
Mendasarkan riset, sebagian besar dari mereka memilih menggunakan layanan medis di Singapura, Malaysia, Korea, Eropa, bahkan Amerika. Selain kompetensi dan fasilitas medis, destinasi medis tersebut juga menawarkan layanan dan pengalaman traveling yang menarik.
Latar belakang itulah yang menjadi ide dibentuknya Medical Tourism Indonesia, platform digital yang menghubungkan ekosistem wisata dan industri medis di Indonesia. Kami membantu, memfasilitasi dan mempromosikan Healthcare Travel Industry yang ada di Indonesia untuk dikenal di dalam maupun luar negeri, kata Niko.













