Mujahadah Kubro PWNU Jawa Timur Digelar di Tegalsari Ponorogo, Diikuti 15 Ribu Kader

oleh

Lebih jauh dijelaskan Gus Salam, prosesi Mujahadah Kubro murni ritual tanpa ada pidato sama sekali.

“Mujahadah kubro akan diisi dengan Ijazah Hizb Nawawi, Hizb Autad, Hizb Nashr, kemudian dilanjutkan dengan mujahadah dan istighotsah kubro. Jadi kami upayakan untuk tetap taqarrub kepada Allah Ta’ala,” tutur cucu Rais Aam PBNU (1971-1980) KH Bisri Syansuri Denanyar ini.

Pemilihan lokasi Mujahadah Kubro, menurut Gus Salam, dilatarbelakangi oleh adanya kaitan sejarah yang kuat antara NU dan Ki Ageng Muhammad Besari.

“Seperti dari sudut pandang nasab yang masih tersambung dengan KH Hasyim Asy’ari. Yang kedua terkait sanad keilmuan, Tegalsari merupakan pesantren pertama di Jawa Timur. Ki Ageng Muhammad Besari juga dikenal dengan perjuanganya melawan Belanda. Jadi, nuansa perjuangan kami ambil dalam konteks kekinian,” tuturnya.

Oleh karena itu, tema yang diusung dalam Mujahadah Kubro adalah “NU Membangun Sanad Jamiyyah, Menyambung Sanad Keilmuan dan Perjuangan”.

Gus Salam menjelaskan, kegairahan warga NU dan kader-kader penggerak patut diapresiasi. Respons PCNU se-Jawa Timur dalam mengikuti acara ini pun luar biasa. Hal itu terbukti dari pendaftaran yang sudah mencapai 15.000 peserta.

“Target kami adalah 9999 kader NU. Tetapi sampai saat ini yang sudah daftar hampir 15.000 belum termasuk warga NU dari Ponorogo sebagai tuan rumah yang pasti akan turut serta memenuhi acara. Memang kami menganjurkan siapa saja yang merasa kader NU, dengan apa pun latar belakangnya silakan hadir di acara mujahadah,” kata Gus Salam.

No More Posts Available.

No more pages to load.