Perdamaian yang Egoistik

oleh

Materialisme – Kapitalisme

Cara pandang manusia yang seperti itu yang melahirkan pandangan hidup yang materialistik. Atau lebih dikenal dengan pandangan hidup “materialisme” yang bertumpu pada kekuatan kapital (kapitalisme).

Manusia sejatinya bukan (hanya) wujud material. Wujud manusia sesungguhnya ada pada hatinya. Realita ini dalam Islam lebih dikenal dengan “fitrah” yang sekaligus menjadi Identitas dasarnya. Identitas yang bersifat abadi (laa tibdiila) walau sering tersembunyikan (covered) oleh ego manusia.

Kebodohan lain dari manusia adalah cara pandang terhadap keyakinan beragamanya yang kurang pas. Seringkali agama kita pandang sebagai “tumpukan ritual” yang bersifat seremonial.

Esensi agama itu ada pada upaya untuk menjaga fitrah manusia. Dan karenanya agama secara esensi sejalan dengan fitrah manusia. Ketika agama tidak sejalan dengan fitrah maka itu bukan agama. Bahkan agama itu identik dengan fitrah: “Fitrah Allah yang dengannya manusia diciptakan. Itulah agama yang lurus” (At-Rum).

Karena fitrah manusia itu relevansinya dengan spiritualitas, seperti yang disebutkan di atas, maka esensi agama itu ada pada aspek spiritualitas (ruh). Semua amalan agama yang ada, termasuk di dalamnya amalan-amalan ritual bahkan hukum-hukum yang terkait, bertujuan untuk menguatkan spiritualitas manusia.

Dangkalnya spiritualitas dalam beragama menjadikan agama seolah naif membangun karakter manusia yang berakhlakul karimah. Termasuk di dalamnya karakter damai. Manusia nampak taat beragama. Tapi justeru terhalang oleh simbol-simbol beragama. Esensinya (ruh) sangat dangkal.

Beragama seperti ini kerap melahirkan penampakan yang paradoks. Nampak beragama di satu sisi. Tapi juga nampak sangat anti agama ada di sisi lain. Termasuk di dalamnya beragama tapi membenci dan melakukan kekerasan kepada sesama manusia.

No More Posts Available.

No more pages to load.