Prokontra Sesajen, Ini Penjelasan KH Abdul Wahab Ahmad, Silakan Anda Berpendapat…

oleh


SURABAYA |DutaIndonesia.com – Penjelasan Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, KH Makruf Khozin, yang juga dikenal sebagai Direkur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, justru membuat bingung umat. Penjelasan yang dimuat di Facebook yang kemudian dikutip  nu.or.id bertajuk ‘Viral di Semeru, KH Ma’ruf Khozin Jelaskan Hukum Sesajen dalam Islam’ itu dinilai terkesan membolehkan sesajen. Padahal sesajen sangat potensial dihukumi haram.

“Setelah membaca dengan seksama, kesannya Sesajen itu boleh. Alasannya pelakunya orang Islam. Sembelihannya membaca Bismillah. Lalu, dengan entengnya mengatakan, bahwa makanan (Sesajen) itu, sengaja mereka letakkan di atas gunung, untuk makanan burung. Dengan begitu, tidak masalah, tidak mendatangkan murka Allah. Kok aneh?” kata salah seorang warga nahdliyin yang juga kader GP Ansor Surabaya seperti dikutip dari  duta.co, Kamis (13/1/2022).

Namun warga NU tidak perlu bingung. Sebab beda pandangan hal lumrah asal dilakukan untuk mencari kebenaran. Bukan permusuhan.

Yang jelas masalah MEMAHAMI “IBARAH SESAJEN”, sudah ada penjelasan dari KH Abdul Wahab Ahmad, yang juga anggota LBM (Lembaga Bahtsul Masail) PWNU Jatim, PCNU Jember dan anggota Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Penjelasan ini juga terunggah dalam akun facebooknya, dengan banyak komentar.

Berita Terkait: Prokontra Sesajen Gunung Semeru

Judulnya: MEMAHAMI “IBARAH SESAJEN”. Isinya begini:

“Sebagian kawan menukil beberapa ibarah (kutipan kitab fikih) untuk membenarkan tradisi pemberian Sesajen yang diberikan dengan cara tertentu. To the point, saya secara pribadi mempunyai pemahaman yang berbeda dalam membaca ibarah-ibarah tersebut sehingga bagi saya kurang pas bila itu dijadikan dasar justifikasi sesajen,” demikian kiai muda ini mengawali tulisannya.

 Menariknya, tulisan ini naik ke facebook setelah ia berbincang santai via WhatsApp dengan Kiai Ma’ruf Khozin. Ya begitulah tradisi di kalangan NU. Beda pendapat tapi tetap rukun guyup untuk mencari kebenaran.

 “Setelah berbincang santai via WhatsApp dengan akhi al-karim senior saya di LBM, Kyai Ma’ruf Khozin, tentang ini, beliau meminta saya untuk menuliskan pemahaman saya,” terangnya.

“Sebagai pasukan beliau di Aswaja NU Center, saya melaksanakan permintaan beliau tersebut sekaligus memohon koreksi pada beliau dan sahabat-sahabat yang lain tentang hasil pembacaan saya,” jelasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.