Singkatnya saya ingin sampaikan bahwa yang dia lihat di HP saya adalah Al-Quran dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Dan Al-Quran itu terjaga dalam bahasa aslinya.
Saya lihat wajahnya serius. Tapi menampakkan senyuman seolah mengapresiasi apa yang saya sampaikan. Tiba-tiba meminta kalau dia ingin melihat apa yang saya tulis. “Can I see it?” (Boleh saya lihat?).”
Tanpa berpikir apa pun saya perlihatkan. Toh dia juga tidak paham karena tulisan saya itu berbahasa Indonesia. Hanya ayat-ayat Al-Quran saja yang berbahasa Arab.
“It looks beautiful” (terlihat cantik),” ungkapnya.
“But why Muslims don’t like people?” (Tapi Kenapa orang-orang Islam tidak suka orang?).” Maksudnya orang lain atau non Muslim.
“It’s not true. Am I not a Muslim? I am talking to you right? Do you think I hate you?” (Nggak benar. Saya Muslim bukan? Dan saya bicara ke anda kan? Menurut anda saya membencimu?),” tanya saya.
Dia kembali tersenyum. Tapi dia kembali menyambung. “How about Muslims don’t respect women?” (Bagaimana tentang orang-orang Islam tidak menghormati wanita?).”
“Where did you learn and read about that?” (Di mana anda pelajari atau membaca tentang itu?),” tanya saya.
“Taliban do that” (Taliban melakukan itu),” jawabnya.
“But where did you get the info about Taliban?” (Dari mana anda dapat informasi mengenai Taliban?),” tanya saya
“News” (media),” jawabnya singkat.
“Listen, religion or Islam can not be learned or taken from the media”, (dengarkan. Agama atau Islam tidak bisa dipelajari atau diambil dari media),” kata saya.
“Any religious belief has its original source” (agama apa saja pasti ada sumber aslinya).”
“Al-Qur’an and Prophet Muhammad teachings are Islam’s original sources. Not CNN or Fox News” (Quran dan Sunnah adalah sumber Islam. Bukan CNN atau Fox News),” jelas saya.
“But what is about Shariah? Stonning the women, chopping peoples hands” (Tapi bagaimana tentang Syariah? Merajam wanita, potong tangan…),” seolah ingin membenarkan jika Islam itu sangat menakutkan.











