Tapi manusia dalam posisinya sebagai wujud ciptaan yang berdasar ruhiyah (spiritual being) bukan ciptaan biasa. Tapi kreasi Allah yang unik. Bahkan dalam bahasa seorang penulis “the unknown” alias ciptaan misterius.
Pada tataran inilah manusia harus sadar bahwa pada dirinya ada nilai yang istimewa. Nilai yang tidak dimiliki oleh sembarang ciptaan (khalq). Nilai yang sekaligus menjadikannya sebagai makhuk yang bernilai (valuable). Itulah nilai spiritulitas yang terbangun di atas kefitrahan Ilahi (fitratallah allati fatoran naasa jami’an).
Manusia Berubah, Bukan Diubah
Karena manusia itu memiliki dua aspek. Aspek fisikal yang menjadi bagian dari alam semesta (al-alamin). Dan aspek ruhiyah yang merupakan bagian dari “ruh Ilahi” (nafakhna fiihi min ruhina).
Maka manusia itu ada di dua kemungkinan. Berubah/mengubah atau diubah.
Sekali lagi, pada sisi inilah manusia kemudian akan menampakkan nilainya sebagai manusia yang bernilai (valuable). Jika ternyata hanya menjadi bagian dari alam yang menempatkan diri sebagai obyek perubahan, maka manusia menjatuhkan diri ke lembah yang rendah (asfala safilin). Tapi jika manusia mampu mengambil kendali dan menjadi agen perubahan (mengubah dan tidak diubah) maka manusia itu naik ke tataran “ahsanu taqwiim” (ciptaan terbaik).
Dalam sejarah hidup manusia, kerap kehancurannya ada pada ketidakmampuan menghadirkan perubahan. Akibatnya manusia dipaksa mengikuti alur perubahan, yang tidak jarang justeru dipaksakan dan tidak sejalan dengan kemanfaatan bagi dirinya dan alam sekitarnya.
Realita ini juga mencakup perubahan kepemimpinan suatu kaum (bangsa/negara). Sebuah kaum atau bangsa perlu melakukan perubahan dan tidak dipaksa berubah oleh perubahan alam.
“Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” (sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum (umat atau bangsa) sehingga mereka melakukan perubahan pada diri mereka”.











