Kisah Reni Heimustovu Rela Tinggalkan ASN Demi Suami dan Tinggal di Faroe Islands: Kerja di Pabrik Ikan Berat tapi Hidup Lebih Nyaman

oleh

Reni Heimustovu, diaspora Indonesia yang tinggal di Kepulauan Faroe, Denmark, menjadi perbincangan setelah di media sosial membandingkan kehidupan di negeri asalnya dengan di Faroe. Reni nekat hijrah meninggalkan profesinya yang nyaman sebagai pegawai negeri sipil atau ASN di sebuah kementerian, untuk memilih tinggal bersama sang suami di Faroe. Kini dia mengaku bahagia meski harus bekerja keras di pabrik ikan. Hidup memang pilihan untuk bahagia. Bukan sekadar gengsi pekerjaan.

Oleh Gatot Susanto

RENI bertemu suaminya saat sama-sama tugas belajar selama 2 tahun di Eropa. Reni mengambil S2 dengan beasiswa di Denmark dan Belanda.

“Nah, waktu di Denmark itu saya ketemu suami. Jadi dapat master dan mister,” kata Reni kepada DutaIndonesia.com, sedikit bercanda, Rabu (10/8/2022).

Tentu ada suka duka bersuamikan bule. Namun sejatinya sama saja. Apalagi suami Reni memiliki pemikiran modern. Tidak ada bedanya antara lelaki dan perempuan.
“Kebetulan dapat suami yang pemikirannya sangat modern. Jadi dia tidak berkonsep bahwa dalam berumah tangga perempuan harus ini, laki-laki harus gitu. Jadi posisi kita dalam keluarga ya sama. We are parents. Tidak ada istilah kepala keluarga. Urusan ngurus rumah, ngurus anak , dikerjain bersama. Urusan bayar tagihan pun kita share bersama. Ini bukan karena dia bule. Orang Faroe juga ada yang kaku. Ini sangat tergantung gimana didikan keluarganya,” kata Reni.

Selama proses belajar, Reni dan suami sempat melakukan long distance relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh. Itu terjadi usai Reni menjalani tugas belajar dan mengabdi sebagai ASN di sebuah kemeterian.

“Kami LDR selama 6 tahun. Setelah saya selesai bayar utang ke negara karena tubel (tugas belajar) selama 2n+1, baru saya pindah ke Faroe. Itu pun CLTN dulu 3 tahun. Karena pertimbangan atasan khawatir saya gak betah,” katanya. CLTN yang dimaksud adalah Cuti di Luar Tanggunan Negara.

Dan inilah momen nekat yang dilakukan Reni. Betapa tidak, pekerjaannya sebagai ASN sudah memberinya kenyamanan. Bahkan lingkungan ASN di kantornya cukup akrab seperti keluarga sendiri.

“Jadi sampai detik-detik terakhir masih ditanya (oleh atasan) apa saya akan kembali atau resign,” katanya menirukan pertanyaan atasannya dulu. Dan Reni sudah membulatkan tekad. “Dengan berat hati saya pilih resign,” katanya mengenang momen bersejarah itu.

Selama di perantauan Reni mengaku sedih bila ingat keluarga. “Sedih di sini ya lebih ke rindu keluarga. Kalo di Indonesia saya mau ngapain-ngapaian, perlu apa, saya tahu harus ke mana. Di sini, PR aja. Masih meraba. Tapi saya bersyukur dapat suami yang tidak patriarki,” katanya.

Selama di Faroe Reni pun bekerja. Dia menjadi pekerja di pabrik ikan. Tentu dibanding dengan ASN, bekerja di pabrik kurang mentereng. Lebih enak menjadi ASN di Tanah Air ketimbang jadi pekerja pabrik. Lalu mengapa Reni membuat pilihan yang “aneh” tersebut?

“Dari sisi pekerjaan, jelas jadi ASN lebih enak daripada kerja di pabrik. Namun tantangannya beda. Waktu jadi ASN saya lebih sering dinas ke luar kota, seringnya ketemu anak hanya pada waktu weekend. Kalau tidak dinas sebenarnya bisa, tapi karena macetnya ibukota membuat waktu saya untuk keluarga juga tidak banyak. Beda dengan di Faroe,” katanya.

Selama bekerja pada pabrik di Faroe, secara fisik pekerjaan ini sangat berat. Lelah sekali. Tapi karena fix kerjanya selama 8-16 atau 16-00, plus jalanan di Faroe Islands bebas macet, semua lelah itu terbayarkan sebab dia bisa pulang ke rumah bertemu suami dan anak -anaknya tepat waktu.

“Waktu saya buat keluarga jauh lebih banyak daripada waktu saya di Indonesia bekerja sebagai ASN,” ujarnya.

Tantangan selanjutnya, kata dia, bekerja di pabrik juga monoton. Bayangkan saja, pekerjaannya hanya itu-itu saja setiap hari. Berbeda dengan ASN. Apalagi sering bertugas keluar kota.

“Ya itu-itu aja yang dikerjakan setiap hari di sini. Di satu sisi gampang, gak usah mikir. Di satu sisi, jenuh juga. Sementara jadi ASN kerjanya lebih variatif. Ini tanpa ngomongin soal pemasukan ya,” katanya.

