Kisah Beragam Profesi Diaspora Indonesia di Amerika: Enaknya Jadi Marketing Properti, Jaga Rumah, dan Bermain dengan Kucing

oleh
Fenny Handayani bersama putrinya, Gazelle, yang seorang model di New York Indonesia Fashion Week. (Foto: Jimmy Hong)

Para diaspora Indonesia memiliki kisah menarik bukan hanya soal pernikahan mereka dengan bule Amerika Serikat (AS), tapi juga soal profesi yang mereka geluti di negeri orang. Misalnya profesi penjual properti freelance, pekerja di rumah sakit, tukang pos, pekerja restoran, model, desainer, produser fashion show, hingga penjaga rumah profesional.

FENNY HANDAYANI asal Surabaya, sekarang tinggal di Pennsylvania dan bekerja sebagai marketing properti. Begitu pula Syarif Syaifulloh asal Depok yang sekarang tinggal di Kota Philadelphia, kini juga sibuk menawarkan beragam rumah di sejumlah kota di negeri Paman Sam. Profesi ini banyak suka dukanya.

“Sukanya kalau banyak yang menjual properti dan banyak pula yang mencari rumah. Komisinya juga bagus. Sedang dukanya kalau nggak banyak rumah yang dijual dan bunga bank tinggi untuk peminjam yang membeli properti,” kata Fenny kepada DutaIndonesia.com, Rabu (28/9/2022).

Dengan bekerja sebagai realtor, salary yang didapat Fenny berdasarkan commission. Bekerja semacam itu enak sebab waktunya bisa menyesuaikan dengan waktu untuk anak-anaknya yang sibuk memiliki kegiatan di sekolah baik ekstrakurikuler maupun aktivitas lain seperti olahraga voli maupun fashion. Putri Fenny, Gazelle, merupakan seorang model yang sekolah modeling di New York Indonesia Fashion Week (NYIFW) pimpinan Vanny Tousignant, diaspora yang sudah 30 tahun tinggal di Amerika dan sekarang menjadi produser fashion show dengan brand NYIFW.

Namun Fenny pernah pula bekerja di perusahaan. “Enak juga kerja di company sini. Sepertinya sama kerja di mana aja, cuman salary-nya pake US dolar jadi kalau di-kurs-kan ke rupiah lumayan gede. Lalu vacation dibayar kalau kita kerja 1 tahun dapat 2 minggu paid vacation and hari libur ada 12 dalam setahun. Nah kalau bagi yang agama Islam harus ngambil cuti untuk sholat Idul Fitri atau sholat Idul Adha. Merayakan Idul Fitri and Idul Adha harus ngambil cuti, kalau pas belum setahun yah kita nggak dibayar kalau ngambil cuti and kalau udah kerja lebih dari setahun cutinya dipotong dari vacation time,” katanya.

Namun, pekerja di Amerika harus membayar pajak. “Kerja di sini kita harus bayar taxes (pajak) medicare, social security, federal tax, state tax and city tax kalau tinggal di city,” katanya.

Sementara Syarif juga sibuk menjadi marketing properti. Namun pria yang akrab disapa Pak Tani Philadelphia ini tidak menjual rumah, melainkan menyewakannya. Bahkan dia melibatkan keluarga. Termasuk anak-anaknya yang diajari agar bisa mandiri saat mereka dewasa.

“Kami mengelola Property Management, kami melakukan semua bersama team work keluarga. Rumah dalam bentuk kosongan akan kami isi semua perlengkapan dari dapur, kamar tidur, selimut, bangku, meja makan, TV dan semuanya. Yang membuat penyewa masuk sudah ada semuanya, tidak perlu pusing-pusing. Adapun kami juga melakukan pemasangan pernak pernik dari interiornya, semua pekerjaan ringan kami lakukan bersama keluarga. Tak lupa di sela kegiatan anak-anak sekolah atau libur, saya melibatkan anak-anak untuk belajar cara membuat meja makan, rak, dan lainnya. Semua saya ajarkan supaya kelak anak-anak dewasa bisa mandiri. Alhamdulillah semuanya bisa dikerjakan. Rasanya saya sebagai orang tua terharu. Anak-anak patuh dan nurut ikut saya kerja,” kata Syarif.

Syarif juga pernah bekerja sebagai cook di CHOP (Children Hospital Of Philadelphia). Sebagai seorang cook profesional memang sangat diperlukan skill tersendiri, karena bagian cook ada 24 posisi dengan berbagai masakan yang berbeda sehingga diperlukan keahlian. “Ada lebih dari 30 orang cook yang bekerja secara profesional di sini,” katanya.

Untuk gaji seorang cook sangat bervariasi dan juga benefitnya. Sebagai contoh cook di restoran, hotel, dan rumah sakit juga bervariasi. “Start untuk restoran bisa $12, hotel $18, dan rumah sakit $25,” katanya.

Fenny mendengar gaji seorang babysitter juga lumayan bagus. “Emang bener. Yang Fenny denger dari teman-temanku yang kerja sebagai babysitter atau yang jagain orang jompo gitu, tapi salarynya tergantung tuannya,” katanya.

Melansir dari VOA Indonesia, salah satu diaspora penjaga rumah profesional adalah Daden dan Juju. Keduanya dibayar untuk bermain dengan kucing. Mereka melakoni pekerjaan sebagai penjaga rumah profesional itu sudah cukup lama. Mereka biasa disebut sebagai house sitter, yang juga menjalani tugas sebagai pengasuh kucing atau catsitter.

Di luar negeri, pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART) atau pun babysitter tidak dianggap sepele. Masyarakat harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menyewa ART, termasuk penjaga rumah profesional.

Pemilik rumah tak segan memberi mereka bonus apabila rumah dalam keadaan bersih sepulang kerja, dengan tanaman serta hewan peliharaan yang terawat dengan baik. Menilik situs pencari dan perekrut tenaga kerja Zippia, penjaga rumah rata-rata dibayar US$27 (Rp405 ribu) per jam atau hampir US$52 ribu (Rp780 juta) per tahun.

Daden dan Juju adalah diaspora Indonesia yang telah bekerja sebagai penjaga rumah profesional sekaligus pengasuh kucing di Amerika Serikat selama belasan tahun. Tak hanya bermain dengan kucing peliharaan pemilik rumah, mereka juga bertugas membersihkan hunian sang majikan. Selain itu, kedua pria ini juga harus menjaga rumah dari maling.

Daden dan Juju juga kerap mengosongkan kotak surat saat pemilik rumahnya sedang pergi. Setelah pekerjaan mereka telah usai, Daden dan Juju hanya tinggal menunggu hingga majikan mereka pulang.

“Enak banget sih sebetulnya, sebab enggak ngapa-ngapain. Datang, tidur,” ucap Daden.

“Cuma pindah tidur doang tapi dibayar,” sahut Juju.

Menurut Daden dan Juju, mereka tidak menerima pendapatan pasti untuk pekerjaan tersebut. Namun yang pasti, mereka mendapat bayaran mahal hanya untuk rebahan sambil bermain dengan kucing. (gas/voa)

No More Posts Available.

No more pages to load.