Kisah Guru MAN 4 Jakarta yang Kreatif: Bikin Konser Musik virtual Kolosal

oleh
Ama Gusti Azis, guru MAN 4 Jakarta.

Saat ini sekolah madrasah semakin maju. Para siswanya juga semakin canggih dan modern. Mereka menguasai berbagi ilmu informasi teknologi. Tidak hanya menguasai ilmu agama. Salah satunya bisa dilihat dari karya MAN 4 Jakarta yang membuat konser musik virtual secara kolosal.

TIGA siswa berbaju pramuka keluar dari sebuah ruangan kelas. Namun, karena ada yang tertinggal, mereka kembali ke ruangan kelas dan bertemu dengan salah seorang guru yang kemudian menunjukkan video tayangan konser virtual rekan-rekan mereka melalui smartphone.

Scene film kemudian beralih. Intro lagu Jasamu Guru mengawali konser virtual siswa-siswa MAN 4 Jakarta dalam rangka hari Hari Guru yang terdengar megah seperti diiringi orkestra. Pemain musik dan penyanyi serta para penari tradisional dalam tayangan video yang bisa kita lihat di channel Youtube MAN 4 Jakarta ini semuanya siswa siswi madrasah yang beralamat di Jalan Ciputat Raya Nomor 5, Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Satu hal, seluruh pemain musik, penyanyi dan para penari tradisional tersebut tidak berada di satu panggung, laiknya sebuah pertunjukan musik. Mereka berada di rumah masing-masing. Namun, kita bisa menikmati pertunjukan yang utuh. Sebuah kerja keras bagaimana bisa menyatukan mereka dalam satu tayangan pertunjukan yang menarik dari tempat yang berbeda.

Di balik konser virtual Hari Guru Nasional 2021, ada sosok guru bernama Ama Gusti Azis yang mengkreasi pertunjukan seni tersebut. Sejak 2015, Ama Gusti Azis mendapatkan amanah sebagai Guru Seni Budaya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta. Selama menjadi guru madrasah yang tidak jauh dari Sekolah Polisi Wanita itu, Ama telah membuat sembilan karya pertunjukan kolosal.

Ia merasa bersyukur menjadi Guru Seni Budaya di MAN 4 Jakarta, karena madrasah tersebut memiliki banyak fasilitas yang sangat memadai sehingga mendukung Ama untuk mampu terus membimbing peserta didik menelurkan sebuah karya. Pada Hari Guru Nasional 25 November 2021, Ama mempersembahkan karya pertunjukan kolosal yang kesepuluh, secara virtual.

Pandemi Covid-19 yang sejak Maret 2020 melanda negeri ini, telah mengubah banyak hal. Tak terkecuali para guru di Indonesia, termasuk Ama. Kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Begitu pula pelajaran seni budaya yang harus dilakukan Ama secara virtual.

Berbagai kendala dalam metode pembelajaran secara virtual, mau tidak mau harus dihadapi Ama. Kendala terbesar baginya adalah harus mampu memastikan peserta didik bisa belajar dengan baik di rumah. Sementara tidak semua siswa memiliki kemampuan sama dan fasilitas lengkap di rumah.

Pria kelahiran Jakarta, 13 Maret 1993 ini tak kehilangan akal. Ama selalu memberikan motivasi kepada para siswa. Caranya dengan menyiapkan konsep untuk membuat pertunjukan seni kolosal. Sebab dengan begitu, Ama berasumsi para peserta didik dapat merasa memiliki rasa tanggung jawab atas karya-karya yang akan diciptakan.

Ia sengaja memilih untuk konsisten membuat pertunjukan kolosal, dan tahun ini dilakukan secara virtual. Sebab pertunjukan kolosal memberikan pembelajaran yang sangat penting untuk para siswa.

“Terutama untuk menghargai, mengapresiasi, dan mempertunjukkan karya-karya seni, khususnya yang ada di Indonesia. Ini juga melatih bakat dan meningkatkan potensi peserta didik yang ada di MAN 4 Jakarta,” kata Ama, seperti dikutip dari laman kemenag.go.id, Sabtu 27 November 2021.

Pertunjukan kolosal, dari tahun ke tahun, semakin digemari para siswa MAN 4 Jakarta. Sebab mampu memberikan berbagai pemahaman mengenai kesenian, khususnya seni musik dan pertunjukan dengan penyampaian yang sederhana.

Sebagai guru, Ama menjadi sosok guru yang egaliter dan ramah. Dengan kesabaran dan ketekunannya, para peserta didik akan sangat dengan mudah memahami materi-materi yang disampaikan. Inilah yang secara tidak sadar sebenarnya dilakukan Ama dalam memupuk minat dan mengasah bakat siswa dalam berkarya.

“Sebenarnya di dalam pertunjukan kolosal ini, saya tidak 100 persen mengajak, tetapi itu masuk dalam pembelajaran Seni Budaya dan menjadi sebuah penilaian psikomotorik mereka di dalam pembelajaran Seni Budaya,” terang Ama.