Kalau Anda Menulis, Anda Tak Akan Pernah Kalah
Kegiatan pembimbingan tulis menulis seperti dilakukan oleh Profesor Imam Robandi tersebut adalah sebuah langkah fenomenal. Lain daripada yang lain, Saya belum pernah mengetahui atau mendengar pembimbingan terus-menerus seperti itu. Ratusan bahkan sudah ribuan guru dan dosen dibimbing secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Tanpa lelah. Perlu waktu tersendiri untuk melukiskannya secara utuh dan terperinci.
Keterampilan menulis amat penting. Kata-kata ini mudah diucapkan, tetapi sulit dijalankan. Orang-orang terpelajar, apalagi kelompok mahasiswa atau sarjana, seharusnya melakukan kegiatan itu untuk berkomunikasi. Mereka perlu menyampaikan gagasan-gagasannya, selain juga melakukan persuasi serta hiburan. Namun keterampilan itu tidak bisa jatuh dari langit.
Untuk menjadikan anak-anak sekolah pintar menulis, idealnya harus dilatih sedini mungkin.
Teramat banyak untuk mendaftar apa saja manfaat menulis. Maju tidaknya suatu bangsa dapat dilihat antara lain dari jumlah karya tulis yang diciptakan dan dibaca oleh anggota masyarakat. Karya-karya itu dapat berupa buku, tulisan-tulisan di jurnal-jurnal ilmiah, dan juga artikel-artikel ilmiah populer di media massa lainnya. Berbagai karya tulis itu dibutuhkan untuk mencerdaskan masyarakat.
Manfaat menulis untuk pribadi juga banyak. Menulis merupakan aktivitas yang paling tinggi nilainya bagi manusia terpelajar. Ini wajar karena menulis merupakan keterampilan berbahasa paling tinggi setelah keterampilan mendengar, berbicara dan membaca.
Banyak orang besar atau tokoh yang berhasil dalam bidangnya mengawali kariernya dengan menulis dengan baik. Banyak presiden Amerika yang pintar menulis, di antaranya John F. Kennedy, Bill Clinton, dan Barack Obama. “Kalau Anda menulis, Anda tidak akan pernah kalah,” kata Obama dalam sebuah buku karyanya.
Lee Iaccoca, Presiden Direktur Ford Corporation di era 1970-an, selalu menekankan pentingnya keterampilan komunikasi, termasuk menulis, bagi karyawan pabrik mobil tersebut. Kepada seorang putrinya, Iacocca juga menekankan pentingnya hal tersebut. “Kamu bisa belajar apa saja. Yang paling penting, bahasamu harus baik, lisan maupun tulisan” kata Iacocca.
Mereka yang mampu menulis dengan baik memang pantas bersyukur karena penelitian di sejumlah negara menunjukkan bahwa masyarakat terdidik “semakin sulit” menulis dengan baik. Mantan Menteri Pendidikan Amerika Serikat William Bennett era 1980-an, misalnya, mengakui hal itu. Bennett menunjukkan, kurang dari 40% siswa SMU di Amerika dapat membaca surat kabar dengan baik, sementara hanya 2% yang dapat menulis dengan jelas, “detailed and coherent narrative.” Para ahli pendidikan menduga kecenderungan itu adalah akibat makin dominannya media elektronik. Apalagi sekarang, di era digital pasca 2022.













