Biaya Terjangkau
Dr Niko mengungkap, melalui aplikasi Medical Tourism Surabaya yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga, masyarakat akan terbantu ke mana untuk mendapatkan layanan kesehatan. Nggak usah jauh-jauh luar negeri, kita rebut pasar Surabaya dulu, lalu Jawa Timur dan Indonesia Timur, ujar Niko.
Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Unair ini mangatakan, ada lima faktor yang menjadi penyebab turis medis mencari perawatan medis di luar negeri. Di antaranya karena keterjangkauan biaya, ketersediaan jenis perawatan medis, kemudahan mendapat perawatan medis, perawatan medis yang dapat diterima, serta alasan tambahan seperti teknologi perawatan, pelayanan di luar negeri lebih profesional, sekalian berwisata.
Amang menambahkan, berdasarkan pengalamannya, orang memilih berobat ke luar negeri juga karena menginginkan kepastian layanan.
Kepastian tarif, kepastian ketemu dokter di hari yang sama sesuai perjanjian serta ditangani dengan hebat, ujar spesialis kandungan dan kebidanan dari Morula IVF National Hospital ini.
Soal kepastian tarif ini, National Hospital menjawab lewat flyer-nya yang menyebut tarif mulai Rp 89,9 juta untuk paket penanganan Parkinson dan Epilepsi. Sedang untuk bayi tabung dimulai Rp 80 juta-an.
Sementara itu fitur dalam aplikasi Medical Tourism Indonesia mencantumkan rumah sakit-rumah sakit, klinik, laboratorium di Surabaya lengkap dengan layanan unggulannya.
Kami bekerjasama dengan 17 rumah sakit, klinik dan laboratorium. Kendala yang kami hadapi saat ini adalah masih belum terbukanya Faskes/Rumah Sakit perihal biaya layanan untuk masing-masing produk unggulannya. Ini yang mengakibatkan kami kesulitan untuk menawarkan ke calon pasien di daerah-daerah. Kami yakin, inilah mengapa MTI (Medical Tourism Indonesia) di Indonesia sulit dilakukan. Namun, dengan pendekatan persuasif dan pendekatan teknologi yang akan kami bangun serta dukungan dari Pemerintah Kota, Provinsi, kami yakin masalah tadi dapat diselesaikan dengan baik, pungkasnya. (retno asri)













