Pendidikan Islam Dalam Moderasi Beragama

oleh
Supandi (Dosen Universitas Islam Madura)
Supandi (Dosen Universitas Islam Madura)

Oleh: Supandi
(Dosen Universitas Islam Madura)

AWAL 2025, Indonesia dihuni sekitar 112 juta pengguna internet (penetrasi 74,6%) dan sekitar 143 juta identitas pengguna media social, lebih dari 50% populasi. Artinya, setengah lebih perbincangan publik kini terjadi di ruang daring yang serba cepat, algoritmik, dan rawan bias konfirmasi.

Data menyebutkan 67% pengguna internet Indonesia memakai setidaknya satu platform media social seperti YouTube sendiri menjangkau sekitar 143 juta pengguna di Indonesia pada Januari 2025. Fenomena ini menegaskan besarnya “kelas publik” baru yang belajar, bersosial, berdebat, bahkan beragama disediakan di layar ponsel. (Data Reportal – Global Digital Insights)

Arus informasi digital yang seperti ini meningkatnya intoleransi dan ekstremisme, terutama di ruang media sosial. Platform yang awalnya dimaksudkan untuk memperluas wawasan dan menjalin persahabatan lintas batas, kini sering berubah menjadi arena debat panas, adu klaim kebenaran, bahkan caci maki yang tak jarang memecah belah.
Pendidikan Islam memegang peranan strategis dalam menangkal segala bentuk ektrimisme pemahaman agama yang berlebihan. Karena Pendidikan Islam juga proses pembentukan karakter dan akhlak yang seimbang.

Moderasi beragama menjadi kata kunci penting untuk menavigasi kehidupan berbangsa yang plural, apalagi di negara sebesar dan seberagam Indonesia. Perpaduan Pendidikan Islam dan moderasi beragama adalah bentuk dari ikhtiyar dalam meraih sebuah kedamaian.

Media sosial saat ini ibarat pasar bebas opini: siapa pun bisa bicara, kapan pun, dari sudut pandang apa pun. Masalah muncul ketika kebebasan itu dibarengi dengan minimnya literasi agama dan literasi digital. Muncul dua kutub ekstrem, satu mengklaim kebenaran mutlak hingga menafikan yang lain.

Jika diajarkan secara benar Pendidikan Islam mampu menjadi benteng dua ekstrem ini. Pendidikan Agama Islam yang berisi nilai-nilai tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) sudah lama diajarkan. Tantangannya bagaimana nilai-nilai ini dapat diinternalisasi menjadi sikap nyata saat berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Guru agama, ustadz pesantren, dan pendidik Islam memiliki peran sebagai “influencer moral” yang sesungguhnya. Bukan sekadar pengisi ceramah, tetapi teladan hidup yang menunjukkan bahwa menjadi moderat bukan berarti lemah, melainkan kuat karena mampu menahan diri dan menghargai perbedaan.

Politik dan Isu Kebangsaan

Di tahun-tahun politik Indonesia sering membawa hawa panas ke ruang publik. Isu agama, etnis, dan identitas sering dijadikan “komoditas politik”. Dampaknya polarisasi sosial semakin menganga. Dalam konteks ini,pendidikan tampil sebagai penyejuk, yang menjadi wadah yang memisahkan antara sikap kritis dan sikap provokatif.

Pendiri bangsa yang berlatar belakang pendidikan Islam mampu memadukan kecintaan pada agama dengan komitmen kebangsaan. Konsep hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup. Pendidikan Islam hari ini harus menghidupkan kembali semangat itu.

Itulah sebabnya pendidikan Islam harus memadukan transfer of knowledge dan transfer of values. Dalam dunia digital yang serba cepat, akhlak menjadi “rem” yang menjaga kita dari perilaku destruktif. Tanpa akhlak, teknologi bisa menjadi senjata makan tuan. Dengan akhlak, teknologi justru menjadi sarana dakwah dan kemajuan.

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan

Salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah lahirnya pemimpin yang mumpuni. Pendidikan Islam memiliki modal besar untuk itu: kurikulum yang menanamkan visi, misi, dan etos kepemimpinan sejak dini. Seorang pemimpin yang lahir dari pendidikan Islam idealnya bukan hanya cerdas mengelola kebijakan, tetapi juga punya kesadaran moral dan spiritual yang tinggi. Ia paham bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan sekadar jabatan.

Pemimpin seperti ini akan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan pembangunan dan keadilan sosial, antara kemajuan ekonomi dan kelestarian nilai. Pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan pemimpin masa depan tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus memberi ruang praktek kepemimpinan di lingkungan sekolah, kampus, dan masyarakat.

Tugas ideal pendidikan Islam diantaranya adalah : pertama melakukan penguatan literasi Agama dan literasi digital dilakukan dengan (paket ganda). Kedua menjahit kurikulum dengan mandate nasional. Ketiga menguatkan role mdel Pendidikan. Keempat menciptakan ekosistem Lembaga Pendidikan yang “ramah beda”. Keempat menggalakkan implementasi akhlakul karimah ke digital civic.

Penyesuaian Pendidikan Islam melalui upaya-upaya tersebut akan menguatkan dan meneguhkan implementasi moderasi beragama yang ujungnya akan tercipta sebuah keharmonisan dan kerukunan serta kedamaian dalam menjalankan social keagamaan.

Pendidikan Islam adalah salah satu modal sosial terkuat untuk merawat kerukunan ini. Nilai ukhuwah (persaudaraan) yang diajarkan dalam Islam memiliki tiga dimensi, ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Ketiganya saling menguatkan.

Moderasi beragama bukan berarti memotong ajaran agama agar sesuai selera zaman, akan tetapi adalah cara memahami agama secara utuh, mengambil intinya yang penuh rahmat, tanpa kehilangan prinsip. Pendidikan Islam memiliki semua instrumen untuk itu: kurikulum yang kaya nilai, tenaga pendidik yang menjadi teladan, dan jejaring sosial yang luas.

Seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, ormas, lembaga pendidikan, guru, orang tua bersinergi untuk menghidupkan moderasi beragama sebagai budaya, bukan sekadar wacana. Di tengah polarisasi sosial yang semakin terasa, peran pendidikan Islam sangatlah vital.

Ia bukan hanya benteng pertahanan, tetapi juga jembatan yang menghubungkan perbedaan. Dan jika kita berhasil menghidupkan peran ini, maka Indonesia akan memiliki generasi yang bukan hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga rendah hati, toleran, dan siap memimpin dengan hati. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.