UMKM Menembus Pasar Global: Diaspora di Korsel Dukung Pertamina Gandeng ITPC untuk UMKM Green Export

oleh
Epie Sukadi Boneka Vikaku
Epie Sukadi pemilik UMKM boneka Vakikus di Kota Batu berharap bisa menembus pasar Korea Selatan.

 

Peran BUMN seperti PT Pertamina (Persero) sangat penting dalam menggenjot UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Tanah Air menembus pasar global. Sejumlah UMKM sudah mulai mencoba pasar internasional tapi masih dalam skala kecil. Mereka berharap bisa naik kelas, melakukan ekspor produk dalam skala besar.

 

Oleh Gatot Susanto

 

PELUANG pasar ekspor terbuka lebar bagi UMKM di Tanah Air. Bahkan volumenya bisa besar. Misalnya pasar Korea Selatan (Korsel). Dimas Harris Sean Keefe, diaspora yang juga PhD Student International Trade and Commerce di Pusan National University, Busan, Korea Selatan, saat dihubungi Koran Global News dan DutaIndonesia.com, Rabu (18/10/2023) membenarkan bahwa pasar produk UMKM Indonesia di Korsel sangat besar. Karena itu, UMKM perlu dukungan untuk menjemput pasar di negeri ginseng tersebut.

“Menurut saya tantangan UMKM memasuki pasar global, khususnya di Korsel, adalah pembiayaan, pelatihan dan pendampingan. BUMN, seperti PT Pertamina, dapat berkolaborasi dengan lembaga keuangan pemerintah untuk menyediakan skema pembiayaan dengan bunga rendah bagi UMKM yang ingin menembus pasar internasional. Kemudian, BUMN dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan atau pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas UMKM dalam menghadapi persaingan global, misalnya dalam hal standardisasi produk, pemasaran internasional, dan pemahaman regulasi ekspor. Terakhir, harus ada program mentorship di mana BUMN besar dapat membantu pendampingan UMKM dalam perjalanan mereka menuju pasar global,” katanya kepada Global News dan DutaIndonesia.com.

Sebagai contoh, kata dia, PT Pertamina dapat menyelenggarakan atau mensponsori pameran yang fokus pada energi dan teknologi terkait, di mana UMKM yang bergerak di bidang yang sama dapat ikut serta. Mengingat Pertamina sedang menuju green energy, mereka bisa mengadakan program pelatihan bagi UMKM tentang bagaimana mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam operasi dan produk mereka.

“Pertamina, tentunya memiliki jaringan bisnis global yang luas. Mereka bisa membantu UMKM untuk membangun kemitraan di pasar internasional seperti Korea Selatan maupun negara lainnya,” ujarnya.

Dimas pun mendukung langkah PT Pertamina yang telah menggandeng Indonesian Trade Promotion Center atau ITPC yang merupakan lembaga perwakilan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag RI) di luar negeri. Lembaga ini berfungsi mempromosikan ekspor produk dan layanan Indonesia ke pasar internasional. Kolaborasi dengan ITPC dapat menjadi katalis dalam memfasilitasi UMKM untuk menembus pasar global.

Kerjasama Pertamina dengan Kemendag RI ini untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas melalui berbagai pelatihan di program UMK Academy 2023 yang diinisiasi oleh perusahaan tersebut. Kurikulum program UMK Academy meliputi Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.

“Pertamina dan juga perusahaan BUMN lain serta ITPC dapat bekerja sama untuk mengadakan pameran internasional yang memfokuskan pada sektor-sektor tertentu di mana Indonesia memiliki keunggulan kompetitif. ITPC dengan jaringan dan pengalamannya dapat membantu mendapatkan akses ke event-event besar di luar negeri,” katanya.

Dan mengingat tren global “menuju keberlanjutan”, Pertamina maupun perusahaan negara yang lain bersama dengan ITPC dapat membuat program khusus untuk mempromosikan ekspor produk dan layanan ramah lingkungan dari Indonesia. Misalnya program green export.
Menggunakan data dan wawasan dari ITPC, Pertamina dapat membantu UMKM dalam melakukan riset pasar untuk memahami peluang dan tantangan di negara-negara tertentu khususnya Korea Selatan.

“Harapan pribadi saya, dengan adanya dukungan dari BUMN seperti Pertamina saya meyakini UMKM di Indonesia dapat lebih siap dan kompetitif dalam bersaing di panggung internasional dan sekaligus mendukung inisiatif keberlanjutan yang saat ini menjadi fokus global,” katanya.

Selama di Korea Selatan, Dimas menggeluti dunia pendidikan, peningkatan kualitas SDM dan bisnis. Dimas berfokus menggali bagaimana perkembangan perdagangan internasional khususnya Korea dan Indonesia. Mulai dari regulasi hingga rantai pasoknya.

