OKLAHOMA| DutaIndonesia.com – Pemerintah harus mempercepat hilirisasi batu bara agar tidak hanya melakukan ekspor barang mentah saja. Apalagi saat ini proses hilirisasi batubara sudah sangat komersial penggunaannya sehingga tidak ada alasan, seperti lantaran belum ada teknologi atau teknologinya belum teruji, sebab semua sudah ada tatanan komersialnya.
“Bahkan kami juga tawarkan di sini teknologi generasi ketiga, suatu proses yang jauh lebih efisien dari teknologi konvensional gasifikasi generasi pertama dan generasi kedua yang masih menggunakan plasma dengan elektroda, sedangkan teknologi generasi ketiga ini yang sekarang kami promosikan di Amerika, lebih efisien dan handal karena tidak menggunakan elektroda. Artinya, proses dan teknologi sudah ada, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan hilirisasi ini,” kata Dr Natarianto Indrawan, praktisi dan pakar energi baru terbarukan asal Indonesia di Amerika Serikat, Rabu (24/6/2026).
Selanjutnya, yang sangat penting adalah masalah pendanaan. Terkait hal ini Indrawan memaparkan bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, industri sekarang sedang kritis karena masih menggunakan energi fosil, di mana akibat gejolak perang Amerika-Israel dan Iran di Timur Tengah, harganya melambung tinggi. Industri sangat memerlukan program hilirisasi ini, sehingga partisipasi pendanaan dari kalangan industri sangat penting.
“Kedua, pendanaan dari Pemerintah, berupa pembebasan pajak, misalnya. Lalu, insentif. Banyak cara pemerintah ikut berpartisipasi dalam masalah ini, seperti dana hibah dengan mengundang semua peserta untuk memberikan proposalnya. Selain itu dari pendanaan luar negeri yang ingin membantu Indonesia dalam rangka program dekarbonisasi dan masih banyak yang lain. Pemerintah bisa fokuskan perhatian pada institusi luar negeri itu agar lebih bervariasi lagi proses dan teknologi yang bisa diterapkan di Indonesia,” katanya.
Selanjutnya, kata pria asal Belitung ini, masalah regulasi hilirisasi. Hal ini harus berpihak pada industri sebab mereka perlu dibantu mengingat industri yang menopang ketahanan fiskal maupun energi. “Dalam hal ini BUMN dan swasta, sangat perlu dibantu,” katanya.
Natarianto lalu menceritakan sejarah batu bara di Indonesia berawal dari era kolonial, ketika operasi pertambangan Belanda pertama kali menggarap cadangan besar di Sumatera dan Kalimantan. Selama beberapa dekade, kata dia, batu bara berkembang dari komoditas ekspor sederhana menjadi salah satu komoditas paling strategis bagi negara, memasok kebutuhan listrik domestik sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama bagi mesin industri Asia.
“Perjalanan tersebut mencapai puncaknya pada masa yang banyak disebut sebagai “era emas batu bara” Indonesia, ketika harga acuan global melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah dengan batu bara GAR 4.200 kcal/kg mencapai harga tertinggi sepanjang masa sebesar $154,21 per ton pada Oktober 2021,” ujarnya.
Pada periode ini, kata Natarianto, Indonesia menjadi pemain yang tak tergantikan di pasar energi global, mengekspor ratusan juta ton setiap tahun dan menjadi pemasok dominan bagi China dan India dengan Indonesia menyumbang sekitar 55% dari total impor batu bara China dan sekitar 51% dari total impor batu bara India per November 2025. Perusahaan-perusahaan batu bara mencatatkan keuntungan besar, dan kas negara membengkak dari penerimaan royalti.
“Namun, meskipun telah melewati berpuluh tahun siklus naik turun harga, baik pemerintah maupun pelaku industri tidak pernah menyusun peta jalan jangka menengah-panjang yang jelas untuk bergerak melampaui sekadar ekstraksi bahan mentah. Alih-alih berinvestasi pada jalur transformasi hilir seperti produksi metanol, hidrogen, dan amonia, sektor ini tetap terjebak pada model ekspor komoditas mentah,” katanya.
Beberapa upaya menuju coal-to-DME dan gasifikasi memang pernah digagas, namun semuanya masih terfragmentasi, kekurangan pendanaan, dan tidak terintegrasi dalam strategi industri nasional yang menyatu.
“Konsekuensi dari kurangnya visi jangka panjang ini kini terlihat jelas. Harga batu bara telah merosot drastis dengan batu bara GAR 4.200 kcal/kg dinilai hanya $44,99 per ton pada Desember 2025, turun 71% dari level puncak 2021, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dalam empat tahun di $39,40 per ton pada Juni 2025. Dampak terhadap penerimaan negara pun sangat signifikan pendapatan ekspor turun sekitar 20% meskipun volume hanya turun 5,8%, menunjukkan bagaimana elastisitas harga memperbesar dampak ekonomi,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia kini terpaksa memangkas produksi menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun dari 790 juta ton pada 2025, sementara operasi dengan biaya produksi tinggi menghadapi tekanan eksistensial yang dapat berujung pada penutupan permanen, bukan sekadar penghentian sementara.
“Setiap tahun, Indonesia kehilangan puluhan miliar dolar AS karena terus mengekspor batu bara mentah tanpa mengubahnya menjadi produk bernilai tambah seperti DME, metanol, hidrogen, dan amonia. Tanpa strategi hilirisasi yang jelas dan terarah, siklus boom-bust dan peluang yang terlewatkan ini akan terus berulang,” katanya. (gas)













