OKLAHOMA| DutaIndonesia.com – Diaspora Indonesia di Amerika Serikat yang juga praktisi energi terbarukan, Dr Natarianto Indrawan, mengusulkan kepada Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait program hilirisasi energi. Usulan itu disampaikan melalui Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno, setelah sebelumnya melalui koordinasi dengan Tenaga Ahli Sekretariat Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi, M. Fadhil Hasan.
“Follow up diskusi terakhir, kami mengusulkan tiga point untuk strategi hilirisasi energi di tanah air, termasuk pengembangan DME untuk substitusi LPG,” katanya kepada DutaIndonesia.com, Rabu (26/11/2025).
Pertama, Short to Mid term. Menurut pakar EBT asal Belitung ini, Pemerintah melalui satgas hilirisasi melakukan seleksi terhadap proposal yang masuk dari berbagai perusahaan dari berbagai wilayah dan negara. Khusus proposal asal China, review dan seleksi harus seteliti dan sedetail mungkin. “Pertimbangannya terkait historical background dan policy strategy negara tersebut,” kata former researcher, Departemen Energi AS ini.
Kedua, Mid to Long term. Pemerintah melalui Danantara, kata perintis kilang masa depan atau e-refinery pertama dunia di Oklahoma, AS ini, melakukan diversikasi investasi untuk pengembangan sektor hilirisasi energi di masa mendatang.
“Proses yang lebih efisien dan low cost, termasuk menjajaki kolaborasi dan investasi terhadap inovasi proses dari berbagai industri dunia, termasuk proyek e-refinery atau kilang masa depan yang kami kembangkan saat ini di sini, di Oklahoma, USA, yang memproduksi berbagai bahan bakar bersih masa depan, seperti hidrogen, e-ammonia, e-methanol, dan e-DME, dari berbagai bahan baku terbarukan, seperti udara bebas, dan steam, selain dari bahan baku konvensional, dengan proses bebas karbon dan bahkan karbon negatif, yang pembangunannya didukung oleh pemerintah lokal dan beberapa institusi global, termasuk Chevron Ventures,” ujarnya.
Ketiga, Future term. Investasi dan kolaborasi untuk membangun ekosistem energi bersih di Indonesia, kata dia, termasuk pembiayaan perusahaan rintisan atau startup dan kolaborasi dengan berbagai lembaga riset, universitas dan perguruan tinggi. Jika ketiga hal ini dijalankan, maka Indonesia akan menjadi salah satu referensi dunia program hilirisasi energi di masa mendatang.
Sebagai ilustrasi saat ini, setiap tahunnya Indonesia kehilangan potensi pendapatan dari industri batubara sekurangnya 100 milyar dollar akibat ekspor batubara mentah ke LN. Sekiranya, batubara ini dijadikan berbagai produk energi bersih, seperti ammonia, hidrogen, dan metanol, maka akan lebih besar lagi manfaat bagi pendapatan negara. (gas)