“Saat berdiskusi dengan Bapak Jerry (Jerry Sambuaga, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia pada Kabinet Indonesia Maju, Red.) membahas perkembangan ekspor impor negara Korea, menunjukkan adanya kenaikan hingga 23%. Hal ini berdasarkan dari tradingeconomics, kemudian banyak juga perjanjian-perjanjian yang sangat menguntungkan bagi para eksportir Indonesia ke Korea. Misalnya ASEAN KOREA FTA (AKFTA) dan The Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA)g,” kata Dimas, yang juga Advisory Council of Busan Global City Foundation di bawah naungan Pemerintah Kota Busan dan pernah menjadi salah seorang narasumber di webinar Strategi Pengembangan Produk UMKM Indonesia Berorientasi Ekspor ke Korea Selatan.

Tiga UMKM

Sementara itu pelaku UMKM yang menjadi binaan Pertamina sekarang sudah menjajal pasar global meski dalam skala kecil. Namun bukan tidak mungkin ceruk kecil itu suatu saat membesar hingga mampu berkontribusi terhadap penambahan devisa negara. Salah satunya UMKM di Kota Batu dan Malang, Jawa Timur. Seperti Epie Sukadi pemilik UMKM boneka Vakikus di Jl. Sudarno 10 Kota Batu, Griya Batik Olive di Jl. Imam Bonjol 76 Kota Batu, dan Coklat Topeng Malangan milik Lukis Oktihariati.

Kepada Global News dan DutaIndonesia.com, Epie Sukadi mengaku senang mendapat kesempatan menjadi mitra binaan PT Pertamina. “Dari Pertamina kami mendapat bantuan berupa pinjaman modal. Uang itu saya gunakan untuk produksi dan membeli peralatan agar produk kami bisa lebih bagus. Lebih berkualitas. Tapi yang saya incar sebetulnya program pembinaannya seperti pendampingan dan akses pasar yang lebih luas, pasar ekspor,” katanya.

Epie mengaku selama ini sudah mengirim produk bonekanya ke sejumlah negara. Dia memasarkan produknya secara online hingga tembus pasar mencanegara.

“Pemasaran saya online, melalui Instagram dan facebook, keuntungan menggunakan medsos karena bisa menjangkau ke seluruh dunia. Saya sudah pernah kirim ke Australia, Kanada, dan Singapura, tapi dalam jumlah sedikit dan langsung ke end user, bukan ekspor yang besar dalam kontainer itu. Harapan saya ingin memasarkan lebih luas lagi, ke negara lain, Amerika, Korea, atau Eropa, misalnya. Semoga bisa lebih besar dan memberi banyak manfaat untuk warga sekitar terutama ibu- ibu tetangga dan adik- adik difabel tuna rungu dan tuna grahita yang membantu produksi saya,” katanya.

Sebelumnya harapan senada juga disampaikan Lukis Oktihariati. Kepada Global News dan DutaIndonesia.com, pemilik produk Coklat Topeng Malangan di Tasikmadu, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, ini membuat produk yang cukup banyak dengan pasar lokal maupun untuk pasar global. Karena itu dia pun harus terus berinovasi agar produknya bisa diterima di pasar yang lebih luas.

“Jadi ada target pasar lokal. Ada juga yang disiapkan untuk pasar global. Untuk ekspor. Sebenarnya sudah sejak dulu ada orderan dari Hongkong dan Taiwan. Cuma kami gak sadar kalau itu ekspor. Mengapa? Ya, sebab kapasitasnya kecil. Kami berpikir kalau ekspor itu pakai kontaineran besar, gitu…,” katanya.

Lukis mengaku beruntung mendapat tiga model pembinaan UMKM dari PT Pertamina, yakni go modern, go online, dan go global. Semua itu membuatnya semakin bersemangat melakukan inovasi, jejaring, dan berkolaborasi. Khususnya saat mengikuti ajang kompetisi Pertapreneur Aggregator yang membuatnya semakin antusias untuk mandiri dan terus naik kelas.

Kini UMKM milik Lukis dikenal sebagai produsen aneka coklat, aneka keripik, dan aneka permen. Sekaligus suplier untuk toko oleh-oleh, camilan, retail modern, dan swalayan.

“Produk yang saya unggulkan itu Coklat Topeng. Karena itu coklatnya detail. Memang ada kompetitor tapi belum sedetail produk saya. Dia cuma di-blok coklat saja tidak detail karakternya seperti milik saya,” katanya.

Nurul Siti Fadillah, Manager Gallery Griya Batik Olive, Kota Batu, juga mengaku beruntung akhirnya mengenal PT Pertamina. BUMN migas ini menawari Batik Olive Program Kemitraan yang membantu bisnisnya untuk menghadapi situasi tidak menentu akibat pandemi Covid-19.

Nurul mengakui kehadiran Pertamina sangat mereka butuhkan. Pertamina hadir di saat yang tepat. Dia mengakui awalnya hanya mengharapkan bantuan finansial di tengah omzet yang terjun bebas saat itu. Maka, segera setelah mendapatkan bantuan pinjaman dana dari Pertamina, Batik Olive pun melakukan produksi lagi. Namun ternyata tantangan masih menghadang saat terjun di pasar.

