Althea Alina Pangayunan
Proses kelahiran anak pertama saya cukup sulit. Karena komplikasi kehamilian, dari bulan keenam kehamilannya, istri saya harus bedrest di rumah sakit. Cukup sedih rasanya tidak dapat menemani Pita yang sedang berjuang mempertahankan hidup seorang malaikat yang ada di perutnya.
Pada bulan ke-8, saya mendapat kabar bahwa istri saya masuk ruang operasi untuk melahirkan, tepatnya tanggal 19 Oktober 2011. Saya segera meminta ijin Bapak Dubes untuk pulang ke Jogja, namun saat itu ijin tidak langsung diberikan. Sebelum diijinkan pulang, saya ditugaskan untuk mendokumentasikan kunjungan Bapak Marty sehingga saya baru dapat pulang satu minggu setelah kelahiran anak pertama saya yang diberi nama Althea Alina Pangayunan.
Tiba di Jogja satu minggu kemudian, cukup sedih rasanya karena tidak bisa langsung menggendong Althea yang masih berada di dalam inkubator karena kelahirannya yang prematur. Kondisi Pita juga masih sangat lemah sehingga saat itu menjadi masa-masa yang cukup berat bagi saya dan Pita.
Dengan proses kehamilan dan kelahiran yang cukup berat dan memerlukan perawatan intensif, membawa anak istri ke Myanmar tentu belum menjadi opsi sehingga saya harus kembali mencari nafkah sendiri ke Yangon.
Walaupun harus hidup terpisah, dengan bantuan teknologi, saya dapat dengan mudah memantau pertumbuhan Althea. Pita sering mengirimkan foto-foto melalui Blackberry Messenger dan kami juga sering melakukan video-call via Skype.
Menjadi Diplomat untuk Althea
Walaupun sudah nyaman hidup sebagai LS, saya tidak ingin terjebak dalam comfort zone. Saya tidak ingin keenakan menjadi LS yang tidak ada karier kedepannya. Dengan memiliki seorang anak, saya termotivasi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih. Saya ingin anak saya bangga atas pekerjaan Ayahnya. Itulah saat dimana cita-cita saya untuk menjadi diplomat kembali muncul – terlebih lagi, saya sudah mengetahui pekerjaan para diplomat yang sebenarnya selama saya bekerja sebagai LS.
Saya tidak lagi memikirkan diri sendiri. Saya tidak lagi ingin menjadi diplomat untuk diri saya sendiri, namun saya menginginkan sebuah status bagi Althea. Saya ingin Althea memiliki status sebagai “anak seorang diplomat”. Saya gunakan masa-masa sebagai LS untuk belajar dan mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang diplomat yang saat itu kembali muncul.
Pergantian atasan juga semakin meningkatkan semangat belajar saya. Kebetulan oleh Bapak Dubes, Pak Totok ditugaskan menangani Fungsi Ekonomi dan posisi beliau digantikan oleh Pak Sigit Wicaksono. Pak Sigit adalah seorang doktor lulusan Jepang yang sangat humble. Beliau banyak mengajak diskusi terkait substansi dan mengajarkan saya bagaimana membuat analisa politik. Di bawah beliau, tugas saya tidak lagi sekedar mengumpulkan berita, namun juga ditantang untuk membuat analisa untuk didiskusikan bersama. Dari situ saya merasa otak saya semakin terasah dan saya memiliki motivasi yang lebih untuk mengembangkan diri dan merasa siap jika kesempatan tes CPNS Kemlu kembali dibuka. (Bersambung)
Baca Berita Terkait:
2. Kisah Perjalanan Diplomat Muda Indonesia (Bagian 1): Cita-cita dan Cinta
*Arya Daru Pangayunan adalah Sekretaris Ketiga Fungsi Politik di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Dili (2018-2020); dan Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires (2020-sekarang).
*Naskah ini diambil dari dutanusa.com seizin penulisnya Arya Daru Pangayunan.














