Catatan Pameran Moving, Spontan dan Instingtual

oleh

Pengaruh penanda dan simbol budaya kontemporer yang bertebaran dimana – mana masuk dalam ceruk – ceruk pikiran, sementara alam bawah sadar menampung segala bentuk memori citra visual. Seni visual memiliki banyak varian dan kompleksitas entah dari mana mereka berasal. 

Pengkayaan ini menjadi alasan bagi mereka untuk berekspresi tanpa mau digurui tapi lebih senang berguru pada gadget. Simbol seni terhampar luas didunia virtual yang tak terbatas, pilihan akhirnya bukan berakar pada pemikiran, tapi bagaimana mengkopi, meniru, mengadopsi dan memodifikasi untuk menjadi hal yang sesungguhnya tidak baru. 

Tidak memancing visual melalui proses kreatif terhadap kedalaman diri. Karenanya, suntikan gagasan tidak begitu besar perannya, tapi bagaimana adaptasi tersebut menyokong saluran ekspresi tanpa hambatan, spontan dan instingtual. Sebab simbol seni punya caranya sendiri untuk berubah dan berkembang.

Pameran Moving ini dipengaruhi oleh sejumlah kebiasaan saat pandemi, dinamika lingkungan sosial pasca pandemi dan penggunaan atas media sosial sebagai penanda milenium kedua ini. 

Aam dan Rifai mencoba menyikapi situasi dimasa pandemi dan setelahnya. Bagi mereka berdua, Moving dimaknai sebagai gerak aktif setelah mereka terlalu lama berkutat didalam rumah atau studio, sehingga mereka perlu menampilkan visual – visual yang selama ini sudah dikerjakan. Selama itu pula apa sesungguhnya gagasan mereka ditengah kegamangan wacana seni rupa saat dan setelah pandemi. 

Mereka berdua lebih memilih mengulik teknis yang didasarkan hasrat instingtual dalam berkarya. Misalnya Rifai, lebih menekankan dorongan intuitif yang didatangkan dari alam bawah sadar. Karyanya muncul dari tindakan – tindakan proses kreatif, respon spontan yang hadir seketika itu. 

No More Posts Available.

No more pages to load.