Awas, Puncak Omicron XBB di Depan Kita, Ikuti Nasihat Dr Gatot Ini

oleh
Dr dr Gatot Soegiarto SpPD, K-AI, FINASM

SURABAYA|DutaIndonesia.com – Jangan lengah! Covid-19 masih ada. Masih jadi ancaman. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, salah satu subvarian baru Omicron Covid-19, yaitu XBB, menunjukkan kemampuan transmisi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan subvarian lain.
“Transmisi ketiga varian baru ini lebih cepat dibandingkan (Covid-19 subvarian) BA.4, BA.5 maupun subvarian BA.1 dan BA.2. Immune escape probability-nya memang ada,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dikutip dari CNBCI Jumat (11/11/2022).

Bahkan Menkes Budi pun memproyeksikan puncak penambahan kasus Covid-19 di Tanah Air akan terjadi dalam waktu 1,5 bulan ke depan. Maksudnya Desember 2022 dan Januari 2023, momen di mana ada perayaan Natal dan Tahun Baru.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Pertama, jangan panik.

Kedua, perhatikan dan ikuti nasihat dokter pakar immunologi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD, K-AI, FINASM, kepada DutaIndonesia.com, Jumat (11/11/2022) ini.

Sebenarnya, kata Dr Gatot, ada aksioma tidak tertulis. Selama masih ada orang yang terinfeksi oleh virus SARS-CoV-2, maka selalu ada kesempatan bagi virus untuk berkembang biak (bereplikasi, memperbanyak diri, Red.) dalam tubuh orang tersebut.

Selama virus berkesempatan untuk bereplikasi, maka selalu ada kemungkinan timbulnya salah copy-paste kode genetik virus, karena virus RNA seperti halnya SARS-CoV-2 ini, tidak memiliki mekanisme proofread yang sempurna. Kesalahan copy-paste itu akan menghasilkan varian virus baru secara random.

Ada kemungkinan pula menghasilkan varian yang lemah lalu tereliminasi, tetapi ada kemungkinan juga menghasilkan varian yang mampu meloloskan diri dari antibodi yang diperoleh dari hasil vaksinasi sebelumnya (menggunakan varian virus awal / sebelumnya, Red.) atau dari hasil kesembuhan dari infeksi oleh varian SARS-CoV-2 yang sebelumnya.

“Varian baru dengan kemampuan seperti itu tentu dengan mudah menulari banyak orang, terutama yang tidak lagi patuh menjalankan upaya pencegahan 3M atau 5M,” kata dr Gatot.
Sampai di sini, masyarakat perlu mengerti karakter dari virus tersebut sehingga tidak lengah. Tetap waspada.

Namun, kata dr Gatot, masyarakat mungkin sudah bosan dibatasi dan “dikungkung” terus. Mereka pun tidak sadar bahwa ada bahaya dari sudut kesehatan yang mengancam. Mereka hanya menganggap aturan-aturan pencegahan infeksi ini menghalangi usaha / bisnis mereka.
Mereka menganggap varian baru ini bukan ancaman karena yang beredar di kalangan masyarakat menyebutkan bahwa gejalanya lebih ringan, hampir sama dengan flu biasa, dan tidak menyebabkan kematian.

Tapi lihat faktanya. Ternyata tidak seperti itu. Angka kejadian kasus baru terus meningkat, begitu pula angka kematiannya.

“Kalangan dokter pun ada yang jadi korban, walaupun mungkin diakibatkan adanya penyakit dasar atau komorbid yang ikut menentukan hasil akhir infeksi,” katanya.

Jadi, lanjut dr Gatot, mungkin masyarakat perlu diingatkan bahwa pandemi Covid-19 ini belum berakhir. “Bahwa ada aksioma tidak tertulis seperti yang saya sebutkan di atas. Oleh karena itu agar tidak terjadi peningkatan jumlah kasus dan jumlah kematian lagi, maka semua pihak harus ikut berperan memotong mata rantai penularan virus ini,” jelasnya.

Caranya:

(1) Jalani 3M atau 5M dengan patuh.

(2) Tingkatkan proteksi diri dengan meningkatkan titer antibodi seoptimal mungkin, yaitu ikuti vaksinasi primer secara lengkap, lalu ikuti vaksin booster suntikan ketiga, karena faktanya dari hasil penelitian proteksi dari vaksin akan menurun setelah 5-6 bulan dan perlu dirangsang lagi dengan suntikan booster.

Vaksinasi dengan vaksin yang didesain berdasarkan varian yang awal / varian yang lama mungkin tidak akan bisa menahan infeksi oleh varian yang baru karena varian baru punya kemampuan meloloskan diri dari antibodi. Namun setidaknya dengan titer antibodi yang tinggi hasil vaksin booster itu dapat mencegah penyakit yang berat dan kritis seandainya orang tersebut terinfeksi oleh varian yang baru.

“Penyakitnya hanya ringan dan virus segera dapat dieliminasi oleh kekebalan tubuh secara lebih singkat, sehingga kemungkinan menularkan ke orang lain, keluarga terdekat juga bisa diminimalkan,” katanya.
“Suntikan booster ternyata juga penting. Data menunjukkan bahwa mereka yang meninggal atau sakit berat sebagian besar belum suntik booster,” tegasnya lagi. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.