Ada Syarat Vaksin Bikin Mal Makin Sepi

oleh
Saat pandemi pengunjung antre masuk mal CITO untuk download aplikasi PeduliLindungi dan scan QR Code guna menunjukkan pengunjung sudah vaksin setidaknya satu kali. (Foto: Gatot Susanto)

Banyak yang Belum Vaksin

Sepinya mal juga diungkap Ariffin, General Manager Maspion Square. Diakui banyaknya persyaratan membuat banyak orang enggan datang ke mal. “Apalagi resto belum boleh dine in harus take away, tapi kalau di pinggir jalan boleh. Padahal kalau di mal prokes kan sudah ketat,” ujarnya.

Sementara Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, menyebut syarat masuk mal harus divaksin membuat tak semua bisa masuk mal lantaran belum semua orang tervaksin. Bahkan pegawai tenant di mal pun masih banyak yang belum divaksin.

“Vaksin masih terbatas, itu kendala yang kita hadapi. Untuk itu kami sudah meminta agar Pemprov Jatim melalui Bu Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim untuk mempercepat pengadaan vaksin. Sehingga pengusaha tenant tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk melakukan swab bagi karyawannya yang belum divaksin,” ungkapnya, saat pembukaan kembali Pakuwon Mall di Surabaya Barat, Selasa (10/8/2021).

Sebelumnya Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) sudah bekerjasama dengan Pemkot Surabaya untuk vaksinasi terhadap 5 ribu karyawan mal. Saat ini masih ada 3 ribu hingga 4 ribu orang yang bekerja di mal belum mendapatkan vaksin.

Sutandi menambahkan, karena persyaratan itu aturan dari pusat, pihaknya manut saja. “Pengunjung yang belum vaksin, gak ada kepentingan, gak perlu dululah ke mal, sampai kita semua tunggu ada relaksasi kembali,” ujarnya.

Kendati sudah dibuka, ternyata tak semua orang lantas jadi ingin ke mal. “Saya sudah download PeduliLindungi, tapi kalau sekarang kok belum tertarik ke mal. Belanja lewat online sudah bisa,” kata Widya, mahasiswa PTN di Surabaya.
Berbeda dengan Margaretha, warga Wiyung. Beragam persyaratan untuk masuk mal itu menurut dia memang dimaksudkan untuk menghindari banyak orang berkumpul di satu tempat agar tidak terjadi penularan. Dia sendiri malas ke mal, karena butuh uang yang lebih banyak.

“Mending untuk keperluan yang lain, belanja cukup ke toko swalayan dekat rumah. Mereka kan secara rutin juga mangadakan promo-promo. Beli baju? Wah stoknya sudah banyak,” ujarnya sembari tertawa.