Selain Tenun Ende NTT dan Gringsing Bali, Wastra Sulawesi dan Ternate Juga Memukau Pengunjung New York Indonesia Fashion Week

oleh

NEW YORK|DutaIndonesia.com –  New York Indonesia Fashion Week (NYIFW) selalu mengangkat wastra nusantara ke forum dunia. Selain wastra Tenun Ende NTT dan Gringsing Bali,  saat gelaran New York Indonesia Fashion Week pada Sabtu, 11 Februari 2023 lalu, ada juga beberapa wastra dari Sulawesi yang tampil sangat memikat seperti wastra dari Buton Tengah, Bombana dan Goa.

Selain itu ada pula dari Ternate Maluku Utara. “Dari Ternate , Maluku Utara pun membawakan batik Goheba, batik khas dengan lambang burung Goheba. Batik yang kurang banyak diketahui masyarakat luas, tapi sangat mengagumkan dan memukau di acara fashion show kemarin,” kata Vanny Tousignant, founder dan produser NYIFW kepada DutaIndonesia.com Jumat (17/2/2023). 

Terlihat dalam foto yang menyertai artikel ini tampak wastra dari Ternate. 

“Foto itu para model NYIFW dengan Batik Goheba Ternate di atas roof kapal pesiar saat acara fashion show kemarin,” kata Vanny.

Dari Jawa Barat,  kata Vanny, ada juga beberapa wastra yang dinaikkan oleh brand Hanny Lovelly dan juga brand LM by Lina Marlina.

“Total brand wastra dari Indonesia ada 18 brand dan 1 brand lokal dari Amerika, Chebes Couture,” kata diaspora Indonesia yang sudah 30 tahun lebih tinggal di New York Amerika Serikat ini.

Seperti diberitakan sebelumnya gelaran New York Indonesia Fashion Week kali ini tampil beda dari gelaran sebelumnya. Acara sendiri berada di kapal pesiar yang berkeliling di Kota Manhattan selama empat jam. Beberapa yang hadir berasal dari sejumlah kalangan, termasuk diaspora Indonesia.

Termasuk Founder Yayasan Indonesia Art Festival (IFAF) Lina Marlina bersama Founder dan  Director New York Indonesia Fashion Week, Vanny Tousignant. IFAF merupakan yayasan yang berusaha mengangkat citra wastra nusantara yang didirikan oleh istri Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut.

“Misi utama NYIFW memang mempromosikan dan mengangkat kekayaan tradisi budaya Indonesia di tingkat internasional. Sekaligus mendorong UKM Indonesia, khususnya wastra nusantara, untuk go global. Kali ini kami berkolaborasi dengan IFAF,” kata Vanny Tousignant selaku founder dan director NYIFW. 

Karena itu, Vanny berterima kasih kepada Pemda maupun pihak swasta yang satu visi dan misi dengan NYIFW untuk mengangkat kekayaan tradisi budaya Indonesia di forum internasional. “Peran Pemda dan swasta ini sangat penting dalam mengangkat karya UKM di tingkat dunia,” katanya.

Mengutip fimela.com wastra tenun Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan warisan tradisi yang memiliki ciri khas warna coklat gelap. Motifnya kecil dan ada salur hitamnya, terdiri dari motif dan ragam hias. Motif itu disebut dengan kepala kain, dan ragam hias disebut kaki kain.

Sedang wastra tenun gringsing, menurut wikipedia, adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat yang pengerjaannya memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan, Bali. 

Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki kain gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus. Kata gringsing berasal dari gring yang berarti ‘sakit’ dan sing yang berarti ‘tidak’, sehingga bila digabungkan menjadi ‘tidak sakit’. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah seperti penolak bala. 

Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain gringsing.

Nah kehadiran dua benda khas nusantara itu tidak lepas dari peran Prasetyo Anggodo.

Sebab, designer asal Bali ini membawa serta kain etnis itu dan memamerkan dalam gelaran ajang internasional tersebut. Keduanya dibuat dengan tampil unik hingga membuat penonton terpukau.

Para model NYIFW menggunakan pakaian berbahan tenun ende dan gringsing dalam langkah cat walk di kapal pesiar yang berkeliling di perairan New York. Beberapa WNI yang hadir juga terlihat bangga dengan desain pakaian tersebut.

“Saya mengapresiasi gelaran ini, khususnya penampilan dari Prasetyo Anggodo,” kata Ayu Heni Rosan, istri Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Rosan Roesiani, dalam siaran persnya, Rabu (15/2/2022).

Melihat antusias dan memukaunya dua wastra itu, Ayu mengharapkan Anggodo untuk terus berkarya dan tampil dalam ajang fashion show international. Ia juga mengingatkan agar Anggodo konsisten mengangkat dua kain khas  itu.

Sementara Anggodo sendiri merasa tersanjung dengan antusiasme penonton khususnya para WNI yang hadir di gelaran NYIFW. Ia mengakui keberadaannya dalam acara itu tidak lepas dari dukungan Pemkab Jimbaran dan Pemprov Bali, serta beberapa perusahaan nasional seperti, Magnun Holding (PT Delapan Benua) dan Nutrimax Food Supplement (PT Suryaprana Nytrisindo).

Kedua perusahaan itu diakui Anggodo memiliki visi sama dengannya, yakni menjadikan produk lokal dan wastra Indonesia menembus pasar global sehingga dapat memperkuat UMKM. Termasuk mengharumkan bangsa Indonesia di mata dunia.

“Produk UMKM akan terus kami dukung untuk naik kelas menjadi Internasional,” kata Nani Hastuti selaku Direktur Marketing communication Nutrimax bersama Aryo Prahasto selaku COO Magnum. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.