Ketua ICMI Jatim: “Tragedi Runtuhnya Bangunan Pesantren Membuktikan Amanah Spiritual Harus Disertai Amanah Teknis”

oleh

 

SIDOARJO| DutaIndonesia.com — Suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Sebanyak 66 santri menjadi korban meninggal dunia akibat robohnya mushola pesantren pada Senin sore, 29 September 2025. Puluhan lainnya luka dan trauma.

Di tengah kepedihan itu, muncul suara reflektif dari Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur, yang menilai tragedi ini bukan sekadar musibah, tetapi juga peringatan keras bagi kesadaran kolektif umat.

Ulul Albab
Ulul Albab

“Kita berduka, tapi juga harus berani jujur. Musibah ini tidak semata takdir, ada unsur kelalaian manusia di dalamnya,” ujar Ulul Albab saat ditemui wartawan di Surabaya, Jumat (4/10/2025).

Menurut Ulul, tragedi Al Khoziny harus dibaca dalam dua lapis makna: kepedihan kemanusiaan dan koreksi moral sosial. Reruntuhan mushola, kata dia, bukan hanya menimpa tubuh para santri, tapi juga menimpa rasa tanggung jawab kita bersama terhadap amanah publik.

Kronologi dan Akar Masalah

Ulul menjelaskan, berdasarkan informasi yang ia terima dari relawan dan tim SAR, peristiwa itu terjadi saat proses pengecoran lantai atas mushola sedang berlangsung. Tidak lama setelah cor dilakukan, struktur bangunan ambruk secara berlapis—seperti pancake collapse—dan menimpa para pekerja serta santri yang tengah beraktivitas di bawah.

“BNPB dan tim ahli struktur dari ITS menyebut penyebab awalnya adalah kegagalan struktur konstruksi. Tiang dan kolom tidak dirancang untuk menahan beban tambahan akibat pengecoran lantai empat,” kata Ketua ICMI Jawa Timur itu menjelaskan.

Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan bahwa aspek teknis pembangunan fasilitas keagamaan di Indonesia masih sangat lemah. Banyak pesantren yang membangun mushola atau asrama dengan semangat gotong royong, namun tanpa melibatkan ahli konstruksi bersertifikat.

Bukan Sekadar Niat Baik

Ulul Albab menegaskan, niat baik tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab profesional.

“Bangunan pesantren memang non-profit, tapi bukan berarti bebas dari kewajiban profesional. Kalau struktur tidak kuat, material di bawah standar, atau tidak ada izin mendirikan bangunan, itu jelas bentuk kelalaian,” tegasnya.

Menurut Ketua ICMI Jatim ini, ada empat pihak yang harus berintrospeksi: pelaksana konstruksi, pengawas teknis, pengelola pesantren, dan pemerintah daerah. Semua memiliki peran dan tanggung jawab moral.

“Kita berempati kepada pesantren dan keluarga korban, tapi empati tidak boleh menutup mata terhadap kesalahan manusiawi. Takdir tidak bisa dijadikan tameng bagi kelalaian,” ujarnya tegas.

Peran Negara dan Dunia Pesantren

ICMI Jawa Timur, lanjut Ulul, menilai tragedi ini sebagai momentum penting untuk menata kembali tata kelola pembangunan fasilitas keagamaan. Ia mendorong Kementerian PUPR dan Kementerian Agama agar segera merumuskan “Standar Keselamatan Bangunan Pesantren dan Rumah Ibadah” — sebuah panduan teknis sederhana namun wajib dipatuhi.

“Kalau ada ribuan santri yang tinggal di satu kompleks, manajemen risiko itu wajib. Pengasuh pesantren harus memandang keselamatan sebagai bagian dari ibadah. Karena menjaga nyawa manusia juga bagian dari syariat,” tutur Ulul Albab.

ICMI Jatim sendiri berencana menggagas forum kolaboratif antara lembaga keagamaan, perguruan tinggi teknik, dan asosiasi profesional. Forum ini bertujuan membantu audit teknis bagi pesantren kecil dan lembaga pendidikan Islam yang hendak membangun fasilitas baru.

Amanah Spiritual dan Amanah Teknis

Lebih jauh, Ulul mengingatkan bahwa tragedi Al Khoziny mengandung pesan spiritual yang mendalam.

“Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bekerja dengan ihsan.’Ihsan itu bukan hanya niat baik, tapi bekerja dengan ilmu, akurasi, dan tanggung jawab,” ucapnya.

Ia menambahkan, ICMI Jawa Timur mengajak seluruh tokoh ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI untuk bersatu membangun budaya keselamatan (safety culture) di pesantren.

“Amar ma’ruf nahi munkar hari ini tidak cukup hanya ceramah moral, tapi juga harus mengajarkan disiplin, profesionalitas, dan perencanaan ilmiah,” katanya.

Refleksi untuk Umat

Di akhir wawancara, Ulul Albab menatap jauh sebelum menutup pembicaraan dengan suara yang pelan namun tegas.

“Tragedi ini justru awal dari kebangkitan kesadaran kita. Bahwa amanah spiritual harus disertai amanah teknis. Karena menjaga keselamatan adalah bagian dari ibadah.”

ICMI Jawa Timur, lanjutnya, akan terus mendorong agar pemerintah, ormas, dan masyarakat pesantren saling bersinergi.
“Jangan sampai kita hanya pandai membangun menara, tapi lupa membangun pondasi yang kuat — baik secara fisik, moral, maupun profesional,” tutupnya. (gas)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.