SURABAYA| DutaIndonesia.com – Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Sekjen PBNU, dikabarkan ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU. Namun penunjukan Gus Ipul itu ternyata bermasalah dan memantik persoalan di kalangan Nahdliyyin. Bahkan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) disebut-sebut tidak setuju alias menolak penunjukan Gus Ipul tersebut. Gus Yahya bahkan menilai penunjukan Gus Ipul sebagai Organizing Committee (OC) baru pendapat pribadi-pribadi karena belum ada proses di organisasi.
Menanggapi polemik itu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MAg mengusulkan jalan tengah. Sebab Panitia Muktamar NU seharusnya netral. “Bukan kelompoknya Kiai Miftah-Saiful dan juga bukan kelompoknya Gus Yahya. Lalu siapa mereka? Diambilkan dari pengurus-pengurus PWNU,” kata Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim dalam acara shalat malam dan istighatsah di Kantor Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (4/5/2026) malam.
“Sehingga penyelenggaraannya benar-benar netral, adil dan tidak terjadi risywah,” tambah putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada Agustus 2023 itu.
Acara shalat malam dan istighatsah itu diselenggarakan secara rutin oleh Kiai Asep memang untuk menyongsong Muktamar ke-35 NU yang rencananya digelar pada Agustus 2026 mendatang. Selain itu juga untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara Indonesia.
Menurut Kiai Asep, gonjang-ganjing PBNU yang sekarang terjadi tak lepas dari adanya risywah dalam muktamar-muktamar NU selama ini.
“Risywah itu terjadi di Muktamar Makassar, Muktamar Jombang, Muktamar Lampung,” kata Kiai Asep yang mengasuh dua pesantren, yaitu Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Surabaya dan Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet Mojokerto Jawa Timur.
Karena itu, Kiai Asep memohon kepada orang-orang yang terang-terangan melakukan risywah pada kepanitiaan muktamar-muktamar sebelumnya jangan terlibat lagi dalam kepanitiaan Muktamar ke-35 NU mendatang.
“Sebab pasti kebiasaan (risywah) itu akan berlanjut,” ujar mantan Ketua PCNU Kota Surabaya ini.
Kiai Asep juga berharap calon Rais ‘Aam maupun calon Ketua Umum PBNU, Sekjen, Katib ‘Aam dan Bendahara Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU mendatang adalah orang-orang yang clear (tidak terlibat konflik) dan clean (bersih).
“Agar warga Nahdlatul Ulama tenang dan jamaah Nahdlatul Ulama di desa-desa memiliki harapan karena terwakili dalam muktamar yang baik sehingga lahir pemimpin-pemimpin NU yang baik yang bisa mewujudkan kembali khittah dan perjuangan seperti saat NU didirikan,” ujarnya.
Menurut Kiai Asep, NU saat berdiri adalah mengawal dan mengembangkan serta mendominasikan paham Ahlussunnah Wal Jemaah. Selain itu juga untuk perjuangan kemerdekaan bangsa.
“Karena Ahlussunnan Wal Jemaah itu adalah paham persatuan dan kesatuan, inklusif dan mudarah (moderat),” ujarnya.
Sekarang, tegas Kiai Asep, kemerdekaan telah kita raih. Menurut dia, perjuangan NU tetap untuk menggemuruhkan paham Ahlussunnah Wal Jemaah tapi orientasinya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu menjadikan Indonesia maju, adil dan makmur.
Kiai Asep kemudian menjelaskan cara mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan yang digagas para pejuang kemerdekaan.
“Salah satu caranya adalah melahirkan empat pilar,” ujarnya.
Pertama, tegas Kiai Asep, NU harus melahirkan ulama dan ilmuwan besar yang bisa menerangi dunia, terutama Indonesia.
Kedua, NU melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang berorientasi pada kaidah tasyaraful imam ‘alarra’iyah manutun bilmaslahah. “Bahwa orientasi seorang pemimpin itu adalah kemaslahatan untuk rakyatnya,” ujar Kiai Asep.
“Untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia,” tambahnya.
Ketiga, ujar Kiai Asep, NU melahirkan konglomerat besar. “Tapi memberikan kontribusi maksimal terhadap negara dan bangsa dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bangsa,” katanya.
Keempat, tegas Kiai Asep, NU melahirkan para profesional yang berkualitas dan bertanggungjawab. Menurut Kiai Asep, jika empat pilar itu terwujud maka NU akan memberikan sumbangan besar kepada bangsa Indonesia
Pada akhir kalimatnya Kiai Asep mohon maaf jika ada pernyataan yang tidak berkenan di hati para pengurus NU. “Kalimat saya singkat, mungkin menyakitkan, tapi insyaallah inilah kebenaran,” ujar Kiai Asep yang memiliki puluhan ribu santri putra dan putri di dua pesantrennya.
Seperti diberitakan bangsaonline.com, Gus Ipul yang merupakan orang dekat Kiai Miftachul Ahyar ditunjuk sebagai Organizing Committee (OC) atau Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU, sedangkan KH Ahmad Said Asrori (orang dekat bahkan keluarga Gus Yahya) ditunjuk sebagai Steering Committee (SC) atau Panitia Pengarah.
Sementara Sekretaris Panitia Pelaksana (OC) adalah Amin Said Husni (orang dekat Gus Yahya) dan Sekretaris Panitia Pengarah (SC) adalah Prof M Nuh (orang dekat Kiai Miftah). (bso)













