Kiprah Diaspora Indonesia di Jepang: Dengan Kimono Muslimah, Berdakwah di Negeri Sakura

oleh
Dr Miftakhul Huda bersama istri dan dua anaknya berbusana kimono.
Gita bersama warga Nahdliyyin di Jepang.

Metode Berdakwah

Baginya metode dakwah bisa dilakukan dengan menunjukkan perilaku yang baik. Misalnya memakai kimono dengan gaya muslimah. Saat itu, kata dia, penata busana kimono yang orang Jepang pun antusias dengan kimono muslimah ini. Penata busana itu lalu bertanya kenapa memakai penutup kepala (hijab). Lantas setelah dijelaskan dia pun memuji. “Kore wa kawaii… (ini bagus, Red.)” kata penata busana itu kepada Gita.

Gita mengatakan dengan menunjukkan berbusana kimono gaya muslimah dan perilaku positif lain juga bagian dari berdakwah. “Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, ‘Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain (H.R. Bukhari)’,” katanya.

Hidup di negeri dengan penduduk muslim minoritas menjadi tantangan bagi Gita dan keluarganya. Sebab, kepergiannya bersama suami ke Jepang sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

“Saya lebih suka menyebutnya sebagai tantangan berdakwah, karena saya yakin sekali Allah SWT menakdirkan kami sekeluarga tinggal di Jepang bukan hanya sekadar tinggal merantau. Tetapi ada misi Allah di baliknya. Saya merasa harus menyebarkan ajaran-ajaran Islam secara ramah kepada warga di sini,” katanya.

Selain kimono, dia lalu memberi contoh lain. “Ketika saya mau shalat di luar, saya ambil wudhu dan gelar alas di koen (taman umum, Red.). Orang Jepang di sekitar situ mungkin melihatnya aneh. Apalagi komat-kamit sendiri baca doa hehe… Tapi kalau kita percaya diri sebagai umat muslim dan tentunya tetap taat pada peraturan yang berlaku (tidak mengganggu yang lain, Red.), maka mereka pun akan terbiasa dengan suasana tersebut,” ujarnya.

Begitu pula setiap membeli produk makanan atau minuman pasti memilih yang halal. “Kita akan mengecek daftar kandungan di balik kemasannya. Hal ini sudah biasa dilakukan. Kadang memakan waktu sendiri walaupun sudah pakai aplikasi kamera di Google Translate. Untuk itu, kita harus menghafal kanji bahan-bahan yang haram dan memungkinkan menggunakan bahan tersebut,” katanya.

Saat hari raya juga jadi tantangan sebab tidak ada perayaan umum seperti di tanah air. Tidak ada libur. Tidak ada keramaian Lebaran.

“Jadi, jika hari raya jatuh pada hari kerja, maka kita bisa izin dari kantor untuk shalat dulu paginya ke masjid, lalu kembali ke kantor. Kalau diperbolehkan lebih lama jamnya, kita bisa makan-makan dulu di Wisma KBRI atau masjid-masjid yang membuka perayaan. Pandemi ini tidak ada dulu acara semacam itu,” jelasnya.

Gita mengatakan, bagaimana caranya berbagi banyak manfaat kepada orang lain salah satunya dengan berkontribusi dalam organisasi keagamaan. Selain itu juga terlibat dalam pemberdayaan perempuan, dan organisasi positif lainnya. “Tentu semua itu dijalani sesuai prinsip dan dengan skala prioritas,” katanya.