Selain memotret kegiatan Bapak Dubes dan kegiatan-kegiatan di KBRI, beberapa pengalaman berharga saya sebagai fotografer KBRI adalah ketika ditugaskan untuk mengabadikan momen pertemuan Menlu Marty Natalegawa dengan Aung San Suu Kyi – Pemenang Nobel Perdamaian, dan meliput kunjungan Bapak Marty ke Rakhine State pasca kerusuhan tahun 2012.
Ada momen yang tidak akan saya lupakan, ketika memotret Bapak Marty yang sedang “berdadah-dadah” kepada Aung San Suu Kyi dari mobil, pasca pertemuan di kediaman Aung San Suu Kyi di pinggir Danau Inya. Saking asyiknya memotret, tanpa sadar saya ditinggal oleh konvoi rombongan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak saya, “Are you left behind? Do you need one of my men to take you back to the hotel?” Itu adalah interaksi langsung saya dengan Aung San Suu Kyi yang sangat humble. Saya pun tergagap dan menjawab, “No no, it’s okay, I think I have a driver waiting outside, thank you so much.” Saking syoknya, dengan sedikit gemetar saya pamit jalan keluar gerbang rumah Aung San Suu Kyi. Padahal jika berpikir jernih, saya bisa berfoto sepuasnya dengan Aung San Suu Kyi sebelum pergi.
Kunjungan ke Rakhine State bersama Bapak Marty juga menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah terbang menggunakan pesawat baling-baling ATR 42 dari Yangon ke Sittwe, Ibukota Rakhine State, untuk pertama kalinya saya terbang menggunakan helikopter menuju daerah konflik di Kyauktaw dan Maungdaw. Satu hal yang membuat penugasan itu berkesan adalah bahwa saya menjadi satu-satunya fotografer yang diperbolehkan mengambil gambar (karena saya dari KBRI). Setelah foto-foto saya serahkan ke Biro Administrasi Menteri, Kemlu, foto-foto tersebut ditayangkan di berbagai media nasional dan internasional yang membuat saya cukup bangga atas hasil kerja saya. Pada kunjungan itu, mata dan hati saya menjadi terbuka, melihat bagaimana menyedihkannya keadaan di Rakhine State pasca kerusuhan. Rombongan kami melewati ribuan orang Rohingya dengan wajah tertutup debu membelakangi tenda pengungsian yang terhampar sepanjang mata memandang. Melihat kondisi itu, memicu saya untuk semakin bersyukur atas kenikmatan hidup yang Tuhan berikan kepada saya dan tidak “take life for granted”, karena banyak orang hidupnya tidak seberuntung saya.
Lebih “Menjadi Orang Indonesia”
Berada di lingkungan KBRI, sebagai seorang LS, kita harus aktif membantu berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh KBRI, seperti rangkaian perayaan peringatan HUT RI, peringatan hari keagamaan, berbagai kegiatan masjid, kegiatan amal, kegiatan olahraga, temu masyarakat Indonesia, dan sebagainya.
Dengan bekerja di KBRI justru kita dapat benar-benar merasakan “menjadi orang Indonesia”, sebab ketika berada di tanah air, kita belum tentu akan aktif melakukan dan membantu kegiatan-kegiatan seperti itu.
Makmur Secara Finansial
Selama dua setengah tahun hidup sebagai LS di Myanmar, saya merasa cukup makmur dari segi finansial. Saya sangat beruntung dibandingkan LS yang bekerja di Perwakilan RI di negara lain, karena di Myanmar saya tidak harus membayar untuk tempat tinggal karena statusnya milik KBRI. Kita hanya diminta membayar listrik saja sehingga bisa dibilang gaji saya cukup utuh.
Saya bisa hidup setiap bulan mengandalkan uang lembur. Ya, LS ada jatah lemburnya yang jumlahnya cukup lumayan jika di-Rupiahkan.
Selama tinggal di Yangon, saya bisa punya mobil, home theater di kamar, telepon genggam yang cukup high-end pada masanya, dan hal-hal lain yang menurut saya cukup istimewa. Bahkan saya bisa menabung untuk membeli tanah di Jogja.














