Kiprah Diaspora Indonesia di Jepang: Dengan Kimono Muslimah, Berdakwah di Negeri Sakura

oleh
Dr Miftakhul Huda bersama istri dan dua anaknya berbusana kimono.
Bersama suami dan dua anaknya menikmati menu halal di resto Jepang.

Aktif di Ormas Islam

Maka, Gita pun menenggelamkan diri dalam aktivitas sosial keagamaan tersebut. Perempuan 30 tahun dengan 2 orang anak (usia 5 tahun dan 1 tahun, Red.) ini selain sebagai ibu rumah tangga, sibuk pula menulis artikel di berbagai media, menulis buku, menjadi pembicara dalam berbagai even.

Gita juga terus menimba ilmu dengan menjadi mahasiswi jurusan Business Management di sebuah perguruan tinggi, menjabat manajer operasional Institut Ibu Profesional ASIA, Koordinator FIM Diaspora, anggota Indonesian Diaspora Network, anggota FLP Jepang, dan ambassador Konferensi Ibu Pembaharu. Bukan hanya itu, Gita juga Ketua PCI Muslimat NU Jepang, sedang suaminya Dr. H. Miftakhul Huda, M.Sc, Ketua PCINU Jepang 2017-2021.

“Untuk mengatur waktu, saya bikin jadwal harian dan mingguan. Sinkronkan dengan email suami. Komunikasikan dengan suami agar ketika kita punya agenda yang urgent atau mendesak, suami siap membantu untuk pegang anak-anak. Maklum di sini kami sama sekali tidak pakai ART atau babysitter. Begitu juga apabila suami punya jadwal penting, beliau memberi tahu saya jauh-jauh hari. Sehingga kami bisa saling mengingatkan dan siap membantu,” ujarnya.

Gita juga membikin 4 kuadran kandang waktu untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih cepat. Yakni URGENT/Penting & Mendesak biasanya yang memiliki deadline dan ada konsekuensi jika terlewat batas waktunya. Lalu, kerjakan yang penting, tetapi tidak mendesak.

Untuk kegiatan yang tidak penting, tidak menambah produktivitas dalam berilmu dan beramal, sebaiknya disingkirkan. Scroll media sosial juga dibatasi waktunya dan harus ditentukan skala prioritas juga apa yang dibuka terlebih dahulu. Misalnya email kampus, email pribadi, What’sApp, baru sosial media.

“Untuk urusan yang diutamakan biasanya urusan anak-anak, seperti jadwal anak mandi, makan, mengaji, membacakan buku sebelum tidur, menyiapkan keperluan sekolah dan bentonya. Lalu suami, dan perkuliahan saya. Baru organisasi,” katanya.

Gita yang juga aktif sebagai Koordinator FIM Diaspora dan anggota Indonesian Diaspora Network, juga sering mengikuti seminar yang antara lain digelar IDN. Baginya, peran diaspora dalam menuju Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan Pemerintah tentu sangat diperlukan. Misalnya seperti sang suami, Dr. H. Miftakhul Huda, yang seorang peneliti.

“Bagi para peneliti di luar negeri, dengan kiprahnya turut mencerdaskan anak bangsa, bisa dengan memberikan PJJ dan totalitas dalam berkarya di bidangnya masing-masing. Saya juga beberapa kali memberikan kontribusi melalui organisasi pemberdayaan perempuan ASIA yang saya urus,” katanya.

Gita juga bergabung dengan Institut Ibu Profesional pada tahun 2017. Dia sangat berkesan sebab di forum ini Gita bisa bertemu dengan ibu-ibu seperjuangan dari berbagai penjuru dunia. Dengan berbagai latar belakang dan cerita unik merantau di masing-masing negara.

“Kami disatukan oleh kesamaan misi. Ada Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Luar Negeri. Sungguh sangat bermakna bagi kami. Forum ini menjadikan kami sebagai keluarga besar yang saling mendukung satu sama lain. Dengan dibimbing oleh fasilitator yang berkompeten, kami belajar adab menuntut ilmu dan mengenali diri sendiri sesuai peran yang sudah Allah SWT berikan. Banyak sekali materi yang diajarkan. Selain sesi diskusi, ada pula sesi curhat dan bercanda sehingga suasana WAG (Whatsapp Group) kelas menjadi hangat dan tidak kaku,” katanya.