Cuti Nikah untuk Tes LS
Setelah sekitar 10 bulan bekerja di WSI, saya mengambil cuti nikah. Saya dengan Pita akhirnya menikah, tepatnya pada tanggal 29 Januari 2011 dengan resepsi yang diadakan di Gedung Grha Sabha Permana, UGM, gedung tempat kami diwisuda di Jogja.
Kami berbulan madu di Bali selama seminggu. Ketika kembali ke Jogja setelah bulan madu, tiba-tiba saya mendapat telepon dari Biro Kepegawaian Kemlu.
“Dengan Bapak Arya Daru Pangayunan? Kami menerima berkas lamaran Bapak sebagai Local Staff dan besok kami akan mengadakan tes seleksi.”
Sebenarnya cuti saya masih satu minggu lagi dan saya seharusnya masih bisa bersantai di Jogja. Namun karena tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi LS, saya terbang ke Jakarta untuk mengikuti tes.
Tes LS dilakukan di Biro Kepegawaian Kemlu di lantai 6 Gedung Utama, Kemlu, Pejambon. Ketika itu saya melakukan tes bersama sekitar 30 orang lainnya. Saya yang sudah pernah merasakan tes CPNS Kemlu di tahun 2010 merasa sangat mudah ketika melakukan tes LS dengan model soal yang hampir serupa. Peserta tes LS diminta mengerjakan soal-soal dengan substansi yang hampir sama dengan tes CPNS Kemlu 2010, kemudian mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris, lalu ujian praktek menggunakan komputer – menyalin artikel di MS Word, membuat presentasi di MS Power Point, dan mengolah data di MS Excel. Jika lolos rangkaian tes tersebut, akan dipanggil kembali untuk tes wawancara.
Tanpa berharap apa pun dari hasil tes LS itu, saya kembali aktif bekerja di WSI. Istri turut serta ke Jakarta untuk tinggal bersama di kamar kos kecil saya di Kelapa Gading.
Tidak disangka, baru beberapa minggu berselang, saya kembali ditelepon Biro Kepegawaian Kemlu. Kali ini saya diminta untuk datang tes wawancara. Beruntung jadwal kerja saya cukup fleksibel dan saya dapat bertukar shift dengan rekan kerja saya untuk dapat melakukan wawancara.
Saya diwawancarai oleh 2 orang diplomat dari Biro Kepegawaian, Pak Pof dan Bu Dyah. Saya cukup terkejut karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Pak Pof dan Bu Dyah tidak ada yang menyentuh substansi. Mereka justru berulang kali bertanya apakah saya benar-benar yakin ingin menjadi LS. Mungkin karena mereka melihat kualifikasi saya dan hasil tes tertulis saya – yang asumsi saya – sangat baik.
“Mas Daru yakin ingin jadi Local Staff? Kenapa tidak daftar menjadi diplomat saja?” tanya Pak Pof.
“Sudah Pak, saya sudah mencoba ikut tes CPNS Kemlu 2010 dan tidak lolos.”
“Wah, sayang sekali ya… Ini beneran kamu mau daftar jadi Local Staff?” pertanyaan itu diulang lagi oleh Pak Pof. “Bisa-bisa kamu nanti kerjanya disuruh jadi sopir lho.”
“Dengan senang hati Pak, saya senang nyetir”, jawab saya, karena memang saya suka sekali nyetir mobil.
Melihat antusiasme dan keyakinan saya, saya kemudian dipersilakan keluar. Seusai tes, saya berkenalan dengan peserta tes lain, salah satunya bernama Anggi. Dia menceritakan ketika wawancara, dia ditanya mengenai wawasan nusantara, beberapa pertanyaan substansi, dan diminta menyanyikan lagu daerah atau lagu nasional. Berbeda dengan saya yang hanya ditanya apakah saya benar-benar yakin ingin menjadi LS.
Setelah tes, saya sudah ada feeling dan memiliki keyakinan bahwa saya akan diterima sebagai LS, walau belum memiliki bayangan akan ditempatkan di mana. Sambil menunggu pengumuman, saya masih terus giat bekerja sebagai tutor di WSI. (Bersambung)
- Arya Daru Pangayunan adalah Sekretaris Ketiga Fungsi Politik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires (2020-sekarang).
- Kisah diplomat muda Arya Daru Pangayunan ini diambil dengan seizin redaksi dutanusa.com.














