Perdamaian yang Egoistik

oleh

Perdamaian yang Egoistik

Hal lain yang saya tekankan dalam presentasi singkat saya adalah pentingnya “peace” (Perdamaian) dibangun secara sosial. Bahwa “peace must begin with me” (Perdamaian harus bermula dengan saya) penting. Tapi kedamaian pada diri sendiri jika tidak diterjemahkan ke dalam hidup sosial akan menjadi “Perdamaian yang egoistik”.

Saya secara pribadi bisa merasakan damai dan perdamaian. Saya bisa damai dengan Pencipta saya, dengan diri dan lingkungan saya. Tapi apakah lingkungan sosial saya merasakan hal yang sama?

Di dunia yang penuh dengan ketidakpastian saat ini, saya melihat pentingnya mewujudkan Perdamaian tidak lagi (atau tidak saja) pada tingkatan emosi (rasa). Tapi bagaimana rasa itu dapat diwujudkan minimal ke dalam tiga hal:

Satu, kebutuhan mendesak untuk mewujudkan kemakmuran bagi semua. Bahwa kedamaian yang dirasakan oleh mereka yang kelaparan boleh saja hanya bersifat sesaat dan eksidental. Ada masa-masa rasa damai itu berbalik menjadi perilaku buas.

Dua, bahwa Perdamaian sejati tidak akan terwujud ketika ketidakadilan masih mendominasi dunia kita. HAM, termasuk kebebasan dan kemerdekaan ditafsirkan berdasarkan kepada kepentingan orang-orang tertentu. Tegakkan keadilan sosial demi terwujudnya Perdamaian yang berkesinambungan (sustainable peace).

Tiga, salah satu bentuk ancaman kepada Perdamaian hidup manusia adalah ancaman kerusakan lingkungan atau lebih dikenal dengan “climate change”. Karenanya bahagian dari aktualisasi Perdamaian harusnya dengan Membangun komitmen bersama dalam menjaga lingkungan (environment).

Itulah beberapa poin pokok yang saya sampaikan dalam acara memperingati Hari Perdamaian Internasional (World Day of Peace) di kota New York. Semoga menyadarkan! (*)

New York City, 21 September 2021

  • Imam Shamsi Ali adalah Presiden Nusantara Foundation USA.

No More Posts Available.

No more pages to load.