Tak Mau Berzakat di ‘Omplong Keliling’, PMI Hongkong Beralih ke BAZNAS

oleh
Suasana silaturahim Baznas dengan PCI Muslimat NU Hongkong-Macao.
[ngg src=”galleries” ids=”60″ display=”basic_thumbnail” thumbnail_crop=”0″]


HONGKONG| DutaIndonesia.com – Para pekerja migran Indonesia (PMI), khususnya ibu-ibu anggota Pengurus Cabang Internasional Muslimat Nahdlatul Ulama (PCI MNU) Hongkong-Macao, antusias saat mendapat penjelasan terkait zakat–juga infak dan shodaqoh– yang dipaparkan tim BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional). Tim BAZNAS yang dipimpin oleh Kolonel Caj (Purn) Drs Nur Chamdani dan Muhammad Arifin Purwakananta itu menggelar acara Silaturahim dengan PCI Muslimat NU dan Pondok Fatimah Hongkong pada Minggu (11/6/2023).

Selain itu, selama beberapa hari tim BAZNAS juga melakukan silaturahim dengan sejumlah pihak lain untuk sosialisasi zakat–juga infak dan shodaqoh.

“Alhamdulillah, ibu-ibu Muslimat Hongkong dan Macao yang hadir serta para PMI antusias, sangat senang, dengan penjelasan bapak-bapak dari pimpinan BAZNAS. Sebab, mereka selama ini masih awam, banyak yang tidak tahu, terhadap masalah zakat, juga infak dan shodaqoh,” kata Ketua PCI Muslimat NU Hongkong- Macao, Hj Fatimah Angelia, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (14/6/2023).

Begitu antusiasnya, warga Muslimat Hongkong, kata Fatimah, waktu penyampaian dari BAZNAS yang terbatas dianggap masih kurang. Dia menilai sosialisasi dari BAZNAS itu sangat penting sebab selama ini para PMI atau anggota Muslimat NU Hongkong berzakat, infak, atau shodaqoh melalui sejumlah pihak yang dianggap “liar” alias tidak berizin.

Pengumpul zakat ini bekerja dengan cara konvensional mengingat mereka berkeliling hanya membawa “omplong” atau kotak guna menampung dana zakat, dan juga infak atau shodaqoh dari para PMI.

Fatimah pun yakin bila dikelola dengan manajemen yang baik, melalui BAZNAS atau perwakilannya di Hongkong, dana amal dari PMI yang terkumpul untuk umat, nantinya sangat besar.

“Sangat antusias. Sangat semangat, sepertinya, waktu acara silaturahim kemarin itu kurang. Saya sampaikan, bila sehari saja 1 dolar HK, sudah berapa jika saat ini PMI di Hongkong ada 160.000 orang. Selama ini liar. Pengumpul zakat hanya bawa omplong masing-masing. Mereka tidak terdaftar tapi pada ngumpulin zakat, juga infak, dan shodaqoh,” katanya.

Sebelumnya Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani juga sudah beraudiensi dengan Baznas di Kantor Pusat BAZNAS Matraman, Jakarta Timur. Saat itu disambut langsung oleh Prof Dr KH Noor Achmad. Tujuan BP2MI mengadakan audiensi kepada BAZNAS untuk berdiskusi dan merencanakan kerjasama pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BAZNAS di negara penempatan PMI. Salah satunya di Hongkong.

“Kami ingin mendapat pengetahuan dan arahan dari BAZNAS, bagaimana UPZ dapat terbentuk di negara penempatan PMI, sehingga shodaqoh bagi PMI dan keluarganya dapat berjalan secara optimal,” ujar Benny saat itu.

Benny membeberkan contoh kasus keluarga PMI. Misalnya anak dari PMI yang ditinggal sendirian di Indonesia, tanpa ada kehadiran dan didikan yang layak dari orangtuanya. “Anak atau keluarga dari PMI sebagai penerima zakat, dapat dimanfaatkan untuk pelindungan mereka, khususnya di bidang pendidikan. Karena pada Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2017 pelindungan pada keluarga PMI termasuk pada aspek pelindungan hukum, ekonomi, dan sosial,” papar Benny.

Ketua BAZNAS Republik Indonesia, Prof Dr KH Noor Achmad menjelaskan BAZNAS adalah Lembaga pemerintah resmi dan satu-satunya yang memiliki tugas dan fungsi menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah pada tingkat nasional. UPZ sendiri adalah organisasi resmi yang dibentuk BAZNAS, tersebar di tingkat provinsi sampai turun pada tingkat Kabupaten/Kota.

“Kita mempunyai jaringan di seluruh 34 provinsi Indonesia, 463 jaringan BAZNAS di kabupaten/kota, serta bekerja sama dengan 23 Kementerian, 26 Lembaga Negara, 29 BUMN, dan 58 lembaga swasta. BAZNAS mengajukan penerima manfaat sebayak 56 juta masyarakat Indonesia,” kata Noor Achmad.

Berbagai contoh penerima manfaat zakat, infaq, dan sedekah, dicontohkan oleh Noor berupa, pemberian gerobak dagang dan dana sebesar 15 juta pada 1000 orang, pembinaan usaha kepada para santri yang disebut Santripreneur, serta berbagai program internasional seperti pemberdayaan hasil perkebunan layak ekspor.

“Kita punya program Z-Chicken, program pembinaan bagi para mustahik, atau orang yang berhak menerima zakat, untuk mengolah produk ayam sampai hasil jadi. Kita juga punya program ZMART, pembinaan untuk membuat minimarket, yang bekerjasama dengan toko retail. Bahkan pada event Santripreneur, bidang usaha yang paling diminati para santri adalah laundry,” ujarnya.

Noor berharap agar tim teknis dan bidang hukum pada BP2MI dan BAZNAS, agar segera bertemu dan bekerja merumuskan rincian detail dan dasar hukumnya, agar UPZ dari, dan untuk PMI dapat terlaksana secara baik dan terstruktur.

“Hubungan 2 lembaga kita akan akrab, karena kepentingan yang sama. Tagline BAZNAS adalah Aman Syar’I, Aman Regulasi, Aman NKRI,” tutup Noor.

Tak hanya itu, Benny memaparkan fakta bahwa 9.1 juta PMI resmi tercatat oleh World Bank bekerja di luar negeri. Artinya, 4.5 juta PMI bekerja secara prosedural, serta 4.6 juta PMI bekerja secara unprosedural. Jumlah PMI yang besar tersebut menjadikan sektor PMI sebagai penghasil kedua terbesar devisa negara sejumlah 159.6 triliyun per tahunnya.

“Dengan arahan dari BAZNAS, devisa terbesar kedua tersebut dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan ummat. Butuh sinergi antara BAZNAS dan BP2MI untuk optimalisasi bantuan untuk PMI dan keluarganya,” ungkap Benny. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.