Pasar Khusus
Ada hal unik saat dia berdiskusi dengan tim amazon Kanada. Saat itu Entin melihat pasar fashion orang Kanada khususnya dan Barat umumnya, adalah warna-warna polos. Dia sempat berpikir, bila menampilkan karya aslinya yang handmade, edisi sangat terbatas, harganya pasti mahal. Hal ini pasti tidak bisa bersaing dengan produk lain yang dijual di amazon. Karena itu, begitu mendapat tawaran dari amazon, dia pun segera mendesain karya dengan motif, bahan, dan warna polos. Lalu meminta perajin UMKM di Bantul, Yogyakarta, yang menjadi mitranya, untuk membuat baju sesuai pesanannya tersebut.
Namun apa yang terjadi saat Entin melakukan presentasi di depan tim amazon? Ternyata, semua pikirannya itu keliru. Pihak amazon mengajak kerja sama Entin justru karena produk Entin berbeda dengan produk lain. Ya, karena batik khas Indonesia.
“Saat saya presentasikan ke Amazon, mereka malah kaget. Lo kok malah polos? Kita memilih kamu itu karena batikmu tadi. Karena di amazon belum ada batik seperti itu? Kalau polos di amazon banyak. Lalu saya bilang, kalau batik handmade kan mahal? Apa bisa bersaing? Pihak amazon bilang, bahwa ada pasar tersendiri yang suka akan batik Indonesia meski harganya mahal. Pasti ada marketnya, hanya orang-orang yang punya uang saja yang nanti membelinya. Jadi bagus, produk yang dijual di amazon bervariasi. Baju-baju itu yang pakai orang yang unik, seperti artis atau influencer, sebab dengan memakai warna-warna mencolok seperti karya saya mereka bisa menarik perhatian. Karena itu Amazon memilih Entin untuk memberi warna di Amazon. Oalah, begitu ya!? Akhirnya saya telepon UMKM di Bantul, mas alhamdulilah dapat rezeki, saya order, DP 50%,” katanya.
Entin order dilengkapi dengan order batik Ombak 100 lembar dengan DP 50% yang segera dibuat dalam waktu dua minggu.
Baca Berita Terkait:
Entin bersyukur dengan respon positif industri fashion dan media di Kanada atas karyanya. Sambil menghela napas, Entin merasa hidupnya dipenuhi keberuntungan dari Tuhan, meski awalnya harus menapak jalan terjal berliku. Penuh kesulitan. Penuh tantangan. Dia mengaku memulai dari nol. Otodidak. Karena itu semua koleksi busananya memiliki cerita tentang semangat dan perjuangannya. Kreativitas dan kerja kerasnya.
“Saya untuk membuat koleksi ini harus mengumpulkan dana sendiri, dengan mengumpulkan gaji saya sebagai pekerja di restoran,” kata Entin yang sempat bekerja di restoran donat di Kanada ini.
Selain mendesain busana, Entin juga bekerja di restoran donat di Montreal, Kanada. Dia mengumpulkan uang dari gajinya sedikit demi sedikit untuk mewujudkan cita-citanya memiliki banyak koleksi wastra nusantara hasil olah rasa dan karsanya. Entin harus bekerja keras dengan keterbatasannya sebagai warga yang baru hidup di negeri orang.
“Saya harus kerja malam sebab tidak bisa Bahasa Prancis. Mengapa? Kalau kerja siang banyak pelanggan, sehingga harus banyak komunikasi, harus bisa Bahasa Prancis. Sedang, kalau malam, tidak banyak pelanggan, bahkan restorannya kadang tutup. Saya dicarikan suami kerja di restoran donat. Bosnya bilang sebaiknya kerja malam saja, saya pun senang sebab memang lebih suka kerja malam. Saya senang kerja sendiri, tidak suka yang ramai. Saya kerja di belakang, cuci piring, ngepel lantai, masak bikin donat dan lain sebagainya,” kata Entin.













