Wawancara Khusus dengan Ketua PCI Muhammadiyah Jepang Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. : Menggeluti Energi Surya hingga Ajak WNI Terlibat Iptek Global

oleh

Bagaimana dengan PT Semesta Energi Services? Perusahaan ini bergerak di bidang apa? Program apa yang sudah dijalankan, di mana, dan bekerjasama dengan siapa saja?

PT Semesta Energi Services merupakan perusahaan yang bergerak pada bisnis service dan consultant perusahaan minyak dan gas, energi terbarukan, dan sistem transportasi cerdas. Perusahaan ini sudah bergerak lebih dari 10 tahun dan bekerjasama dengan berbagai perusahaan multinasional dan memiliki berbagai klien baik dari dalam negeri seperti Pertamina, Elnusa, SKK-Migas, ataupun luar negeri seperti Schlumberger, Halliburton, ConocoPhillips, dan Chevron.

Semesta Energi Services mempunyai perhatian khusus terhadap munculnya aplikasi energi baru terbarukan di Indonesia, khususnya implementasi pembangkit listrik tenaga surya. Listrik yang dihasilkan oleh tenaga surya memiliki beberapa permasalahan dari mulai fluktuasi arus listrik akibat faktor cahaya, Intermittent electricity, konversi listrik DC ke listrik AC, efisiensi, penyimpanan energi, monitoring, sampai pada sinkronisasi dengan listrik PLN.

Di perusahaan ini, saya berperan dalam menganalisis proyek panel surya serta mengembangkan perangkat elektronis inverter dan charger untuk pemanfaaatan proyek tersebut. Selain itu, saya juga mendapatkan ilmu dan pengalaman kerja di perusahaan yang masih tergolong start-up namun memiliki cash flow dan proyek yang stabil, sustainable, dan profitable di bidang energi fosil dan energi baru terbarukan.

Menurut njenengan, bagaimana program energi baru terbarukan di Indonesia? Dan bagaimana juga peran perusahaan seperti Pertamina dalam mempercepat program ini, mengingat Pertamina masih fokus di energi fosil?

Tantangan kebutuhan energi di masa depan semakin besar sehingga energi baru terbarukan (EBT) itu menjadi alternatif utama dalam menjawab tantangan tersebut. Info terkini yang saya terima, pemerintah telah mencanangkan porsi pemanfaatan EBT untuk energi nasional mencapai angka setidaknya 14% dari total pembangkitan energi, yang mana tidak mudah dan tidak murah juga, baik dalam implementasi dan perawatannya. Meskipun demikian, proyek EBT wajib dimulai dan digalakkan setidaknya untuk mencapai efisiensi dan penghematan energi.

Di Indonesia, naiknya kebutuhan energi yang mencapai lebih dari 3% per tahun tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pertumbuhan penduduk, ekonomi, perilaku sosial, perkembangan industri, kebijakan pemerintah, dan persaingan global. Dari berbagai faktor tersebut, masih banyak pengguna energi yang memakainya secara tidak produktif, bahkan secara berlebihan dipakai untuk kebutuhan sekunder atau tersier, bahkan digunakan untuk hal yang tergolong bukan kebutuhan.

Mungkin suatu saat nanti, ketika harga minyak dan gas melambung berkali-kali lipat dan negara tidak mampu mensubsidi pembangkitan atau distribusi energi, para pengambil kebijakan dan masyarakat, dari berbagai kalangan, akan berlomba-lomba dalam penghematan energi bahkan untuk mencukupi kebutuhan primer.

Meskipun para ahli sudah memprediksi sumber EBT dalam satu dekade ini belum dapat menggantikan peran utama sumber energi fosil, berbagai inovasi EBT atau piranti hemat daya, dari hulu ke hilir, perlu segera diinisiasi dan diinkubasi sebelum kita mengalami keterpakasaan karena kondisi krisis.

Peran perusahaan pengelola sumber daya energi, seperti Pertamina, tidak cukup hanya menjadi “supporter”, namun juga menjadi “inisiator” implementasi EBT. Para pemangku kebijakan, para ahli, dan praktisi harus secara serius bekerjasama menginkubasi teknologi EBT sampai pada level implementasi yang berdampak yang signifikan, serta membuat perubahan besar perilaku pengguna energi secara masif, untuk menghindari krisis energi, apalagi dalam merawat negara dengan jumlah populasi penduduk terbanyak ke-4 di muka bumi ini. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.