Bukan Covid-19
Namun Fatimah mengingatkan keluarga PMI yang meninggal di Hongkong, khususnya keluarga Sri yang sedang berkabung di Tanah Air. PMI yang meninggal di Hongkong dapat dipastikan tidak terkena Covid-19 sehingga proses pemakamannya di daerah asal PMI tersebut tidak perlu dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. Apalagi pengiriman jenazah ke Indonesia disertai dengan surat/dokumen yang menjelaskan status jenazah. Karena itu, dia pun usul, agar jenazah tetap dibuka lalu dimakamkan secara Islami, tidak dalam posisi masih di peti mati.
“Para PMI ini kan pahlawan devisa, setidaknya bagi keluarganya, sudah bekerja jauh di negeri orang untuk mencari nafkah bagi keluarga, sehingga harus diberi penghargaan, termasuk saat mereka meninggal. Ya, mereka ingin dimakamkan secara Islami, tidak di dalam peti mati yang memang dibuat sangat kuat. Tapi dibaringkan di tanah sesuai ajaran Islam. Bila tidak, saya kok kasihan. Padahal, dia tidak Covid-19. Saya saja yang memandikan jenazah tidak pakai APD yang seperti astronot itu,” katanya.
Hj Fatimah juga sedih sebab hampir setiap hari dia memandikan jenazah. Yang menyedihkan, banyak di antara jenazah itu warga Jawa Timur. Ada yang dari Lumajang, Blitar, Ponorogo, dan daerah lain. Lebih dari itu, usia mereka masih cukup muda. Jenazah yang baru dia tangani berusia 48 tahun, ada yang 40 tahun, bahkan ada yang umurnya 30 tahun sudah meninggal dunia di Hongkong.
“Umur memang hak Allah, sudah sesuai kontraknya. Tapi saya melihat ada faktor lain mengapa banyak PMI di Hongkong meninggal dunia dalam usia yang menurut saya masih relatif muda. Termasuk PMI yang asal Jawa Timur,” katanya.
Menurut dia, PMI di Hongkong tidak terlalu berat bekerja di rumah majikannya. Sementara gaji mereka termasuk besar. Ya, sekitar Rp 10 juta per bulan. Dengan gaji yang lumayan besar, mereka bisa hidup enak. Kondisi ini yang membuat PMI terlena dengan gaya hidupnya, yang seringkali tidak terkontrol. Selain gaya berbusana yang modis, termasuk juga dalam pola makan yang tidak sehat.
“Maaf, saya saat berkumpul dengan PMI anggota dan pengurus Muslimat setiap Minggu, selalu saja saya dibilang cerewet karena suka menasihati anak-anak PMI ini, agar memperhatikan kesehatan. Agar peduli gaya hidup sehat. Mungkin sisihkan gaji untuk dana kesehatan, untuk periksa dokter, tapi anak-anak tidak mau dan sering bilang kalau saya cerewet. Padahal saya kan tahu hampir setiap hari memandikan jenazah PMI yang menurut saya tidak terlihat sakit tapi kok meninggal,” ujarnya.
Pola makan PMI, kata dia, kadang berlebihan. Selain makanan enak seperti junk food, porsinya juga kadang besar. Karena itu, banyak juga PMI di Hongkong yang tubuhnya gemuk. Bahkan obesitas yang kalau jalan terlihat agak kesulitan.
“Ada yang gemuknya mengalahkan majikannya hehehe. Ini jelas penyakit kolesterol karena pola makan dan gaya hidup tidak sehat tadi. Saya tidak lelah menasihati mereka, tidak masalah dibilang cerewet sebab tujuan saya agar anak-anak sehat, sebab mereka tumpuan keluarganya di kampung halaman,” katanya. (gas)














