
Tradisi Bersepeda
Bukan hanya itu. Sejak awal tinggal di Nijmegen, Zaimatus sudah kepincut dengan tradisi bersepeda warga kota. Bukan sekadar untuk olahraga sesaat mengikuti tren seperti di Indonesia, tapi hampir semua aktvitas warga sehari-hari dilakukan dengan bersepeda.
“Yang menarik buat saya memang tradisi bersepeda ini. Sepeda menjadi transportasi andalan hampir seluruh penduduk kincir angin ini. Tak pandang bulu apa pun status sosial mereka, selama masih bisa ditempuh dengan bersepeda mereka akan dengan senang hati mengayuh sepeda. Tidak hanya itu, panas terik dan dinginnya salju, tidak mengurungkan niat mereka untuk bersepeda,” katanya.
Zaimatus Sadiyah selalu ingat soal teladan dari kehidupan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah contoh konkret sosok ideal dalam rumah tangga, yang tanpa ragu membantu para istri-istri Beliau, menyelesaikan urusan domestik. Beliau juga yang mengajarkan kita untuk bisa menjaga kebersihan diri serta menghargai setiap makhluk Allah apa pun bentuknya karena sejatinya setiap ciptaan Allah bertasbih kepada-Nya,” katanya.
Rasulullah SAW bahkan juga memberi contoh agar umatnya suka berolahraga, meski bukan dengan bersepeda, melainkan berkuda dan memanah.
“Namun sayang kita belum mampu menerjemahan pesan-pesan Beliau dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita masih saja membuang sampah sembarangan serta mengklasifikasikan pekerjaan berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Ini mungkin yang membuat kita disindir, bahwa orang Belanda lebih islami dibanding kita hehehe…,” ujarnya.
Sebagai masyarakat minoritas secara agama di negeri Kincir Angin, tentu saja Zaimatus sangat rindu suasana perayaan keagamaan di Tanah Air. Baik Ramadhan, Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha.
“Yang kami kangeni adalah suasana religius khas Islam seperti saat Ramadhan atau perayaan-perayaan hari besar Islam. Meski keberadaan masjid bukan hal yang sulit untuk ditemukan di seantero Belanda, namun tentu saja berbeda dengan kondisi di Indonesia,” ujarnya.
Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, alhamdulillah, tidak ada masalah bagi WNI yang tinggal di Belanda. Harga sayuran, buah-buahan, dan makanan khas Indonesia lain, masih terjangkau kantong mahasiswa. Tidak hanya itu, toko-toko yang menyediakan daging dan makanan halal, juga sangat mudah ditemukan di negeri ini.
“Alhamdulillah ala kulli haal,” katanya. Mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah dalam keadaan apa pun sungguh membahagiakan.
Dibanding negara-negara lain di Eropa, Belanda memang termasuk yang sangat “homy”. Selain karena jumlah masyarakat Indonesia yang cukup banyak di negeri ini, juga karena banyaknya toko-toko yang menjual makanan dan bumbu-bumbu khas Indonesia. Tentu hal ini tidak lepas dari sejarah panjang penjajahan Belanda di Nusantara.
Masyarakat Indonesia yang ada di Belanda tergabung dalam berbagai organisasi. Ada yang aktif di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), ada yang aktif di ormas seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dan ada juga yang berafiliasi pada partai politik Indonesia. “Semua merupakan simbol cinta tanah air dari para diaspora Indonesia di Belanda,” ujarnya.














