Ketiga, masjid harus menjadi perekat ukhuwah dan kesatuan Umat.
Ketika masjid dipahami sebagai tempat berjamaah maka pemahaman itu harus lebih dari sekedar pemahaman ritual semata. Bahwa sholat jamaah itu lebih afdhol dari Sholat sendirian hingga 27 kali lipat, tidak saja dari perspective kwantitas pahalanya. Tapi kwalitas nilai ukhuwah dan jamaah/kebersamaan yang terbangun.
Karenanya masjid harus dijadikan dorongan moral untuk merajut dan menguatkan ukhuwah. Sehingga diharapakan pesan-pesan masjid akan selalu terasa menyejukkan ukhuwah dan kesatuan Umat.
Termasuk tentunya perlunya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan yang ada, termasuk perbedaan madzhab. Bahkan perbedaan madzhab politik sekali pun.
Keempat, masjid harus menjadi pusat pengembangan keilmuan dan pemikiran.
Di negara-negara Asia Selatan masjid besar biasanya dinamai Jaami’. Kata itu tentunya diambil dari kata jama’ah. Tapi kata ini juga melahirkan kosa kata yang baru, yaitu Jaa’miah yang berarti “universitas”.
Hal ini mengindikasikan bahwa masjid memang harus menjadi pusat pengembangan keilmuan dan pemikiran. Bukankah salah satu aspek masjid Rasulullah SAW (masjid An-Nabawi) yang terkenal adalah “Raudhoh”. Sebuah tempat khusus di dekat mihrab. Bahkan dijuluki sebagai “Raudhoh min riyadhil al-Jannah” atau taman dari taman-taman syurga.
Kelima, masjid juga harus menjadi pusat keamanan dan perdamaian.
Ketika Allah menggambarkan Masjidil Haram dalam Al-Quran, Allah menyebutkan bahwa “siapa yang memasukinya dia akan aman”. Para Ulama mengatakan bahwa ketika seseorang masuk ke Masjidil Haram (dan masjid-masjid lainnya) maka dia bertanggung jawab untuk mewujudkan keamanan dan kedamaian.
Bahwa keamanan dan kedamaian akan dirasakan tidak saja orang-orang yang ada di masjid (orang-orang beriman). Tapi dengan komitmen dan karakter kedamaian orang-orang atau Ahli masjid menjadikan masyarakat sekitar merasa aman dan damai. Termasuk pastinya mereka yang non- Muslim.
Itulah beberapa hal yang harus diperankan oleh masjid jika diharapkan bahwa masjid itu akan menjadi pilar bangkitnya peradaban manusia. Sayang masjid saat ini dipahami secara parsial dan sempit. Sehingga terasa keberadaan masjid itu kurang maksimal, bahkan naif dalam mewujudkan harapan bagi kebangkitan peradaban Islam itu. Wallahu a’lam! (*)
New York, 19 Oktober 2021
**Ringkasan materi yang disampaikan pada acara Tablig Akbar Peringatan Maulid Rasulullah SAW Masjid Istiqlal (19 Oktober 2021).










