KARLSRUHE|DutaIndonesia.com – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU/NU Internasional) menyambut gembira Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi keberadaan kader NU yang menjadi ilmuwan di luar negeri. Muhammad Rodlin Billah (Gus Oding), Ketua PCI NU Jerman, yang sedang menyelesaikan studi bidang Optik di Karlsruher Institut fur Technologie (KIT), mengatakan, pihaknya senang mendengar sambutan Presiden yang menggarisbawahi pelibatan nahdliyin ahli dalam berbagai program PBNU.
“Kami percaya PBNU dapat dengan segera memanfaatkan keberadaan para nahdliyin yang ahli dan ‘siap pakai’ dalam bidang IT, untuk turut membantu merealisasikan program-program strategis PBNU yang terkait dalam bidang tersebut. Para nahdliyin yang ahli, seperti Mas Ainun Najib, ini telah menempuh berbagai pendidikan, pelatihan, dan mendapatkan berbagai pengalaman. Kami percaya peranan mereka dapat membantu percepatan pelaksanaan program-program PBNU tersebut,” kata Gus Oding kepada DutaIndonesia.com Kamis 3 Februari 2022.
Baca Berita Terkait: Kader NU di Jepang, Ada yang Ahli Mobil Listrik, Nano Teknologi, hingga Fuel Cell
Selain bidang IT, sesungguhnya keadaan serupa mengenai berlimpahnya nahdliyin yang ahli juga dapat ditemukan dalam berbagai bidang yang lainnya. Dalam konteks Jerman sendiri, misalnya, tidak sedikit nahdliyin yang berkecimpung dalam berbagai bidang. Mulai dari yang fundamental seperti fisika, kimia, juga biologi, hingga yang aplikatif seperti Industri 4.0, kesehatan, bahkan penerbangan.
“Mereka bekerja dalam berbagai strata, mulai dari profesor, asisten riset, kandidat doktor, master, sarjana, hingga vokasi. Ini baru menyoroti kasus di internal pengurus PCINU Jerman, belum lagi membincang PCINU lain yang berkedudukan di negara dengan sains, teknologi, dan inovasi sebagai driver utamanya (seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, UK, Belanda, dan lainnya) beserta warga nahdliyin secara umum,” katanya.
Untuk menyikapi keadaan ini, kata Gus Oding, setidaknya tiga hal yang dapat diopinikan:
a. Pelibatan SDM nahdliyin ahli dalam berbagai program PBNU, menurut hemat kami, tidak serta merta mengharuskan yang bersangkutan untuk “pulang” ke Indonesia. Apalagi bila yang bersangkutan sudah memiliki pekerjaan tetap dengan posisi yang strategis, dan juga tinggal bersama keluarganya bertahun-tahun di negara tersebut. Ditambah dengan kemajuan teknologi video conference dan berbagai platform kolaborasi secara remote, maka dimana pun nahdliyin ahli tersebut berada, bukanlah sebuah halangan untuk turut berkhidmah.
b. Fokus pelibatan SDM nahdliyin ahli, sebaiknya tidak terbatas hanya pada aspek teknis/pelaksanaan program-program strategis PBNU, melainkan juga pada program-program serupa transfer teknologi, dan juga pengembangan generasi SDM berikutnya yang role model-nya mengambil dari portfolio para nahdliyin ahli tersebut. Singkatnya, bagaimana PBNU dapat mencetak lebih banyak kader seperti Mas Ainun Najib, dkk.
c. Saat ditanya secara kuantitatif “berapa banyak nahdliyin yang ahli IT seperti mas Ainun Najib?” rasanya berbagai pihak akan kesulitan menjawab. Salah satu sebabnya ialah belum adanya proyek database yang masif, terstruktur, dan sistematis, di mana objek/targetnya turut mencakup diaspora nahdliyin di berbagai belahan dunia.
“Demikian juga untuk menjawab pertanyaan mengenai mapping kader NU di sejumlah negara, tentu kami akan lebih kesulitan menjawabnya sebab database-nya saja belum ada, apalagi mappingnya. Karena itu, kami senang sekali isu pembuatan database NU secara menyeluruh ini mencuat saat pelantikan PBNU yang baru kemarin, sebab hal ini termasuk pada masalah yang fundamental sebelum mencoba menjawab permasalahan lainnya,” katanya.
Gus Oding sendiri adalah ilmuwan NU yang sudah diakui di Jerman. Beliau bersama timnya pernah mendapat penghargaan Leibinger Innovationpreiss tahun 2018 yang diberikan oleh Leibinger Stiftung, sebuah yayasan milik keluarga Berthorld Leibinger.
Mengutip bangkitmedia.com, yayasan pemilik perusahaan Trumpf (bukan Donald Trump, Red.) ini setiap dua tahun sejak tahun 2000 memberikan penghargaan kepada kelompok periset di seluruh dunia yang sudah memberikan kontribusinya yang mengagumkan di bidang laser dan aplikasinya. Dan Gus Oding menjadi ilmuwan Indonesia satu-satunya yang mendapat penghargaan tersebut. (gas)