“Dengan adanya bantuan finansial tersebut kami berusaha untuk berproduksi kembali. Tapi ternyata tidak hanya itu saja, melalui pendamping kami, Mbak Yayuk, kami diinfokan hampir semua kegiatan Pertamina, terutama pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pemasaran, termasuk penjualan online, yang memang secara tidak sengaja kami rasakan manfaatnya. Dan Pertamina membantu kami, yang awalnya hanya ‘berjualan lewat HP’ (handphone/ponsel) menjadi benar-benar bisa berjualan melalui media online. Media online di sini tidak hanya lewat HP tapi hampir semua media online yang ada di internet kami manfaatkan,” katanya.

Salah seorang pendamping UMKM Binaan Pertamina, Yayuk Murniwati, kepada Global News, menyebut bahwa Pertamina tidak memberi bantuan dana langsung melainkan pinjaman lunak. Perempuan yang juga pemilik UMKM aneka keripik buah “Putri Alin Jaya” di Dusun Kungkuk, Desa Punten, Kec. Bumiaji, Kota Batu, ini mengatakan, bahwa para UMKM di Kota Batu senang dengan adanya Program Kemitraan PT Pertamina ini. Program Kemitraan BUMN migas untuk Kota Batu yang dimulai tahun 2020 ini sangat membantu para pelaku usaha kecil dan menengah.

“Alhamdulillah tahun 2020, Pertamina meluncurkan program kemitraan tepat saat terjadi pandemi Covid-19, di mana banyak UMKM butuh tambahan permodalan untuk bertahan. Saat itu memang mereka sangat membutuhkan permodalan setelah bisnisnya digerus Covid-19. Pertamina hadir dan saya dipercaya sebagai konsultannya di kawasan Kota Batu dan ada pula teman saya, Bu Endahing Noor Suryanti, yang pegang kawasan Kota Malang,” kata Yayuk.

Untuk Kota Batu, Yayuk mendapat tugas mendampingi lima UMKM, di antaranya Batik Olive, Batik Anjani, Arjuna 99, Bagus Agiseta Mandiri, dan boneka vakikus . “UMKM sangat terbantu dengan program PK Pertamina ini. Dan alhamdulillah sejak tahun 2022 sudah mulai normal. Mulai jalan,” katanya.

Program Kemitraan Pertamina diawali dengan pendampingan melalui pelatihan dengan materi Bussines Model Canvas, marketing online. Misalnya digital marketing Tiktok, Instagram, Facebook, Youtube, What’sapp Bussines, dan bagaimana kita menjalankan bisnis di era milenial agar bisa Go Global.

“Selanjutnya beberapa UMKM mendapat kesempatan untuk pameran, seperti di Mandalika yang difasilitasi oleh Pertamina. Salah satunya Arjuna 99. Lalu dari Batu dan Malang Raya juga mendapat fasilitas dari Pertamina untuk ikut pameran di Jatim Fair 2022 yang digelar di Surabaya. Untuk Batu, ada Batik Olive dan dari Malang Bu Suparwati batik bordir yang ikut pameran Jatim Fair di Grand City Surabaya,” katanya.

Harapan Yayuk dan para UMKM binaan Pertamina agar perusahaan migas pelat merah itu memberikan lebih banyak lagi fasilitas untuk pameran di beberapa daerah agar pasarnya semakin besar. Misalnya membuka pasar yang lebih luas untuk UMKM dari Kota Batu dan Malang Raya. Bahkan bisa menembus pasar internasional. Apalagi sekarang program UMKM go global juga digencarkan oleh Pemerintah.

Sistem pembinaan yang dilakukan dalam program ini, pertama, Pertamina jelas memberi bantuan pinjaman permodalan lunak. Selanjutnya, pelatihan dan pendampingan. Setiap bulan Yayuk mendatangi UMKM atau berkumpul untuk saling mengungkapkan apa permasalahan yang dihadapi soal bisnisnya. Lalu mereka mengobrol mencari solusi bersama.

Kedua, memberi fasilitas untuk ikut pameran seperti di Mandalika dan Grand City Surabaya. Dan ketiga, pelatihan yang diberikan langsung oleh tim Pertamina dan pendamping dari pusat. Dia pun sangat mendukung ada penjajakan untuk ikut pameran berskala internasional.

“Yang diharapkan teman-teman UMKM sendiri sebenarnya akses pasar. Saat pandemi Covid-19, pasar mereka hilang. Karena itu, fasilitas pameran ini sangat penting, terutama pameran di luar daerah dan bahkan di luar negeri untuk menjajaki peluang ekspor. Itu harapan UMKM binaan Pertamina sebab mereka sebenarnya sudah siap go global,” katanya.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.