Tak Melapor ke Polisi
Hisyam mengaku tidak melaporlan kasusnya ke polisi karena tidak memiliki bukti mengingat pembayaran dilakukan secara tunai. Selain itu, dia bingung mau melapor ke mana sebab pelaku sekarang kabur ke Turki. “Sempat mau melapor ke Interpol, tapi di mana? Semoga bisa segera diusut oleh polisi, kasihan, rata-rata dananya pinjam bank, dan temen yang dari Semarang sudah kehilangan rumah buat proses kerja dengan Ghozali ini, dan ternyata malah ditipu. Saya sendiri sampai sekarang masih bayar angsuran bank yang uangnya dibawa kabur Ghozali itu,” katanya, sedih.
Dia mengatakan, banyak sponsor yang merekomendasikan ke Ghozali pusing sebab diserbu para korban. Dia sendiri diberi tahu soal Ghozali oleh temannya yang sekarang bekerja di Inggris. “Kami modal percaya saja sama teman ini ketika merekom dan diberi nomor kontak Ghozali. Saya tidak cek perusahaannya. Ini salah fatalnya. Tapi Ghozali ternyata pinjam nama perusahaan orang lain. Teman saya yang di UK itu orang Tulungagung,” katanya.
Ghozali bersama istrinya memakai sistem jaringan. Banyak sponsor di daerah merekomendasikan namanya sehingga para korbannya pun dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan begitu dapat calon korban dari sponsor, Ghozali sendiri jemput bola mendatangi calon korbannya itu.
“Setiap dapat korban, dia langsung nyamperin ke rumahnya. Tapi ada juga yang dapat dari lemparan sponsor lain. Istrinya juga punya andil cari calon korban,” katanya.
Lalu bagaimana banyak orang bisa tertipu oleh seorang Ghozali? Hisyam mengatakan, hampir semua korban mengaku Ghozali punya dukun. Sebab, mereka seperti terhipnotis saat melakukan pembicaraan dengan Ghozali.
“Bapak mertuanya Ghozali itu disebut-sebut seorang dukun/orang pintar. Itu info dari orang yang sudah lama ikut Ghozali, tapi bisa diperhatikan, saat si Ghozali bicara sama lawan bicaranya, dia selalu kucek-kucek mata sambil komat-kamit,” katanya. (nas)














