Mengejar Cinta di Tengah Konflik Maroko – Aljazair

oleh
PANTAI Saidia di teluk bagian timur laut Maroko dekat perbatasan Aljazair menjadi saksi cinta Hardi, pemuda Indonesia, kepada Chaimae, gadis Maroko. (foto: https://1001beach.com/)

Sehari di kota ini, aku mencari alamat apartemen tempat Chaimae tinggal. Sebagian besar orang Maroko yang bekerja di kota lebih suka tinggal di apartemen. Termasuk kekasihku itu. Tapi aku tidak menemukan alamatnya sehingga aku pun kembali ke hotel dan terlelap tidur hingga malam karena kelelahan. Hanya saja, Chaimae ternyata mengaku seharian menunggu aku di depan hotel.

Keesokan harinya Chaimae datang lagi ke hotel tempatku menginap. Dia tidak menunggu di lobi. Dia berdiri dengan resah di depan hotel. Hal ini aku ketahui saat dia cerita, bahwa perempuan muslimah tidak baik menunggu seseorang, apalagi laki-laki, di lobi hotel.

Dari dalam hotel, aku melihat dia kadang duduk dan sesekali berdiri di bawah sebuah pohon. Aku ingin membuat kejutan untuk Chaimae dengan memakai jas The Executive serta membawakannya chocolate dan buah-buahan kering khas Indonesia. Dan dia pun terkejut saat ada suara menyapanya dari arah belakang: “Excuse me, can I help you?” Dia tersenyum lebar. Bahkan hampir menangis bahagia.

Aku pun bahagia melihat responnya itu. Sebab aku pikir dia tidak akan menyukai pria Indonesia yang pendek dan berhidung pesek, seperti aku ini. Selanjutnya Chaimae membawaku pergi ke ATM untuk mengambil uang. Dia mengambil uang 100 dirham (setara Rp 160 ribu). Meskipun uangnya tinggal sedikit di dalam rekening, dia sama sekali tidak mau aku membayar ongkos taksi, atau minuman, sehingga aku pun keluar uang hanya untuk menyewa tenda saat kami berlibur di pantai.

Kami memang meluncur ke Kota Saidia setelah itu. Kota ini sekitar 1 jam perjalanan dari Berkane. Kami ingin mengunjungi pantai yang indah dengan turis-turisnya. Selama di pantai aku melihat Chaimae memegang tangannya, begitu halus. Dia terlihat sangat malu.

Lalu dia mengatakan kepadaku, bahwa dia akan segera memberitahu orangtuanya soal kedatangaku di Maroko. “Aku harap akhir minggu ini kau sematkan cincin (kawin) di jariku,” kata Chaimae. Aku tersenyum. Berbunga-bunga. Sembari melihat ke arah lautan.

Tapi kemudian Chaimae berubah marah. Aku bingung. Ada apa? Kemudian dia bilang: “Apa yang kamu lihat!? Perempuan lain dengan baju sexy, ya!?” Aku tersenyum saja melihat wajahnya yang cantik bertambah cantik saat cemburu. Dalam hatiku, tidak ada satu pun perempuan di pantai ini yang cantik dan seksi seperti Chaimae.

No More Posts Available.

No more pages to load.