Namun karena pandemi Covid-19 semua “jembatan cinta” yang menyambung ke Maroko putus. Aku sampai tiga kali mencoba agar bisa pergi ke Maroko. Aku sudah dua kali mencoba tapi gagal karena restriction (larangan masuk) ke Maroko dan Singapura.
Aku tunjukkan ke dia kalau aku sudah berusaha sekuat tenagaku pergi ke Maroko tapi Tuhan belum mengizinkan. Dia pun maklum. Hanya saja, dia menangis. Dia selalu menangis setiap kali aku gagal berangkat ke negerinya.
Air matanya yang menetes adalah kerinduannya kepada sang kekasih yang berjuang untuk menemuinya dari negeri nun jauh di Asia. Sementara semangatku untuk bisa berangkat ke Maroko adalah bunga cintaku kepadanya.
Dan momen yang aku tunggu pun datang juga. Saat membeli tiket untuk ketiga kalinya aku berhasil. Alhamdulillah, aku pun terbang ke Maroko.
Selama penerbangan aku membayangkan bagaimana kekasihku itu, apakah dia lebih cantik dibanding foto yang ditunjukkan kepadaku lewat media sosial, apakah dia memang cantik secara fisik sekaligus akhlaknya? Bagaimana pula ayah ibunya, sanak saudaranya. Begitu juga, bagaimana suasana kota Berkane? Namun, aku lebih banyak membayangkan sesuatu yang indah-indah saja bersama dia.
Dan suasana hatiku semakin membuncah saat pesawat landing di Bandara Cassablanca dan untuk pertama kalinya kakiku menginjak bumi Maroko. Tanah di mana kekasihku dilahirkan. Cassablanca kota modern yang indah. Penuh dengan jejak sejarah kolonial Prancis. Namun aku tidak lama di Cassablanca yang kotanya indah di tepian Samudera Atlantik itu. Tidak pula ke ibukota Rabat yang lokasinya sekitar 87 km ke aras timur.
Aku langsung meluncur ke Berkane. Dari Bandara Cassablanca aku naik kereta menuju ke Stasiun Kereta Oujda. Kemudian naik taksi ke Berkane. Sebuah kota yang terkenal dengan hasil pertaniannya jeruk. Di kota ini tidak banyak orang yang bisa berbicara Bahasa Inggris.
Misalnya saat order makanan, yang keluar selalu kopi melulu. Aku sering tertawa sebab memesan makanan ini itu tapi yang datang kopi dan kopi. Karena itu selama tiga hari aku tidak bisa makan di warung kecuali sarapan pagi di hotel. Akhirnya berbekal google translate dan gerakan “tarzan”, aku pun bisa makan roti, teh, dan telur untuk makan siang.














