SURABAYA |DutaIndonesia.com – Islam menganjurkan umatnya cerdas dan kaya. Agar dapat menjadi manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan masyarakat.
Muslim Harus Cerdas dan Kaya, Tapi Jangan Tiru Sahroni
Hal ini dikatakan oleh Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim MA, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah pada para santrinya, saat memberikan pengajian Subuh kitab kuning, di Ponpes Siwalan Kerto, Wonocolo, Surabaya, Senin pagi, 8 September 2025.
Dijelaskan oleh Kiai Asep, Islam adalah agama yang tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga menekankan pentingnya kecerdasan, ilmu, dan kemandirian ekonomi.
“Seorang muslim dituntut untuk menjadi pribadi yang berilmu, berpikir kritis, dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” kata Kiai Asep.
Rasulullah SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Ilmu menjadi kunci kecerdasan, sekaligus dasar dalam mengambil keputusan yang benar dalam kehidupan.
Ditegaskan Kiai Asep, Islam juga tidak memandang kekayaan sebagai sesuatu yang tercela.
Justru harta yang halal dan diperoleh dengan cara yang baik dapat menjadi sarana untuk memperbanyak amal. Dengan kekayaan, seorang muslim dapat bersedekah, menolong sesama, serta memperkuat kedudukannya di tengah masyarakat.
Ikhtiar
Namun, kecerdasan dan kekayaan tidak datang begitu saja. Keduanya menuntut ikhtiar sungguh-sungguh.
Umat Islam didorong untuk terus belajar, bekerja keras, berusaha maksimal, dan berdoa kepada Allah agar diberikan keberkahan dalam ilmu maupun rezeki. Dengan demikian, seorang muslim tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan hidup, serta mampu menjadi teladan dalam masyarakat.
Jangan Sombong
Dan bila ikhtiar dan do’a diijabah Allah, maka janganlah sombong.
“Kalau sudah cerdas dan kaya, jangan sombong nak ya. Tetaplah mencari keluhuran di sisi Allah,” kata Kiai Asep.
Caranya, hiduplah dengan bersahaja.
“Jangan sampai baju atas, baju bawah, arloji, gelangnya, cincinnya,” jauh lebih mahal dari amal dan sedekah hariannya,” jelas Kiai Asep.
“Jangan meniru Sahroni, yang diberitakan di medsos, jam tangannya saja harganya sebelas miliar,” sambung Kiai Asep yang disambut huuu … oleh para santri. (Moch. Nuruddin).











