Komunitas Muslim Indonesia di Luar Negeri: Sebuah Introspeksi

oleh
Imam Shamsi Ali (Foto: CNNIndonesia)

Ketujuh, dan ini realita yang paling nyata dan menyakitkan. Yaitu adanya penyakit “ghill” seperti pada ayat “wa laa taj’al fii quluubina ghillan lilladzina amanu” justeru kerap terjadi di kalangan masyarakat Indonesia di luar negeri, termasuk di dalamnya masyarakat Muslim Indonesia.

Akibatnya ketika ada di antara anggota Komunitas yang sedikit menonjol, anggaplah berhasil kecil pada bidang tertentu, ada-ada saja pihak yang berusaha menjegalnya dengan cara apa saja.

Saya tidak ingin menyebutkan contoh-contoh bagaimana upaya saling jegal menjegal di antara sesama itu. Tapi yang pasti hal ini sangat terasa di kalangan Komunitas Indonesia di luar negeri. Bahkan dalam urusan yang terkait dengan keagamaan sekalipun.

Dalam perspektif agama fenomena seperti ini lebih dikenal dengan sebutan “dengki” atau “iri hati” kepada sesama yang kebetulan mendapatkan karunia tertentu dari Allah. Orang yang berpenyakit hasad itu tidak saja “sakit hati” atas karunia yang Allah berikan kepada orang lain. Tapi berusaha agar karunia itu dicabut darinya. Bahkan orang lain tersebut, walau sesama anak bangsa bahkan seiman, perlu dirusak dan ditenggelamkan.

Inilah penyakit yang Rasulullah SAW ingatkan dalam sabdanya: “Hendaklah kalian berhati-hati dengan hasad. Karena sesungguhnya hasad menghabiskan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar”.

Berhati-hatilah. Karena pelaku hasad selain kebaikannya bangkrut, juga yang bersangkutan akan hidup bagaikan cacing yang kepanasan.

“A’adzana Allahu wa iyyakum” (semoga Allah menjaga kita semua). Amin! (*)

Manhattan, 7 Juli 2021

  • Presiden Nusantara Foundation

No More Posts Available.

No more pages to load.