Ijazah Memberi Anda Gelar,
Tetapi Bukan Arah
Oleh Ulul Albab
Akademisi FIA Unitomo Surabaya
Ketua ICMI Jatim (2021-2026)
“Tidak semua orang yang berjalan akan sampai. Banyak yang tersesat bukan karena tidak mampu melangkah, tetapi karena tidak mengetahui ke mana harus menuju.”
Beberapa hari setelah wisuda, hidup mulai kembali seperti biasa. Toga disimpan di dalam lemari. Karangan bunga mulai layu. Foto-foto wisuda memenuhi media sosial. Ucapan selamat berdatangan dari keluarga, sahabat, dan para dosen. Semua terasa indah. Semua terasa membanggakan.
Namun perlahan-lahan, kehidupan nyata mulai mengetuk pintu. Pertanyaan-pertanyaan baru berdatangan. “Sudah diterima kerja di mana?”, “Kapan lanjut kuliah?”, “Berapa gajinya?”, “Sudah ada rencana lima tahun ke depan?”
Sebagian mampu menjawab dengan mantap. Sebagian lagi hanya tersenyum. Bukan karena tidak memiliki kemampuan. Tetapi karena belum memiliki arah.
Saya sering berpikir, ada sesuatu yang selama ini kurang kita bicarakan di perguruan tinggi. Kita para dosen dan pendidik mengajarkan mahasiswa bagaimana menyelesaikan skripsi. Kita mengajarkan teori, metodologi, statistik, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu. Namun sangat sedikit waktu yang kita gunakan untuk mengajarkan pertanyaan paling mendasar: “Untuk apa semua ilmu itu akan digunakan?”
Padahal, pertanyaan itu jauh lebih menentukan daripada nilai yang tertulis di dalam transkrip akademik.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang cerdas gagal bukan karena kekurangan pengetahuan. Mereka gagal karena kehilangan orientasi. Dan sebaliknya, tidak sedikit orang biasa yang mampu memberikan dampak luar biasa karena sejak awal memahami tujuan hidupnya.
Ijazah memang penting. Ia menjadi bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan proses akademik tertentu. Tetapi ijazah tidak pernah menjamin seseorang akan hidup dengan benar. Tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang jujur. Tidak serta-merta menjadikan seseorang profesional yang bertanggung jawab. Tidak pula menjamin seseorang akan tetap berintegritas ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan, uang, atau popularitas.
Karena itu, saya percaya bahwa nilai terbesar dari pendidikan tinggi bukanlah gelar yang disandang seseorang, tetapi perubahan cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang hidup.
Perguruan tinggi yang berhasil bukan hanya menghasilkan lulusan yang mudah memperoleh pekerjaan. Tetapi yang melahirkan manusia yang tahu mengapa ia bekerja.
Ada perbedaan besar antara orang yang bekerja hanya untuk memperoleh penghasilan dengan orang yang bekerja karena memahami panggilan hidupnya. Yang pertama mudah kehilangan semangat ketika menghadapi kesulitan. Yang kedua justru bertumbuh karena setiap tantangan dianggap sebagai bagian dari pengabdiannya.
Inilah sebabnya mengapa saya mengajak para lulusan muda untuk tidak terburu-buru mendefinisikan kesuksesan. Karier memang penting. Pendapatan juga penting. Namun ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada keduanya. Yaitu menemukan alasan mengapa kita menjalani semua itu.
Jika tujuan hidup hanya berhenti pada jabatan, maka ketika jabatan itu hilang, hidup pun kehilangan makna. Jika tujuan hidup hanya berhenti pada kekayaan, maka tidak akan pernah ada kata cukup. Tetapi jika tujuan hidup adalah memberi manfaat, maka setiap profesi akan menjadi ladang pengabdian.
Dokter dapat mengabdi. Guru dapat mengabdi. Insinyur dapat mengabdi. Pengusaha dapat mengabdi. Petani dapat mengabdi. Bahkan seorang pegawai biasa pun dapat mengabdi dengan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Pada akhirnya, dunia tidak akan terlalu lama mengingat IPK kita. Dunia akan lebih lama mengingat manfaat yang pernah kita berikan. Karena itu, sebelum Anda sibuk menyusun rencana karier lima tahun ke depan, luangkan waktu untuk menyusun sesuatu yang lebih penting.
Rencana kehidupan
Tuliskan siapa diri Anda ingin menjadi. Nilai apa yang tidak akan pernah Anda jual. Prinsip apa yang akan tetap Anda pegang ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Dan warisan seperti apa yang ingin Anda tinggalkan ketika perjalanan sembilan belas tahun ini mencapai garis akhirnya. Sebab sesungguhnya, Indonesia Emas tidak menunggu orang-orang yang hanya memiliki ijazah. Indonesia sedang menunggu manusia-manusia yang memiliki arah.
Catatan Indonesia 2045
Negara yang besar tidak dibangun oleh gedung-gedung yang tinggi, melainkan oleh manusia-manusia yang memiliki tujuan hidup yang tinggi. Maka, sebelum membangun karier, bangunlah terlebih dahulu arah kehidupan. Sebab arah akan menentukan langkah, dan langkah-langkah jutaan anak muda hari ini akan menentukan arah Indonesia pada tahun 2045.
“Ijazah membuka pintu kesempatan. Tetapi arah hiduplah yang menentukan ke mana Anda akan melangkah.” (*)













