SURABAYA| DutaIndonesia.com – Waspadai jika terjadi perdarahan vaginal pasca menopause, sebab itu bisa menjadi gejala klinis adanya kanker endometriosis.
Dr dr Brahmana Askandar SpOG Subsp Onk (K) mengatakan itu dalam SYMPONI 2025: Surabaya Symposium of Oncology 2025 bertema ‘Multidisciplinary Approach in Women’s and Children’s Oncology’ di Hotel Ciputra, Sabtu (22/11/2025).
Lebih lanjut dijelaskan, perempuan dikatakan sudah menopause jika selama 12 bulan berturut-turut tidak mengalami perdarahan haid. Dengan kata lain perempuan yang sudah mengalami menopause, tidak boleh ada perdarahan vaginal. “Kalau terjadi perdarahan, itu abnormal. Abnormalnya itu apakah kanker? Belum tentu, karena kanker 10%. Tapi yang 10% ini tidak boleh terlewat, harus dicek, ” tandas dokter kandungan yang juga konsultan onkologi ini.
Beberapa faktor risiko kanker endometriosis di antaranya obesitas, diabetes melitus dan PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik) atau gangguan hormon yang umum pada wanita usia subur. “Mereka yang mengalami menarche (mens) terlalu dini dan yang terlambat menopause berisiko lebih tinggi. Karena apa, karena paparan estrogennya terlalu lama. Kanker endometrium ini kan paparan utamanya adalah hormon estrogen,” ujar Brahmana.
Dia menyebut mereka yang mengalami menopause usia 40 tahun dan 56 tahun, risiko terkena kanker endometrium lebih tinggi pada yang mengalami menopause usia 56 tahun.
Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, terutama pada perempuan dan anak.
Mengutip udata Globocan 2020, General Manager Adi Husada Cancer Center (AHCC) dr Silvia Haniwijaya Tjokro MKes menyebut, kanker payudara dan kanker endometrium merupakan jenis kanker yang paling umum serta menjadi penyebab utama kematian terkait kanker di Indonesia.
Selain itu, kanker juga menjadi penyebab signifikan kematian pada pasien pediatrik (anak) dan remaja. Pada 2025 saja, diperkirakan 9.550 anak (usia 0–14 tahun) dan 5.140 remaja (usia 15–19 tahun) akan didiagnosis menderita kanker.
“Tren ini menunjukkan bahwa beban kanker tidak hanya terus berlangsung, tetapi juga diproyeksikan meningkat dengan diagnosis global diperkirakan mencapai 35 juta kasus per tahun pada 2050,” ujar Silvia dalam simposium yang diselenggarakan sebagai puncak rangkaian acara ulang tahun ke-8 AHCC.
Di tengah meningkatnya kasus kanker tersebut, banyak pasien Indonesia memilih berobat ke luar negeri karena persepsi bahwa layanan kesehatan di luar negeri lebih profesional dan lebih maju.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi fasilitas kesehatan dalam negeri untuk terus meningkatkan kualitas layanan, baik dari segi kompetensi tenaga medis maupun pemanfaatan teknologi. Dan yang tak kalah penting adalah komunikasi yang efektif kepada pasien.
Untuk menjawab tantangan itulah AHCC menyelenggarakan SYMPONI 2025. “Ini merupakan kegiatan ilmiah yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas tenaga medis Indonesia melalui pembaruan ilmu dan diskusi multidisiplin. Tahun ini, Symphony 2025 menghadirkan kolaborasi istimewa dengan pakar medis dari Malaysia,” ujarnya.
”Di usia ke-8 ini kami ingin menunjukkan kematangan AHCC dengan membawa konsep ‘Tumor Board’ ke forum ilmiah. Menangani kanker itu harus ‘keroyokan’, harus kerja tim,” lanjutnya.
Dengan diadakannya simposium multidisiplin ini diharapkan terwujud jejaring rujukan yang lebih kuat dan kolaboratif sehingga pasien dapat menerima perawatan yang tepat waktu dan tepat sasaran.
“Melengkapi perayaan sewindu AHCC, berbagai program yang memudahkan para pasien kanker juga dihadirkan. Di antaranya program promo free akomodasi dan penjemputan bagi pasien yang melakukan treatment radioteraphy di AHCC. Juga program CSR berupa bantuan bagi pasien yang membutuhkan radioterapi namun mengalami keterbatasan finansial” ujar marketing manager AHCC, Virgie Keen. (ret)













