SURABAYA | DutaIndoesia.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) konsisten menyuarakan kecaman terhadap kebrutalan Israel yang menjajah Palestina dan Lebanon. Selain mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang mereka tangkap di perairan internasional–termasuk 9 WNI dan dua di antaranya jurnalis Republika–Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla juga mengecam serangan Israel terhadap Lebanon Selatan yang berlangsung sejak 2 Maret 2026.
Menurut Gus Ulil, tindakan Israel merupakan bentuk kebrutalan karena tidak hanya menyerang Gaza, Palestina, tapi juga Lebanon yang lagi-lagi kebanyakan korbannya warga sipil.
“Di Lebanon Selatan, Israel melakukan serangan brutal terhadap warga sipil dengan alasan melakukan pengejaran terhadap kelompok Hezbollah. Tetapi yang jelas, Israel melakukan serangan yang banyak menimbulkan korban di kalangan sipil,” katanya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Gus Ulil mengatakan serangan tersebut telah menewaskan hampir 3.000 orang dan memaksa sekitar 1,6 juta warga mengungsi. Selain itu, tindakan Israel juga dinilai melanggar kedaulatan Lebanon sebagai negara berdaulat.
“Jumlahnya cukup besar sekali. Dan dengan serangan itu, Israel melanggar teritori negara yang berdaulat, yaitu Lebanon,” jelasnya.
PBNU, lanjut Gus Ulil, mengutuk berbagai tindakan brutal yang dilakukan Israel, termasuk operasi militer yang masih berlangsung terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. “Kita mengutuk tindakan-tindakan brutal Israel ini, termasuk kebrutalan yang masih terus dilakukan oleh IDF atau Angkatan Bersenjata Israel terhadap warga Palestina,” tegasnya.
Menurut Gus Ulil, meskipun perang Gaza secara formal telah berakhir setelah adanya perjanjian damai yang diupayakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Sharm El Sheikh, Mesir, tindakan kekerasan oleh Israel Defense Forces (IDF) masih terus terjadi hingga saat ini. “Tetapi tindakan-tindakan brutal oleh Israel Defense Forces atau Angkatan Bersenjata Israel sampai sekarang masih berlangsung di Gaza dan juga di Tepi Barat,” terangnya.
Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon atau Lebanon National News Agency (NNA) melaporkan bahwa pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara di kawasan perbukitan Rayhan, wilayah Jezzine, pada Selasa (19/5/2026) pagi.
Selain serangan udara, artileri Israel juga dilaporkan menggempur kawasan Arid Dbine di Distrik Marjayoun. “Pada malam sebelumnya, pesawat Israel juga menyerang kota Kfara, pinggiran Kfardounine menuju Deir Kifa, serta sebuah rumah di jalan utama Kfara di Distrik Bint Jbeil,” tulis laporan NNA.
NNA juga melaporkan bahwa Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan jumlah korban akibat agresi yang berlangsung sejak 2 Maret hingga 18 Mei telah mencapai 3.020 orang tewas dan 9.273 lainnya luka-luka.
Sebelumnya serdadu Israel juga menculik aktivis Global Sumud Flotilla yang berlayar di perairan internasional menuju Gaza. Sembilan WNI termasuk dua jurnalis Republika hingga kini ditawan tentara negeri Zionis itu. Untuk itu PBNU mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditangkap di perairan internasional tersebut.
Gus Ulil mengatakan bahwa penangkapan tersebut tidak dapat dibenarkan karena misi Flotilla yang terdiri dari puluhan kapal itu bertujuan menyalurkan bantuan dan dukungan kemanusiaan bagi warga Gaza.
“Pertama adalah mengutuk keras intersepsi atau pencegatan perahu-perahu Global Sumud Flotilla yang sekarang menuju Gaza. Jumlahnya sekitar 52 kapal. Dan melibatkan 400-an aktivis dari berbagai negara, ada 40-an negara termasuk dari Indonesia,” katanya dikutip dari NU Online.
Gus Ulil menyebut, kapal-kapal Global Sumud Flotilla telah dicegat oleh Angkatan Laut Israel pada hari sebelumnya. Intersepsi tersebut dikutuk keras karena tujuan utama misi flotilla ini adalah menyalurkan bantuan dan dukungan kemanusiaan bagi warga Gaza.
“Ini bukan kapal-kapal yang membawa senjata. Ini kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza dan sekaligus memberikan dukungan kepada warga Gaza,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah Israel dituntut untuk segera melepaskan anggota Global Sumud Flotilla yang saat ini ditahan. Termasuk di antaranya terdapat warga Indonesia, sehingga pembebasan segera menjadi keharusan.
“Yang kedua, kami juga menuntut pemerintah Israel untuk segera melepaskan anggota global sumud flotilla yang sekarang ditangkap termasuk ada 9 warga Indonesia termasuk 2 wartawan kalau tidak salah dari Republika kita menuntut untuk segera dilepaskan,” ungkapnya.
Menurutnya, penangkapan Israel terhadap aktivis Global Sumud Flotilla tidak dapat dibenarkan karena dilakukan saat mereka masih berada di perairan internasional. Lebih lanjut, Gus Ulil menegaskan bahwa pemerintah Indonesia didorong untuk membantu warga Indonesia yang saat ini ditahan dan melakukan segala upaya agar mereka segera dibebaskan.
“Yang ketiga, kami juga mendorong pemerintah Indonesia untuk ikut membantu warga Indonesia yang ditangkap saat ini atau ditahan dan dilakukan segala upaya untuk segera melepaskan mereka,” pungkasnya.
Melansir Republika, sembilan WNI yang berlayar ke Gaza, termasuk jurnalis Bambang Noroyono; Thoudy Badai; Andre Prasetyo Nugroho; Rahendro Herubowo; dan Andi Angga, ditangkap Israel. Padahal kapal mereka di perairan internasional dan dalam misi kemanusiaan untuk warga Gaza. (nuo)