Reni juga bicara soal gaji pekerja di Faroe. “Aku gak mau ngomongin yang ribet dan yang implementasinya mustahil. Tapi satu saja: Transparansi gaji. Di sini urusan gaji-gajian itu jelas. Kalo kerja A gaji sekian. Kerja B gaji sekian. Kalo perlu dicantumin di info loker. Biar yang daftar kerja gak syok. Di Faroe aku bisa tahu gaji tetangga karena jelas diatur. Kalo pekerjaan A gaji xxx, kalo sudah sekian tahun kerja naik jadi xxxy, semua jelas. Gak ada yang kepo-kepo nanya-nanya gaji lo berapa? Terus merasa tidak adil, kok kerjaan sama gajinya gak sama,” katanya.

Hal itu dia katakan karena sistem penggajian di Indonesia berbeda. Apalagi di Indonesia saat rekrutmen CPNS ada peserta yang lolos seleksi CPNS tapi malah mundur karena kaget melihat gajinya yang kecil. “Konyol aja,” kata Reni sambil menunjukkan salah satu perjanjian kerja tahun lalu.
“Ini siapa aja bisa akses. Kebetulan sekarang upahnya udah naik dan tahun depan akan naik lagi,” katanya.

Sebelumnya melalui akun Twitter @Hei_Reni, Reni mengaku tidak sulit mendapatkan pekerjaan di Faroe Islands. Menurut data, angka pengangguran di sana 0,9 persen, lebih kecil dibandingkan di Indonesia, yang menurut data yang diperolehnya berada di angka 5,83 persen di tahun 2022.

Tak hanya itu, pendapatan yang diterimanya sebagai buruh ikan juga berbeda ketika bekerja di Tanah Air. Ia mendapatkan upah per jam dan bisa membawa pulang uang lembur lebih dari gaji normalnya.

“Salary gap di Faroe itu gak kaya sultan vs rakyat jelata. Gaji walikota 50.000DKK vs gaji buruh ikan kaya gw 25.000DKK. Beda 2x lipat. Klo di Indonesia, gaji walikota plus tunjangan dll 60an juta (DKI) vs UMR 4jt an, beda 15x lipat,” ungkap Reni.

“Buruh kasar kaya gw, tukang bangunan, orang bengkel itu upah perjamnya mulai dari 350 ribu per jam sampai 800 ribu per jam. Bedanya sama orang kantoran, mereka gajinya fix bulanan gak ada uang lembur. Kita kalo gak kerja ya ga dapat duit. Tapi kalo lembur, uang lembur 200% dari upah normal,” sambungnya. Selain soal gaji, waktu kerja di Faroe Island juga banyak berpihak pada pekerjanya.
Menurut Reni, setiap pekerja kantoran yang lembur tidak akan mendapatkan ganti uang lembur. Tapi, mereka akan mendapatkan jatah cuti satu hari sebagai gantinya.

Reni sendiri mendapatkan jatah liburan khusus dari tempatnya bekerja. Meski tak digaji, setiap satu tahun sekali, dia akan mendapatkan uang liburan yang setara dengan 11 persen pemasukannya dalam setahun dan tidak dipotong pajak.

“Holiday itu penting banget. Pengusaha sini gak keberatan tutup usaha selama 2 sampai 5 minggu biar bisa liburan. Ini gw dipaksa libur 2 minggu sekarang. Toko pun gitu. Well, we need rest and rewind,” tulisnya.

“Gak kerja = gak diupah. Tapi 1 tahun sekali gw dapat holiday money yang setara dengan 11% dari pemasukan gw setahun. Kalo gw kerja normal tanpa lembur, 2 tahun lalu gw dapat 400 juta setahun. Itung sendiri deh holiday money gw,” katanya.

Meski begitu, pemasukan yang didapatnya itu belum termasuk potongan pajak. Di Faroe Islands, pajak yang dikenakan ke warga cukup besar. Untuk orang yang belum menikah dipotong hampir setengah gajinya, sedangkan Reni yang sudah memiliki empat anak dipotong 30 persen.

Saat menjadi ASN, Reni mengaku mendapatkan gaji sebesar Rp60 juta per tahun. Bila dihitung pendapatannya sekarang dengan potongan pajak, pemasukannya ternyata masih lebih besar saat menjadi buruh ikan. Ia bahkan bisa menabung untuk mudik ke Tanah Air bersama suami dan empat anaknya.

Dalam unggahan di Twitter, Reni juga menceritakan soal kehidupan orang-orang di Faroe Islands. Kehidupan di Faroe Islands sangat berbeda dari di Indonesia. Di negara yang terletak antara Skotlandia dan Islandia itu, biaya pendidikan hingga kesehatan gratis.

Tak hanya itu, birokrasi di Faroe Islands juga tidak ribet. Reni bahkan tidak perlu antre saat mengurus passport untuk buah hatinya.

“Di Faroe sekolah sampe S3 gratis tis tis tis. Kesehatan gratis untuk semua penyakit. Yang bayar itu kalo ke dokter gigi. Di Indonesia, rumah sakit negeri gratis, swasta…ya tergantung swasta mana. Kesehatan…tahu sendiri lah,” ujar Reni. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.