Lagi-lagi PMI Ponorogo di Hongkong Meninggal

oleh
Sebelum meninggal Lukman sempat dirawat di RS.

Lukman mencari ibunya yang menjadi TKW/PMI di Hongkong dengan menggunakan visa turis, tapi saat ibunya pulang ke Indonesia dia memilih tetap tinggal di negeri itu sebab merasa kerasan. Namun kemudian dia mendengar kabar bahwa ibunya meninggal dunia di Ponorogo. Yang menyedihkan, saat 40 hari meninggalnya sang ibu, Lukman ternyata menyusul ibunya dipanggil Sang Khaliq.

HONGKONG|DutaIndonesia.com – Lagi-lagi kabar duka datang dari pekerja migran Indonesia (PMI) di Hongkong asal Ponorogo Jawa Timur. Setelah selesai proses pemulasaran dan pemulangan jenazah PMI asal Ponorogo, bernama Mujiati, kini ada lagi PMI asal daerah reog itu meninggal dunia di Hongkong. Pria ini meninggal karena sakit.

Jenazah Mujiati (43) sendiri dilakukan pemulasaran pada Selasa 26 Oktober 2021 dan keesokan harinya dipulangkan ke Ponorogo. Proses pemulangan jenazah Mujiati menarik perhatian tetangga di daerah asalnya hingga mereka mencari tahu sampai ke tempat pemulasaran jenazah Happy Valley Muslim Cemetery Hongkong.

“Ada tetangga tanya-tanya, ada sopir tanya ke KJRI. Orang KJRI yang dihubungi sopir  malah ngasih info salah sebab katanya pemulasaran jenazah pada tanggal 11 Oktober padahal Selasa kemarin. Tapi keluarga almarhumah kenal tetangga tersebut. Keluarga juga tidak minta video proses pemulasaran justru tetangganya yang minta. Tapi tetap saya video call untuk mereka,” kata petugas pemulasaran jenazah Happy Valley, Hj Siti Fatimah Angelia.

Yang membuatnya semakin sedih, kata Siti Fatimah, ada lagi warga Ponorogo meninggal dunia di Hongkong. Siti Fatimah pun menceritakan kisah sedih dialami pria asal Ponorogo ini. Pria bernama Lukman itu meninggal dunia karena sakit pada 24 Oktober 2021 lalu. Namun jenazahnya diperkirakan agak lama pemulangannya ke Indonesia sebab statusnya “kosong” mengingat dia pergi ke Hongkong untuk menyusul ibunya yang menjadi TKW dengan menggunakan visa turis. Bukan sebagai PMI.

Namun saat ibunya pulang ke Indonesia, Lukman memilih tetap tinggal di negeri itu sebab merasa kerasan. Tapi kemudian dia mendengar kabar bahwa ibunya meninggal dunia di Ponorogo. Yang menyedihkan, saat 40 hari meninggalnya sang ibu, Lukman pun menyusul ibunya dipanggil Sang Khaliq.

“Sedih rasanya. Lukman sempat dirawat di rumah sakit sebelum meninggal. Jenazahnya pun belum tahu kapan dibawa ke Happy Vally untuk dilakukan pemulasaran, sebab menunggu dokumennya,” katanya.

Menurut Siti Fatimah, dua jenazah orang Indonesia yang dilakukan pemulasaran di Happy Valley pada Jumat 29 Oktober 2021 adalah jenazah Linda, juga asal Ponorogo, dan Susi asal Indramayu. “Jadi, bukan Lukman. Entah kapan jenazahnya dimandikan di sini,” katanya Jumat (29/10/2021). (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.